Berpuisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi

klinikpuisiADALAH penting bagi seorang penyair untuk menulis dengan kesadaran tentang sejarah puisi.  Ia mau tak mau berada dalam linimasa, rangkaian pencapaian puisi seiring berjalannya zaman di negerinya, di mana puisi ditulis dalam satu pilihan sistem dn potensi bahasa (langue) yang sama, dalam pemikiran tentang estetika dan fungsi puisi yang berterusan.

Karena sejarah – memakai penjelasan Kuntowijoyo (1995; 2013) membicarakan masyarakat dari segi waktu, maka sejarah puisi, dengan begitu, juga adalah pembicaraan tentang puisi dalam kaitan perjalanan waktu yang telah ia tempuh.

Maka dengan kesadaran terhadap perjalanan sejarah puisi di negerinya, penyair bisa melakukan empat hal berikut ini: (1)  atau sekadar membuat pengulangan,  (2) atau menjaga kesinambungan, (3) dia membawa sebuah perkembangan baru, (4) atau dia melakukan perubahan.

Pengulangan. Gaya ucap, pilihan kata, perumpamaan, pembentukan metafora, dan pemakaian perangkat puitika lainnnya, pada seorang penyair, bisa jadi sangat khas dan sedemikian memikatnya, sehingga penyair lain ingin mengulang memakai atau meminjam kekhasan itu. Pengulangan juga terjadi pada tema. Tema cinta kasih, misalnya, wilayahnya sedemikian luasnya sehingga kita tak bisa menghindar dari pengulangan.   

Kesinambungan. Ada kalanya penyair hanya ingin mengadopsi gaya atau bentuk lama yang sudah ada. Ia menulis dalam bentuk pantun, gurindam, atau syair. Atau kwatrin. Atau soneta. Atau ia ingin menggubah sajak dalam lirik tenang.

Perkembangan. Penyair mengembangkan puisi ketika puisi yang dulu masih sederhana kini menjadi lebih kompleks. Kemampuan dan potensi estetis bahasa digali, dibongkar, diperbaharukan, dicabar batas-batasnya, dan terus dimaksimalkan.

Perubahan. Para penyair kita yang datang dengan sikap kepenyairan yang unik, sikap terhadap bahasa dan puisi yang orisinial, yang menawarkan karya avant garde, adalah mereka yang datang dengan tawaran perubahan. Pengaruhnya besar dan berdampak lama. Meskipun ia bisa saja ditolak pada awalnya karena belum sepenuhnya dimengerti.

Empat hal tersebut penting. Dengan menulis puisi apa saja, penyair Indonesia menyinambungkan perjalanan puisi Indonesia, dengan mengulang apa yang sudah pernah ada, maka penyair berpeluang melihat kemungkinan mengembangkan sesuatu yang baru atau bahkan menemukan jalan untuk menawarkan perubahan.

Tapi, ah, lupakan saja itu, jika itu mengurangi atau bahkan mengganggu kenikmatanmu menggauli puisi.

Bacaan: “Pengantar Ilmu Sejarah” oleh Kuntowijoyo (Tiara Wacana, Yogyakarta; 1995, 2013)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s