Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis

klinikpuisi
  • Save
PADA mulanya tidak ada beda dan pemisahan antara prosa dan puisi itu. Cerita disampaikan dalam sebuah bentuk yang sama yaitu syair. Karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi adalah syair yang isinya bisa dianggap sebagai karya jurnalistik. Berita atau reportase dalam bentuk syair.

Ada aturan bunyi dan batasan larik dan bait dalam syair.  Kenapa? Mudah dipahami sebab ia berkembang dulu ketika teknologi cetak masih mahal atau bahkan belum ada. Supaya mudah diingat, dan menarik ketika dilisankan, maka rima dan keteraturan bait yang mempertimbangkan irama itu menjadi penting dan perlu.

Seni dengan medium bahasa ini kemudian berkembang sesuai kebutuhan manusia. Ketika bait-bait syair dirasa kaku dan mengekang, lahirlah bentuk cerita yang mengabaikan aturan itu. Cerita dituliskan saja seperti bahasa biasa. Batasannya hanya panjang cerita. Lahirlah cerpen, novel, roman, jenis-jenis prosa itu. Perkembangan ini terjadi pesat berkat penemuan teknologi cetak dan penyebarannya meluas karena ikut menumpang di media massa, baik surat kabar atau majalah.

Apa nasib puisi? Matikah ia ditinggalkan oleh prosa? Sekaratkah ia karena masih mempertahankan aturan bunyi, batasan larik dan bait, dan segala macam persyaratan itu? Tidak! Puisi juga berkembang menemukan kekuatannya sendiri, melahirkan berbagai bentuk dari segala kemungkinan jalan dan pencapaian estetika.

Para penyair juga melahirkan puisi bebas yang tak lagi terikat pada aturan bait dan rima, dan aturan lain.  Pada batas antara prosa dan puisi itulah juga lahir prosa liris atau prosa puitis (cerita yang puitis) dan puisi prosais (puisi yang bercerita).

Di dalam puisi tentu saja sangat mungkin kita juga bercerita, dan jika cerita itu kita niatkan juga sebagai imaji maka ia tetaplah sebuah puisi. Ingat, imaji dalam puisi bisa juga kita bangun lewat peristiwa-peristiwa seperti dalam cerita.

Prosa dan puisi memberikan hal yang sama kepada pembaca: nikmat dan hikmat.

 

 

 

Baca juga
Ruang Renung 2 – Marah dan Jatuh Cinta
Ruang Renung 2 – Marah dan Jatuh Cinta

SEORANG kawan berkata: saya bisa menulis puisi kalau sedang marah. Kawan yang lain bilang: saya hanya bisa menulis puisi kalau Baca

Enam Pertanyaan untuk Anji / Sajak Hasan Aspahani
Enam Pertanyaan untuk Anji / Sajak Hasan Aspahani

1. KALAU engkau padamkan lampu kemanakah perginya cahaya yang tadi menyala?2. Pernahkah engkau berpikir membuat konten untuk menjelaskan kenapa di Baca

Duka Dangdut
Duka Dangdut

MEREKA berkumpul di kepalaku, mendangdutkan hariMereka bergoyang di kepalaku, mengdangdutkan diriMereka berteriak di kepalaku, mendangdutkan marahMereka berkelahi di kepalaku, mendangdutkan Baca

Suasana Meja Kerja
Suasana Meja Kerja

LAMPU meja menunduk redup belum dinyalakan menyamarkan dua botol tinta yang tampak bagai dua bidak catur hendak menumbangkan benteng kalender

2 thoughts on “Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap