Yang Lengkap dan Selesai Mengucap

klinikpuisiADA yang bertanya apa tandanya puisi yang kita tulis itu sudah bagus atau belum? Apakah ada standarnya? Mungkin pertanyaannya lebih menarik dan lebih pas jika diajukan seperti ini: kapankah sebuah puisi yang kita tulis itu dianggap selesai dan kita berhenti menuliskannya?

Tentu saja puisi harus selesai dituliskan. Kapan puisi dianggap selesai? Kembali ke pertanyaan pertama soal menulis puisi, yaitu mau omong apa dan bagaimana omongnya. Kalau yang mau diomongkan sudah teromongkan semua di dalam puisi maka selesailah itu puisi. Kita sebagai penulisnya yang paling mengetahui itu, bukan?

Lantas bagaimana omongnya? Kita juga yang harus meninjau puisi kita apakah  kita sudah menemukan cara ucap terbaik yang ingin kita capai. Apakah ada kemungkinan pengucapan lain selain apa yang kita tuliskan itu? Jika belum, tuliskan lagi. Cari lagi. Tak ada standar, kita yang menentukan batas akhirnya.

Perihal puisi selesai, dan tak selesai, bisa kita pelajari dari sajak Chairil Anwar “Lagu Siul”. Si penanya menyebutkan judul ini ketika saya minta menyebutkan satu sajak yang bagus menurut dia. Ya, ini sajak Chairil yang bagus. Meskipun bukan yang terbagus. Chairil pun bimbang, dan jejak kebimbangan itu bisa kita lacak.

Lagu Siul
Chairil Anwar

Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
‘Ku kayak tidak tahu saja.

II

Aku kira
Beginilah nanti jadinya:
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta,
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa,
Aku terpanggang tinggal rangka

25 November 1945

Bagian II sajak ini adalah sajak yang ia tulis pada Februari 1943 yang oleh Chairil diberi judul “Tak Sepadan”. Sajak itu kelak muncul di kumpulan “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus” (1949).

Lalu, dua tahun kemudian di tahun 1945, Chairil menambahkan bagian I, kemudian digabungkannya sajak baru itu dengan sajak lama tadi dan diberinya judul baru, “Lagu Siul”. Puisi ‘baru’ ini dimuat di Pembangunan (Desember 1945), kemudian dibukukan dalam “Deru Campur Debu” (1949).

Tak ada yang berubah pada sajak pertama yang kemudian menjadi bagian dari sebuah sajak lain dua tahun kemudian.  Tapi kini sajak baru itu terasa lengkap dan utuh.

Di sini kita bisa belajar apa arti selesai dan tak selesai ketika kita menulis sebuah sajak. Kita sendirilah yang memutuskannya. Standarnya apa? Ya, kembali ke niat awal, apakah hal yang ingin kita ucapkan sudah terucapkan dengan cara ucap yang terbaik yang mungkin kita ciptakan?

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Yang Lengkap dan Selesai Mengucap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s