Yang Berbalik: Epistrop atau Epifora

klinikpuisiADA anafora. Ada juga epifora. Keduanya adalah pengulangan kata, frasa, atau klausa. Bedanya? Anafora di awal kalimat atau bait, atu larik, epirora sebaliknya, dia ada di akhir.

Tujuannya sama: membangun gema bunyi (bukan sekadar rima) dan memberi penekanan atau penguatan pada makna. Anafora dan epifora berperan besar memperkuat intensitas (ingat tiga sekarang: keutuhan, kepelikan dan intensitas) di tubuh teks sajak kita.

Epifora dalam khazanah peristilahan sastra punya nama lain yaitu epistrop. Epistrop mungkin lebih mudah kita pahami jika kita lacak ke asal katanya, sebuah kata dari bahasa Yunani yang berarti “berbalik”.

Kita menuliskan kembali apa yang sama di akhir bait sebelumnya, seperti membawa pembaca kembali, berbalik, ke apa yang sudah kita sampaikan, karena itu penting, atau kita minta itu diberi perhatian.

Contoh 1.

duabelas malam jam
duabelas angin jam
duabelas sungai jam
duabelas riam jam
duabelas hunjam jam
duabelas rahang jam
duabelas mukul mukul duri
duabelas neriak kapak
ribubelas babi nyeruduk lengang badan

(Tengan Malam Jam; Sutardji Calzoum Bachri, 1977)

Pada contoh berikut penyair Toto Sudarto Bachtiar bahkan memakai sekaligus anafora dan epifora. Membuat sajaknya terasa sangat kuat. Hal yang sama dilakukan Subagio Sastrowardoyo di contoh 3.

Contoh 2.

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
Janganlah takut kepadanya

Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
Janganlah takut kepadanya

Kemerdekaan ialah cinta kasih yang mesra
Bawalah daku kepadanya.

(Tentang Kemerdekaan; Toto Sudarto Bachtiar, 1953)

Contoh 3.

Kau akan cukup punya istirah
Di hari siang. Setelah selesai mengerjakan sawah.
Pak Tani, jangan menangis.

Kau akan cukup punya sandang
Buat menikah. Setelah selesai melunas utang.
Pak Tani, jangan menangis.

Kau akan cukup punya pangan
Buat si ujang. Setelah selesai pergi kondangan.
Pak Tani, jangan menangis.

Kau akan cukup punya ladang
Buat bersawah. Setelah selesai mendirikan kandang.
Pak Tani, jangan menangis.

(Nyayian Ladang; Subagio Sastrowardoyo; 1970)

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s