Vitalisme, dari Chaotisch ke Kosmisch

klinikpuisi
  • Save
CHAIRIL ANWAR (1922-1949) betul-betul mempersiapkan diri untuk menjadi penyair besar. Itu dilakukannya antara lain dengan berusaha memahami bahkan memperdalam filsafat manusia. Ia membicarakan soal itu dengan sahabat dan mentornya LK Bohang (yang  meninggal di tahun 1945), dan tentu dia juga membaca banyak buku.

Ia memasuki kesenian, seni puisi, dengan semangat yang menyala.  Seperti bertarung antara hidup dan mati. Berkesenian, bagi Chairil, adalah tindakan mempertaruhkan kehidupannya. Vitalisme, katanya, (adalah) semangat hidup yang berkobar-kobar.

Vitalisme adalah aliran dalam filsafat manusia yang mendasarkan pemahamannya pada anggapan bahwa kenyataan sejati itu adalah energi, daya, kekuatan, atau nafsu yang irasional, di luar rasio.

“Vitalisme! Tenaga hidup! Api hidup! Mata Ida bertanya, kulihat. Kalau-kalau vitalisme ini mungkin diresapkan dalam seni? Mengapa tidak, adik. Bahkan sifat ini tidak mungkin dihilangkan atau ditiadakan,” kata Chairil dalam pidato radionya pada 1 Juli 1943.

Vitalisme berbeda dengan materialisme yang mengutamakan materi atau benda fisik, apa yang menempati ruang dan waktu. Vitalisme berbeda dengan idealisme yang menganggap kenyataan sejati adalah apa yang bersifat spiritual, yang menganggap apa yang membenda hanyalah manifestasi dari roh, Roh Sejati.

Menulis puisi bagi Chairil, dengan kerangka berpikir sebagai seorang vitalis, adalah mengendalikan aliran, deraan, hantaman dari energi, daya, kekuatan, dan nafsu, segala yang irasional itu menjadi keindahan.

Katanya, bagiku keindahan adalah persetimbangan perpaduan dari getaran-getaran hidup. Apa yang menggetarkan hidup itu? Ya, energi, daya, kekuatan, dan nafsu itulah. Vitalitas dan keindahan ada di dua ujung yang berbeda dari sebuah proses. Keindahan hanya bisa dicapai dengan vitalitas.

“Vitalitas adalah sesuatu yang tidak bisa dihelakkan dalam mencapai keindahan,” kata Chairil. Ia lalu membuat sebuah kesimpulan yang kuat dan indah, dan ini saya kira harus kita catat sebagai sumbangan pemikiran penting dalam sejarah puisi kita. Katanya Chairil, dalam seni: vitalitas itu chaotisch voorstadium dan keindahan adalah kosmisch eindstadium.

Jadi, vitalitas itu adalah kondisi awal (yang chaotisch, yang kacau, yang berantakan)  yang harus ditaklukkan oleh penyair untuk mencapai atau sampai pada  keindahan wujud puisi sebagai kondisi akhir (yang kosmisch, yang damai tapi menyimpan gelegak, yang rumit tapi tersistem).

 

 

 

Baca juga
Jalan Menuju Puisi (15): Gelombang yang Senantiasa Kembali
Jalan Menuju Puisi (15): Gelombang yang Senantiasa Kembali

Oleh Edward Hirsch Sebuah puisi bergerak seperti gelombang, melarutkan yang tertulis padanya, dan kita terlibat bersama arusnya saat ia bergerak Baca

Daun-Daun Berguguran – Grazia Deledda
Daun-Daun Berguguran – Grazia Deledda

Grazia Deledda. Nama lengkapnya adalah Grazia Maria Cosima Damiana Deledda (28 September 1871 – 15 Agustus Baca

Allium, 6
Allium, 6

MATAKU ladang tangisan, tempat aku menanam kesedihan Hidupku sebuah musim yang panjang: musim mengolah lahan Dari panen terakhir, benih terbaik, Baca

Selamat Mendaki, Selamat Merayakan Hari Puisi
  • Save

Oleh Hasan Aspahani JALUR pendakian ke puncak sajak itu selalu ada dua: jalur biasa, dan jalur rintisan. Jalur biasa adalah Baca

5 thoughts on “Vitalisme, dari Chaotisch ke Kosmisch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap