Alusi, karena Sajak tak Perlu Catatan Kaki

Oleh Hasan Aspahani

Aku kira
Beginilah nanti jadinya
kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-disumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu jua pintu terbuka

(Chairil Anwar, “Tak Sepadan”, 1943)

klinikpuisi
  • Save
ALUSI bisa hadir dalam puisi, juga dalam prosa. Alusi adalah referensi tersirat atau tidak langsung terhadap tokoh nyata, sosok fiktif, peristiwa bersejarah, kejadian heboh, suatu hal ihwal, atau bagian dari teks lain.

Alusi adalah siasat teks yang bisa dipakai oleh penyair untuk membangun kompleksitas dan muatan makna yang padat dalam puisinya.

Alusi hadir berupa sepotong kata atau sepenggal ungkapan yang untuk memanggil sesuatu ke dalam pikiran, tanpa menyebutkan hal itu secara eksplisit.

Alusi dipakai dengan asumsi bahwa telah ada bekal kumpulan pengetahuan yang dimiliki oleh penulis dan pembaca dan karena itu pembaca akan memahami rujukan pengarangnya. Atau pengarangnya yakin bahwa pembaca yang penasaran akan dengan senang akan mencari tahu tentang hal itu.

Alusi adalah salah satu dari sekian bumbu dan rempah yang membuat rasa puisi menjadi kaya. Bukan sajian terang-benderang yang hambar belaka.

Alusi berasal dari bahasa Latin yang berarti “permainan kata-kata”. Jika dirunut lebih jauh ke pangkal etimologinya, kata Latin berasal dari ‘alludere’, yang berarti “bermain-main” atau “mengacu pada mengejek.”

Lihatlah, sejak dari asal katanya, alusi memang dianggap sebagai sebuah permainan dan seharusnya itu mengasyikkan dan menyenangkan. Seperti petak umpet, mungkin.

Ada ketegangan dan kegembiraan ketika penyair sejak awal berniat menyembunyikan sesuatu, sekaligus memberi petunjuk di mana ia menyembunyikan hal itu. Pembaca yang ingin ikut bermain akan menemukan kegembiraan yang sama ketika ia berhasil menemukan apa yang disembunyikan itu.

Alusi adalah catatan kaki tanpa catatan kaki. Yang belum tahu siapa itu Ahasveros dan Eros tak akan mendapatkan nikmat yang lebih banyak ketika membaca sajak “Tak Sepadan” yang ditulis Chairil Anwar pada 1943, yang membuka tulisan singkat ini.

Itulah alusi. Cukup dengan menyebut dua nama itu Chairil membuat imaji dan uraian tentang siapa aku dalam sajaknya itu.  Chairil tak perlu memberi catatan kaki pada dua kata yang hadir menjadi alusi dalam sajaknya tersebut.***

Baca juga
Halo, Kay!
  • Save

FOTO-FOTO duludi dinding itu,membuat dia bertanyapada masa lalunya,yang tak ada lagidi dalam dirinya,"apakah aku pernahberbahagiabersamanya?" Dia ketakutan sejakmemasuki ruang kerja Baca

Serahkan Tugas Itu Kepada Clemenza
  • Save

"SERAHKAN tugas itukepada Clemenza," katanyakepada Tom Hagen,penasihatnya, yangbukan orang Italia. Di Amerika, (jugadi mana-mana, yangbukan Amerika), akanselalu ada jalan buntubagi Baca

Tampar Aku Sekali Lagi, McCluskey
  • Save

SUARA anjingdan tangis bayisuara keretadi rel yang dekatyang kian mendekatmenabrak sunyiyang tak terhalangi. Suara tembakanbeberapa kali. Dia ingatpanduan Clemenza:tembak tepat Baca

Halo, Michael!
  • Save

"HALO, Michael!" Ia terbaring sendiri,sepenuhnya dimilikioleh kesepian itu,ranjang pasien putih,baju pasien putih,di paviliun yangdiberi nama keluarganya,yang sejak lama ingin iaputihkan, Baca

One thought on “Alusi, karena Sajak tak Perlu Catatan Kaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap