Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi

klinikpuisiBAHAN puisi kita bisa dari mana saja, juga dari sejarah. Sejarah yang dipuisikan menjadi milik puisi. Ia bukan lagi sepenuhnya sejarah. Sejarah itu bisa menjadi metafora, atau alusi, atau apa saja yang membangun atau mendukung puisi kita.

Di hadapan puisi, bahan sejarah itu sama saja seperti fakta lain, realitas lain, peristiwa lain. Penyair akan mengolahnya, bersama imajinasinya, dan dengan nilai yang ia anut, merestrukturisasinya menjadi entitas teks baru, yaitu sebuah karya puisi.

Apa yang terjadi ketika sejarah dipuisikan atau dijadikan bahan untuk karya sastra lain? Menurut Kuntowijoyo (2006), ada tiga kemungkinan:

Pertama, Realitas sejarah di dalam itu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa imajiner untuk memahami peristiwa sejarah itu menurut kemampuan pengarang.

Kedua, realitas sejarah itu bisa dipakai oleh pengarang untuk menyampaikan pikirannya, perasaannya, dan tanggapannya.

Ketiga, karya sastra dapat menjadi penciptaan kembali sebuah peristiwa sejarah sesuai dengan pengetahuan dan daya imajinasi pengarang.

Umumnya pada penyair kita melakukan hal yang pertama dan terutama yang kedua. Apapun, mula-mula dia harus menguasai benar bahan sejarah itu dan dia harus berangkat dengan ketertarikan yang kuat.

Bukan karena tema besar membuah puisi menjadi sajak besar.  Bukan karena menulis sosok besar dalam sejarah maka sajak kita lantas menjadi sajak yang gagah.  Puisi yang ditulis dengan bahan sejarah tetap harus ditimbang dengan ukuran-ukuran puisi. Bahan sejarah bisa menjadi variasi tema yang menantang. Dia bisa menjadi daya tarik puisi, tapi tidak bisa menyelamatkan jika puisi itu ditulis dengan buruk.

Mari menilik sajak berikut ini. Rasakan bagaimana sosok besar dalam sejarah negeri ini yaitu Sjahrir dan kisahnya diolah oleh Goenawan Mohamad menjadi sajak yang membuka wawasan sejarah kita dan menggetarkan.

 Goenawan Mohamad
Sjahrir, di Sebuah Sel

— untuk Rudolf Mrazek

Dari jendela selnya,
(kita bayangkan ini Jakarta,
Februari 1965, dan ruang itu lembab,
dan jendela itu rabun),
ia merasa siluet pohon
mengubah diri jadi Des,
anak yang berjalan dari selat
memungut cangkang nyiur,
dan melemparkannya
ke ujung pulau.

“Aku selalu berkhayal tentang selat,
atau taman kembang, atau anak-anak.”

Itu yang kemudian ditulisnya
di catatan harian.

Maka ditutupkannya daun jendela
dan ia kembali ke meja,
ke peta dengan warna laut
yang tak jelas lagi.

Ia cari kapal Portugis.

Tapi Banda begitu pekat, dan laut
menyembunyikan ingatannya.

(Seorang pemetik pala
pernah mengatakan itu
di sebuah bukit
kepada Hatta).

Kini ia mengerti: juga peta
menyembunyikan ingatannya,
seperti malam Rusia
menyembunyikan sebuah kota.
Tiap pendarat tak akan
mengenali letak dangau,
jejak ketam pasir,
batang rambai yang terakhir,
di mana sisa hujan
agak disamarkan.

“Sjahrir. Bukankah lebih baik lupa?”

Seekor ular daun pernah menyusup
ke sandalnya dan ia ingat ia berkata,
“Mungkin. Mungkin aku tak akan mati.”

Esoknya ia berlayar.
Di jukung itu anak-anak mengibarkan
bendera negeri yang belum mereka kenal.

“Lupa adalah….”

“Jangan kau kutip Nietzsche lagi!”.

