Efek Bunyi: Eufoni dan Kakofoni

klinikpuisiEufoni dan kakofoni adalah pola bunyi yang digunakan dalam sajak untuk mencapai efek yang berlainan bahkan berlawanan: eufoni menenangkan, menyenangkan, dan harmonis; kakofoni, hiruk-pikuk, keras dan sumbang.

Eufoni dicapai melalui penggunaan bunyi vokal dalam kata-kata yang menyaran pada suasana teduh. Suara vokal lebih mudah diucapkan daripada konsonan dan terdengar lebih merdu; lebih panjang deretan vokal akan terdengar lebih merdu. Konsonan cair dan nasal dan suara semivokal (l, m, n, r, y, w) dianggap juga menghadirkan eufoni.

Kebalikan dari eufoni, kakofoni biasanya dihasilkan oleh kombinasi kata-kata yang berhuruf mati, berbunyi tertutup, dan mengandung stakato, bunyi yang patah-patah. Terasa seperti deru yang tidak teratur dari bait yang berantakan. Jika digunakan dengan terampil untuk mencapai efek tertentu, kakofoni bisa memperkuat isi dari citraan yang hendak dibangun.

Contoh 1:

HERMAN

herman tak bisa pijak di bumi tak bisa malam di bulan
tak bisa hangat di matahari tak bisa teduh di tubuh
tak bisa biru di lazuardi tak bisa tunggu di tanah
tak bisa sayap di angin tak bisa diam di awan
tak bisa sampai di kata tak bisa diam di diam tak bisa paut di mulut
tak bisa pegang di tangan tak bisatakbisatakbisatakbisatakbisa

di mana herman? kau tahu
tolong herman tolong herman tolongtolongtolong

(Sutardji Calzoum Bachri, 1981)

Pengulangan, bahkan pemadatan, kata-kata dengan konsonan ‘k’ juga ‘b’, berhasil membangun suasana bising, hiruk-pikuk di sajak ini.  Sebuah kakofoni yang memang diperlukan untuk mendukung seluruh bangunan teks dan makna sajak yang menyaran pada kebingungan, kehilangan dan pencarian.

Contoh 2.

Nagasari

membuka kulit nagasari
isinya bukan pisang madu
tapi mayat anak gembala
yang bersuling setiap senja

membuang kulit nagasari
seorang nakhoda memungutnya
dan merobeknya jadi dua
separuh buat peta
separuh buat bendera kapalnya

(D. Zawawi Imron, Nagasari, 1978)

Kita bisa menyimak bunyi huruf hidup di sepanjang dan di akhir lahir pada sajak “Nagasari” ini.  Sajak ini tidak kita terima sebagai sebuah teks yang menggebu-gebu. Keindahan suara, eufoni, yang terdengar di sepanjang sajak, justru menyeret kita dengan kuat. Dia tidak menyentak perasaan, tapi kita terbawa ke dalam emosi sajak.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s