Anafora dan Anafora Kosong

klinikpuisiAPAKAH anafora itu? Anafora adalah perangkat puitika atau retorika, berupa pengulangan kata atau frasa pada awal klausa, larik, atau bait yang berurutan.

Anafora adalah apa yang biasanya ditemukan tertulis berturut-turut pada awal kalimat untuk membangun semacam gema bunyi dan penekanan atau penguatan pada makna.

Anafora adalah alat yang efektif untuk membantu menyampaikan sebuah argumen, mendapatkan efek artistik atau membangun imaji puitik.

Tiga kalimat pada paragraf di atas adalah contoh anafora, yaitu kalimat dimulai dengan ungkapan, “anaphora adalah.”

Penulis atau orator menggunakan anafora dengan maksud tertentu dan tujuan yang terencana. Anafora adalah pengulangan yang disengaja dan digunakan dengan sadar, bukan karena keterbatasan kosakata, bukan juga kegagapan dalam menyusun kalimat.

Penulis harus tahu benar apa alasan dia menggunakan anafora. Pengulangan yang diciptakan anafora harusnya menciptakan ucapan yang tegas dan kuat.

Seorang penulis yang baik mengetahui hal ini dan menggunakan perangkat ini untuk membantunya mengkomunikasikan gagasannya.

Ketika kata atau frasa yang diulang itu kita hilangkan dari tubuh teks, tetapi kehadirannya masih terasa, maka terciptalah anafora yang lain, anafora kosong (zero anaphora) namanya.

Contoh 1.

Apa artinya sebidang tanah?
Apa artinya rumah?
Apa artinya jauh dari sejarah?

(Rendra, “Orang Biasa”)

Contoh 2.

siapa menggores di langit biru
siapa meretas di awan lalu
siapa mengkristal di kabut itu
siapa mengertap di bunga layu
siapa cerna di warna ungu
siapa bernafas di detak waktu
siapa berkelebat setiap kubuka pintu
siapa mencair di bawah pandangku
siapa terucap di celah kata-kataku
siapa mengaduh di bayang-bayang sepiku
siapa tiba menjemput berburu
siapa tiba-tiba menyibak cadarku
siapa meledak dalam diriku
: siapa Aku

(Sapardi Djoko Damono, “Sonet: X”)

Contoh 3.

aku kini tahu, kenapa “menguap” kata sucimu. Bila
kaubiar getir mendidih, meletup hilang si gugu sedih.

aku kini tahu, kenapa “mengendap” kata sucimu. Bila
kaubakar sekam dendam, tinggal lepah jerami diam.

aku kini tahu, kenapa “meresap” kata sucimu. Bila
kautapis tepuk tepis, menyesap naik si ceguk tangis.

(Gus tf, “Tiga Kata Suci”)

Iklan

2 pemikiran pada “Anafora dan Anafora Kosong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s