“Tidak, Iwa. Aku hanya ingin tahu
sejauh mana kita merdeka.”

Di beranda rumah Tjipto,
di tahun 1936 itu,
percakapan sore,
di antara pohon-pohon Naira,
selalu menenteramkan.
“Jangan beri kami altar
dan tuhan imperial,”
seseorang menirukan doa.

“Tapi kita dipenjarakan, bukan?”

Ya, tapi ini penjara yang pertama,
yang memisahkannya dari ingin
dan kematian.

“Ah, lebih baik kita diam,”
kata tuan rumah.
“Abad ke-20 adalah abad
yang memalukan.”

Di sana, di beranda rumah Tjipto,
menjelang malam, di tahun 1936,
mereka selalu tertawa
mengulang kalimat itu.

Di sini, (kita bayangkan di Jakarta,
Rumah Tahanan Militer, 1965),
ia tak pernah merasa begitu sendiri.

Hanya ada suara burung tiung
(atau seperti suara burung tiung)
ketika siang diam.

Tapi ia takut duduk.

Ia tak ingin menghadap ke laut,
(andaikan ada laut),
seperti patung Jan Pieterzoon Coen,
seperti pengintai di menara benteng
yang menunggu kapal-kapal
di dekat langit
sebelum perang.

Ia tak ingin duduk.

“Siapa yang menatap jurang dalam,
jurang dalam akan menatapnya.”

Mungkinkah ia sendiri
yang mengucapkannya di sel itu?

2014


Bacaan: Budaya dan Masyarakat – Edisi Paripurna (Kuntowijoyo; Tiara Wacana; Yogyakarta, 2006).

Iklan

11 pemikiran pada “Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi

  1. Puisi dengan tema sejarah karya Om Goenawan Mohamad memang monumental sekali.
    Salah satu karya beliau yang berkali kali saya baca dan nikmati adalah “Hiroshima, Cintaku”.

    “Ia seorang komandan Kenpetai
    di sebuah negeri Selatan
    yang memperkosa seorang pemuda dan
    menggantungnya di sore hari”

    Ah, tapi tadi aku telah berkata
    bahwa kita bahagia

    “Ya. Tapi malam tinggal separoh
    dan bulan pelan
    seperti permainan Noh”

    Saya selalu geleng geleng kepala ketika membaca 3 bait ini.
    Setelah lama menetap di Jepang, setiap bulan Agustus ada dua teks yang saya rutin baca ulang.
    Teks Proklamasi di tanggal 17, dan teks puisi ini di tanggal 6.

    Suka

  2. Puisi dengan tema sejarah karya Om Goenawan Mohamad memang monumental sekali.
    Salah satu karya beliau yang berkali kali saya baca dan nikmati adalah “Hiroshima, Cintaku”.

    “Ia seorang komandan Kenpetai
    di sebuah negeri Selatan
    yang memperkosa seorang pemuda dan
    menggantungnya di sore hari”

    Ah, tapi tadi aku telah berkata
    bahwa kita bahagia

    “Ya. Tapi malam tinggal separoh
    dan bulan pelan
    seperti permainan Noh”

    Saya selalu geleng geleng kepala ketika membaca 3 bait ini.
    Setelah lama menetap di Jepang, setiap bulan Agustus ada dua teks yang saya rutin baca ulang.
    Teks Proklamasi di tanggal 17, dan teks puisi ini di tanggal 6.

    Suka

  3. Jadi, Om Hasan, setujukah Om bahwa kita mutlak butuh riset yang memadai atas semua detail yang diperlukan untuk membuat “Si bahan sejarah” itu bisa tampil dengan cemerlang dalam puisi kita?

    Bukan kerja sembarang, ya. Fiuhhhhh…

    Suka

      1. Om melakukannya pada Monolog Singkat Hang Tuah dan Sebelum Bendahara Memanggil Dia Kembali. Aku yang berasal dari tanah Sangkuriang pun tinggal takjub dan terkagum-kagum pada Sang Laksamana.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s