Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi?

klinikpuisiTEKS puisi adalah sebentang tubuh bahasa. Sebuah matriks di mana kata-kata dikembangkan dan kalimat distrukturkan. Kata-kata adalah sel-sel yang bebas. Penyairlah yang memilih mereka, menyusunnya, membentuk organisme baru yang khas, yang memberi hidup dan kebebasan baru pada kata-kata itu.

Kalimat diatas adalah tawaran cara pandang lain terhadap puisi dan posisi kata di dalamnya, sebuah imbauan kesadaran yang lain yang lebih memungkinkan terbangkitkannya dayacipta, bukan aturan yang mutlak harus dipatuhi.

Puisi yang didekati dan dibangun dengan kesadaran itu seharusnya akan mengandung daya pikat dan memberikan dua hal kepada pembaca: Pertama, nikmat indrawi dan intuisi.

Dalam puisinya penyair mengungkapkan pengalaman indrawi dan intuisinya, yang  menggugah perasaan nikmat dan merangsang imajinasi. Perasaan nikmat dan rangsang imajinasi itulah yang menjelma menjadi penghiburan dan penyegaran jiwa.

Contoh 1.

mula-mula jalan setapak yang berakhir
di sebuah lorong kecil. Mula-mula matahari pertama
yang membimbing kita ke kaki bukit
tak berakhir di mana pun

(Lembah Manoa, Honolulu dalam Mata Pisau – Sapardi Djoko Damono, 1970)

 

Sajak ini sebagian besar adalah penggambaran atau pengungkapan pengalaman indrawi. Si penyair melukiskan saja apa yang ia tangkap dengan matanya dalam kata-kata: jalan setapak, lorong kecil, matahari terbit, dan kaki bukit.

Tentu saja ia memakai sarana puitika ketika melukiskan pemandangan itu, misalnya ada antropomorfisme pada matahari pertama yang membimbing kita (membayangkan benda mati berperilaku seperti manusia).

Lihatlah, apa yang sebenarnya biasa saja itu, artinya siapa saja bisa dan punya kesempatan untuk menemukan atau mendapatkan pengalaman indrawi yang sama, di tangan penyair, menjadi sesuatu yang menarik, menyenangkan, dan menyegarkan.

Kedua, hikmah. Dalam puisinya, penyair menyampaikan hasil penalarannya atas sesuatu hal. Dengan wawasan yang baik penalaran itu dapat memberikan hikmah kepada pembaca. Hikmah itu kemudian dapat menumbuhkan sikap rendah hati, reaksi yang wajar, tanggapan yang kritis, dan respon yang bijaksana.

Contoh 2.

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana
wajah di kaca jendela yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita terperanjat: waktu henti ia tiada

(Dalam Bus dalam  DukaMu Abadi – Sapardi Djoko Damono, 1967)

Bait pertama sajak ini sajak ini adalah ungkapan pengalaman indrawi dan sedikit intuisi. Melihat langit dari kace jendela bis adalah kerja indra, juga ketika melihat wajah yang tercermin di kaca itu, wajah kita seniri. Tapi membayangkannya sebagai sesuatu yang mengecil dalam pesona adalah ungkapan intuisi penyair.

Bait berikutnya adalah penalaran. Kita bisa menangkap apa yang hendak disampaikan penyair, ketika melakukan apapun sebaiknya mulainya dengan menyengajakan (mengucapkan lafaz niat, memulai dengan kata), lalu tuntaskan apa yang diniatkan itu (perjalanan dari kota ke kota), waktu akan berjalan dengan cepat, tak terasa, ketika sampai (ketika pekerjaan itu tuntas), maka selesailah segalanya, waktu itu pun habis, kita tak punya kesempatan lagi untuk mengulanginya.

Bacaan: Apresiasi Puisi oleh S. Effendi (Tangga Mustika Alam, Jakarta, 1982). Saya terutama memakai penjelasannya tentang  nikmat indrawi (saya menambahkan juga intuisi apa yang saya ambil dan Sapardi Djoko Damono) dan hikmah (hal. 232-238), juga tentu saja DukaMu Abadi dan Mata Pisau, buku pertama dan kedua Sapardi Djoko Damono.

Iklan

Satu pemikiran pada “Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s