Eulogi Banyuwangi

BILA disentuh angin kibasan
hijau selendang penari gandrung
aku datang sebagai lelaki nelayan
risau dari hati laut yang mengurung

kabut mencadari wajah kawah
menunggu fajar menyisih ke sisi matahari
kusimpan yang akan membuatmu gelisah
karena kita akan mendaki lereng hari-hari

lalu melingkarlah jalan-jalan hujan
mencuci lagi tubuh hutanmu
dan kembalikanlah aku kepada kenangan
kepada tanda yang kaurahasiakan dulu

senja mencairkan cahaya
melelehlah malam ke lembah-lembah
dan aku tak lagi bertanya tentang derita
setelah bertukar tubuh penambang lelah

tubuhmu kota kudiami sebagai desa yang ramah
yang silam yang kini yang kelak saling sentuh
berbaringlah kita berbaring di lembut sawah
tidurlah kita tenang tidur dan tumbuh

 

Baca juga
Kambing dan Tukang Cukur
Kambing dan Tukang Cukur

SEEKOR kambing memandangi wajahnya di cermin tukang cukur yang tergantung di pohon. Si tukang cukur sedang tertidur dan bermimpi menjadi Baca

Adalah Cinta Kita
Adalah Cinta Kita

                                                            : dhiana AKU cabang, kau dedaunan, sepasang burung hinggap di ranting itu, tak tahu bahwa teduhnya adalah Cinta kita Baca

Apa yang Sudah Kau Lakukan untuk Memajukan Sastra?
Apa yang Sudah Kau Lakukan untuk Memajukan Sastra?

PERTANYAAN di atas diajukan oleh seorang penyair di grup berisi para sastrawan. Lengkapnya: apa yang sudah kau lakukan untuk memajukan Baca

Bila Balik ke Daik?
Bila Balik ke Daik?

: untuk D DENGAN sepasang cinta, pulau yang baik ini, menikahkan dan menyatukan kami, dan Gunung yang bercahaya dan bercabang Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap