Pamflet untuk Presiden yang Marah (di Sebuah Negeri yang Tak Nyaman karena akan Menyelenggarakan Pemilihan Umum)

JIKA engkau bertanya
sebutkan lima nama mataapi kemarahan
aku akan mengangkat tangan dan menjawabnya.

Tak perlu engkau beri aku hadiah sepeda.

Kami marah karena korupsi semakin rutin
dan KPK hendak dicabuti tulang-tulangnya
pidato menguap di podium istana
dikutip oleh reporter yang bosan untuk media online
dan tertimbun di antara berita Jennifer Dunn.

Kami marah karena kabinetmu adalah ajang kompromi juga
akhirnya,  bagi-bagi kursi, dengan banderol harga yang murah
dan lelang di antara partai-partai pendukungmu
yang saling berebut dan saling iri.

Dan oposisi membakar jenggotnya sendiri.

Kami marah karena engkau seperti lupa
untuk mendengarkan dan menyanyikan lagi bersama kami
lirik Metallica yang dulu katamu sangat kau suka
tentang penguasa atas (petugas) boneka,
dan bukan sebaliknya.

Kami marah karena kami kecewa pada kami
mengapa semakin terpojok pada situasi
— hanya seorang pemimpin seperti engkau
yang bisa kami pilih lagi dari ratusan juta manusia di negeri ini?
dan partai-partai seakan kehabisan akal
mencoba membujuk kami dengan nama penunggang
yang sudah kami tolak berkali-kali.

Kami marah karena kami telah mencoba
menerima dan mencintai engkau dan kami hampir saja tak bisa.

Dan engkau tak perlu beri aku hadiah sepeda.

Aku telah menjawab dengan jawaban yang salah,
dan engkau juga tak pernah bertanya.

 

Baca juga
Baju dari Ibu
Baju dari Ibu

: fatih IBU menyatukan sisa-sisa kain lama dari lemari di dekat mesin jahitnya lalu ia memanggilku, dan mengukur lebar pundak Baca

Macan Lapar – Cerpen Danarto
Macan Lapar – Cerpen Danarto

Jika ingin mencicipi cerpen Oom Danarto bacalah ini. Imajinasinya nakal dan jenaka. Ia membuat sendiri ilustrasi cerpennya yang terbit di Baca

Bila Balik ke Daik?
Bila Balik ke Daik?

: untuk D DENGAN sepasang cinta, pulau yang baik ini, menikahkan dan menyatukan kami, dan Gunung yang bercahaya dan bercabang Baca

Di Jalan Matraman
Di Jalan Matraman

AKU belum bisa berdamai dengan engkau dan jalan ramai ini.  Seperti kesetiaan yang sia-sia, berdiri di hadapan kemacetan menawarkan brosur Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap