Sajak-sajak Sosial: Yang Terlibat dan Yang Menggugat

klinikpuisiADA kalanya, penyair merasa tak lagi cukup jika ia hanya menempuh jalan setapak dan sepi sajak imajis-liris. Ia ingin terlibat. Ia ingin berada di tengah massa dan ikut berteriak di sana. Ia ingin naik ke panggung bersama puisi yang bertenaga. Ia memilih sajak-sajak sosial atau sajak protes.

Sajak sosial, pada umumnya memang bernada protes, yang mengetuk kediaman, atau menggedor kesadaran. Dengan teriakan lantang, himbauan menggugah, atau sindiran halus. Muhammad Yamin, Rustam Effendi, Asmara Hadi, Chairil Anwar, Agam Wispi, HR Bandaharo, Taufik Ismail, Hamid Jabbar, WS Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Wiji Thukul, pada beberapa sajak atau sebagian besar sajak mereka menuliskan sajak sosial yang kuat.

Penyair bebas memilih. Rendra pernah asyik dengan sajak liris, Taufik Ismail juga menulis sajak liris dengan apik. Thukul pada beberapa sajaknya menunjukkan penguasaan atas sajak liris yang kuat. Jadi ini semata soal kebutuhan dan pilihan. Kebutuhan untuk menyampaikan peringatan, menghadirkan kesaksian, membangunkan kesadaran orang banyak. Pilihan untuk terlibat lebih banyak, masuk ke tengah gelanggang persoalan, dan tidak hanya memandang dari jauh dan berdiri di pinggiran. WS Rendra merumuskan alasan pilihan dan sikap itu dengan bagus dalam sebuah sajak yang bagus:

Aku mendengar suara
Jerit hewan terluka
Ada orang memanah rembulan
Ada burung kecil jatuh dari sarangnya
Orang orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan tetap terjaga

(Aku Mendengar Suara – WS Rendra; 1974)

SAJAK BERKABAR. “Demikianlah saya ingin berkabar. Saya mau menyampaikan berita, mendalang dan berkisah lewat puisi saya, kepada pendengar dan pembaca saya. Ketika menuliskan buram pertama puisi saya, sudah terbayang oleh saya pendengar saya di acara baca puisi yang akan berbagi nikmat,” kata Taufiq Ismail dalam kata penutup di bukunya “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (Yayasan Indonesia, 1998).

Dengan pilihan itu tak berarti penyair lantas mengabaikan sarana estetis atau perangkat puitika, sebagaimana dituntut ketika menulis sajak imajis-liris. Ia justru telah sedemikian mahir menguasainya.

“Ritma dan rima, aliterasi dan asonansi bukan lagi keterampilan pertukangan, tapi sudah jiwa dan eufoni kadangkala seperti bisa dipanggil dengan jentikan jari,” ujar Taufik Ismail.

ANALISA SOSIAL. Kesadaran untuk memilih sajak sosial yang terlibat juga bisa kita teladani pada Rendra. Itu bukan pilihan yang meyakinkan pada mulanya sebagaimana ia akui. “Makin lama makin mantap. Misteri dan ambiguity saya ganti dengan pengertian analisa sosial. Tanpa itu sajak sosial tidak punya relevansi politis. Dan inilah yang saya ingin dan maksudkan di dalam sajak-sajak sosial-politis: relevansi politis,” kata Rendra dalam esainya “Proses Kreatif Saya” (1983).

Untuk itu Rendra harus bekerja keras membuat formulasi yang memenuhi kebutuhannya itu. Metafora surealistis yang ia pakai dalam sajaknya sebelumnya tak bisa lagi dipakai, dan harus ia gantikan dengan struktur sajak yang mengandung skema dan metafora yang mempunyai kekuatan grafis. Formulasi itu antara lain bisa kita lihat dalam sajak-sajaknya yang ada dalam buku “Potret Pembangunan dalam Puisi” (1980).

Risiko sajak sosial adalah menjadi sajak yang sementara. Ketika ketidakadilan yang hendak dilawan itu tak lagi ada, sajak kita menjadi tak relevan lagi. Ia bertahan sebagai catatan bahwa ketidakadilan itu pernah ada. Di sinilah tantangannya. Diperlukan kecermatan memilih apa yang hendak dikabarkan, kejelian membedah dengan d analisa sosial, dan keterampilan menggubahnya dalam komposisi sajak yang tak cuma berteriak nyaring. Jika itu dilakukan dengan cermat, sajak sosial berpeluang menjelma jadi sajak gigantis, yang mengatasi lokalitasnya, merengkuh universalitas.

Sajak Tanah Air Mata (1991), yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri ini adalah salah contoh sajak sosial yang paling kami suka. Ia ditulis sebagai kesaksian penyairnya tentang ketimpangan kehidupan di Indonesia yang subur dan harusnya makmur merata ini. Dan ketika terjadi bencana sosial seperti ambruknya ekonomi yang mendorong reformasi siapa yang jadi korban? Rakyat kecil yang miskin itu.

Bacakanlah sajak ini kepada orang Suriah, Palestina, atau kepada suku pedalaman yang hutannya dirampas oleh pengusaha dengan izin dari negara, atau kepada rakyat manapun yang ekonominya timpang dan banyak rakyatnya terjebak dalam kemiskinan, maka sajak ini tetap saja relevan. Begitulah tantangan dan pencapaian sajak sosial. Ia tak sekadar protes. Ia tak sekadar berteriak nyaring. Ia menyuarakan jeritan batin yang tak tersuarakan.

Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami

di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami

di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami

kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana

bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata

(Tanah Air Mata – Sutardji Calzoum Bachri; 1991)

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s