Yang Mengatakan “Hai” pada Dunia

klinikpuisiLEBIH dari  tigapuluh tahun yang lalu, pada 1977, Sutardji Calzoum Bachri menulis di  surat kabar Suara Karya, “…tantangan utama bagi seorang penyair ialah dirinya sendiri: bagaimana memperkaya batin dengan menangkap makna kehidupan. Maka untuk itulah penyair hidup, luka, ketawa-ketawa, lapar, bersetubuh, setengah gila dan mengatakan ‘hai’ pada dunia.”

Itulah tantangan yang harus dijawab kalau kau ingin jadi penyair besar yang menulis karya besar.  Penyair tak bisa hanya berpangku tangan dan menunggu ilham datang.  Seorang penyair, kata Sutardji, batinnya harus berkeringat, berdenyut, berdarah, dan merasakan.

“Sebuah sajak bisa saja dengan gaya santai. Tetapi kalau itu sebuah sajak yang baik, kesantaian itu pastilah hasil dari batin yang berkeringat, mengembara, berdarah, berdenyut, dan merasakan,” ujar Sutardji dalam artikelnya yang berjudul “Tentang Sikap Kepenyairan” (dalam buku kumpulan esai Isyarat, 2007) itu.

Berat amat ya mau jadi penyair? Memang. Di dalam tulisan itu Sutardji katakan bahwa dunia persajakan itu memang keras dan kejam. Dan di situ tak ada yang menghibur. “Untuk menjadi penyair di dunia yang galak ini, tidak ada jalan lain kecuali kit harus kuat!” ujarnya. Kuat menghadapi badai kritik, kuat menghadai sikap bloon komentator puisi, dan kuat menghadapi kedangkalan selera dari para konsumen puisi.

Ketika saya katakan ini pada seorang calon penyair – begitu dia menyebutkan dirinya yang katanya ingin serius belajar puisi – orang itu bilang, “wah, kalau begitu saya jadi malas dan tak berminat jadi penyair.” Mungkin dia bercanda. Dan saya bilang, “bagus. Berhenti lebih cepat itu lebih bagus. Kau tak perlu buang-buang waktu untuk satu hal yang hanya akan sia-sia.”

Untuknya saya kutipkan lagi kata-kata Sutardji: menyair adalah pekerjaan yang serius. Namun penyair tidak harus menyair sampai mati. Dia boleh meninggalkan kepenyairannya kapan saja.  “Tapi bila kau sedang menuliskan sajak, kau harus melakukannya secara sungguh-sungguh, seintens mungkin, semaksimal mungkin,” kata Sutardji.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s