Alami, Lupakan,… Lalu Puisikan

klinikpuisiMENULIS puisi, meminjam uraian Kuntowijoyo (1943-2005) adalah pekerjaan bergelut dengan teks, membangun sebuah struktur dengan tiga bahan pembentuk: pengalaman, imajinasi, dan nilai-nilai. Beliau sebenarnya menguraikan proses penulisan prosa. Tapi saya ingin pakai penjelasan itu karena toh seperti prosa, puisi juga fiksi.

Dari pengalaman, penyair mendapatkan bahan dasar, tak hanya api awal yang menyalakan tungku pembakaran tetapi juga kayu bakar yang memungkinkan api puisi itu menyala-nyala.

Oleh karena itu, penyair, kata Rilke, harus mengalami banyak hal.  Puisi bukanlah sekadar emosi, puisi adalah pengalaman.  “Demi sebuah puisi, engkau harus berkunjung ke banyak kota, menemui banyak orang, dan banyak hal lain. Engkau juga harus perhatikan gerakan anggun bunga kecil yang mekar di pagi hari. Engkau harus mampu membawa anganmu ke jalan-jalan di depan rumah tetangga yang tak kau kenal namanya, pertemuan-pertemuan yang tak pernah terduga, dan perpisahan yang sudah lama,” kata Rilke dalam prosa semiotobografisnya “The Notebooks of Malte Laurids Brigge” (1910).

Masih dari buku yang sama, Rilke berkata, “kembalilah ke hari-hari masa kanak dengan misteri-misterinya yang tak terjelaskan; kembali ke saat engkau sakit waktu kau bocah, juga pagi di tepian laut, laut itu sendiri, saat engkau dalam perjalanan malam hari. Dan, itupun belum cukup. Ya, belum cukup bagi seorang penyair memilik kenangan. Engkau harus bisa melupakannya!”

Lalu di tulisannya yang lain, tetapi sangat tersambung dengan uraian di atas, yaitu dalam suratnya kepada penyair muda, Rilke bilang, “…dan apabila semua itu berbalik datang, bangkit dari timbunan kata-katamu, itulah saatnya puisi datang.”

Ya, ketika pengalaman itu kembali – bangkit sebagai kenangan – itulah saatnya menuliskannya menjadi puisi. Kenapa harus menunggu? Karena kita harus mengambil jarak: jarak waktu, jarak emosi.  Ini penting, agar peristiwa-peristiwa itu punya kesempatan untuk kita endapkan, agar menjadi matang dalam permenungan kita, dan ketika dituliskan ia tidak menjadi puisi yang mentah.  Seperti kayu bakar dari pohon yang baru kau tebang, keringkanlah dahulu, hingga benar-benar kering, agar sempurna kobar nyala apinya.

 

Iklan

4 pemikiran pada “Alami, Lupakan,… Lalu Puisikan

  1. Menarik juga ya pak, kalau harus ada jarak antara peristiwa , kenangan dan penulisan. Selanjutnya saya jadi bertanya-tanya diantara jarak antar tahapan apa yang harus penulis puisi lakukkan, apakah ia perlu belajar filsafat juga untuk memperdalam perenungan ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s