Pamflet untuk Sebuah Aksi (atau: Kita Harus Berteriak dengan Mulut Kita Sendiri)

KITA harus turun ke jalan
karena poster sudah dirancang rapi
dan spanduk sudah dicetak banyak sekali
dan bensin sudah diisi
dan api sudah disulut dan disebarkan di media sosial
karena kita harus berteriak dengan mulut kita sendiri

Sebagai orang yang selalu kalah
kita bahkan tak pernah bisa masuk ke gelanggang tanding
halaman rumah kita sendiri
kita ditendang-tendang ke arah jala di pinggir jalan sejarah
oleh kaki-kaki yang turun dari kendaraan mewah

Kita punya banyak alasan untuk selalu marah
Karena itu kita harus turun ke jalan

Sepanjang jalan nanti
kita akan melewati kafe, restoran asing yang tak pernah kita singgahi
mal-mal yang memajang baju dan sepatu
merek-merek luar negeri yang tak terbaca pada label pakaian kita
barang-barang yang dikerjakan oleh saudara-saudara kita
buruh-buruh yang dibayar murah
di pabrik-pabrik pinggiran kota
tak jauh dari rumah dan musala kita

Sepanjang jalan nanti
kita akan melihat kantor-kantor pusat bank
tempat orang-orang kaya menyimpan kekayaannya
ya, ya, tentu saja, di antaranya adalah uang korupsi
yang dicuri dari pajak yang berbau keringat kita
atau uang gaji para birokrat pejabat yang kita biayai kemewahannya.

Tapi kita tidak turun ke jalan karena itu

Jangan. Jangan, kita memang miskin
dan mereka kaya. Jangan marah pada mereka
mereka sudah bekerja keras, dan pintar,
kalau kita marah karena itu, mereka akan bilang kita dengki
sebab kita malas dan bodoh.

Kita turun ke jalan
Karena kita harus berteriak dengan mulut kita sendiri

Di sepanjang jalan nanti kita akan meneriakkan nama-nama Tuhan
dalam koor dan akapela,
dalam kakoponi yang membuat mereka ketakutan dan menutup telinga
mereka takut bukan karena kita berteriak
mereka takut karena mereka tahu Tuhan mendengar teriakan kita.

Nanti kita akan lewat di gedung Dewan Perwakilan Rakyat
tak usah singgah, mereka tidak ada di sana
mereka sedang reses
mereka sedang sembunyi di ruang rapat hotel yang sejuk
mengatur siasat tentang apa yang bisa dimanfaatkan
dari teriakan kita di jalan
atau mencari saat yang tepat untuk turut bergabung
dan berteriak bersama kita

Mereka ingin nanti teriakan itu menjadi suara
yang mengantarkan mereka kembali duduk di kursi malas
di ruang-ruang rapat yang senyap-sunyi itu

Kit harus ke jalan dan berteriak dengan mulut kita sendiri
karena kita tak akan pernah
punya kesempatan bicara di acara yang dipandu Karni Ilyas
dan televisi selalu lupa
bahwa suara rakyat adalah suara dari Tuhan yang diam,
yang selalu kau kira bisa kau dustai dengan mars partaimu,
orasi dengan retorikamu yang buruk,
dan rayuan iklan-iklanmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s