Situasi Chairil: Menulis Puisi untuk Negeri yang Penduduknya 90 Persen Buta Huruf

Oleh Hasan Aspahani

Abstaksi

            Chairil Anwar – dengan bakat dan minatnya yang kuat pada kesenian –  tumbuh dalam lingkungan yang mendukungnya untuk membangun kepenyairannya: kesempatan mendapatkan pendidikan pemerintah kolonial, akses pada buku-buku yang baik, dan lingkungan pergaulannya di Batavia.

Yang bukan penyair tidak ambil bagian.
Bait akhir dari sajak Fragmen Chairil Anwar,

ia kembangkan dari sajak Conrad Aiken.

 

  1. Chairil dan Literasi pada Zamannya

APA hebatnya dan buat apa seorang penyair menulis puisi pada saat tingkat buta huruf di negerinya masih 90 persen lebih? Chairil Anwar mulai berkarya pada tahun 1943 ketika Indonesia dalam keadaan seperti itu.

Chairil ke Batavia pada tahun 1942 untuk melanjutkan MULO yang ia tinggalkan di Medan. Mungkin ia sempat meneruskan pelajaran tapi pasti ia tak lulus. MULO dilihat dari jenjang pendidikan setara dengan SMP sekarang, tapi dari tingkat pelajaran lebih tinggi. Di HIS, Chairil sudah membaca buku-buku MULO.

Jepang menutup sekolah-sekolah dan universitas. Chairil beruntung sempat menumpang di rumah Sutan Sjahrir, pamannya. Sjahrir punya koleksi buku yang sangat cukup untuk melayani minat baca Chairil. Dari ruang perpustakaan Sjahrir pikiran Chairil melanglang buana.

Chairil kemudian memperluas pergaulannya, mengikut minat besarnya pada kesenian, khususnya dunia tulis menulis, apa yang sudah ia sadari sejak semula:

            Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati. Tapi hingga kini lahir aku hanya bisa mencampuri dunia kesenian setengah-setengah pula. Tapi untunglah bathin seluruh hasrat dan minatku sedari umur 15 tahun tertuju ke titik satu saja, kesenian. 

Kartu pos Chairil kepada Jassin, 8 Maret 1944.

Ia bertemu Sutan Takdir pengelola Balai Pustaka yang sekaligus membangun perlawanan terhadap lembaga itu lewat Pujangga Baru – kedua kegiatan penerbitan itu terhenti pada zaman Jepang. Di lingkaran Takdir itu juga Chairil membangun hubungan benci dan rindu dengan Jassin.

Jassin yang bekerja pada Takdir juga pembaca yang tak pernah puas. Koleksi bukunya menggiurkan Chairil yang suka datang untuk meminjam buku tanpa memberi tahu. Atau jika dia sedang sopan dia meninggalkan catatan.

Dari satu catatan itu misalnya, kita bisa tahu saat itu Chairil membaca H.R. Holst (De Nieuwe Getroste dan Keur uit de Gedichten) dan Huizinga (In de Schaduw van Morgen dan Cultuur Historiche Verkenningen). Ini seperti anak SMA sekarang membaca buku-buku Nassim Nicholas Taleb (penulis Amerika kelahiran Lebanon) itu atau buku-buku Malcolm Gladwell (penulis Kanada kelahiran Inggris) itu.

Sajak-sajak awal Chairil tak bisa menembus terbitan yang disensor ketat oleh penguasa Jepang. Jepang menyensor segala hal: film, buku, suratkabar, majalah, bahkan bisa menembak orang yang berbicara dalam bahasa Belanda yang mereka larang keras untuk dipakai di bawah kekuasaan mereka. Untunglah Jassin  tak habis akal. Ia yang melihat kekuatan dan kebaruan pada sajak Chairil kemudian mengetik tujuh rangkap sajak-sajak itu dan membagikannya kepada tokoh-tokoh yang ia anggap penting dan perlu mengetahui sajak itu.

Chairil adalah produk sistem pendidikan yang meskipun diskriminatif (tak semua orang bisa sekolah) tapi kurikulum dan guru-gurunya bagus. Ia beruntung karena status sosial orangtuanya memungkinkan dia untuk menjadi penduduk yang tak sampai sepuluh persen, yaitu mereka bisa membaca saat itu. Ini butir pertama saya tentang Chairil dan literasi: ia dibentuk oleh satu proses pendidikan yang terancang baik.

Chairil adalah tukang baca yang rakus. Minatnya pada kesenian keras.  Jika tak bisa beli buku, ia pinjam, atau mencuri. Chairil dibentuk menjadi penyair besar oleh bacaannya yang luas. Chairil yang berbakat besar itu pasti tak akan jadi Chairil yang kita kenal jika ia tak membaca bahan-bahan yang ia cerna pada saat itu.

Maka, butir kedua yang ingin saya petik dari sosok Chairil dalam kaitan dengan literasi adalah: ciptakanlah situasi dimana orang yang punya minat baca punya akses mudah ke sumber bacaan. Itu bisa berupa perpustakaan yang menyediakan buku, atau sambungan internet yang baik untuk mengakses data digital yang berlimpah-ruah.   Pada zamannya Chairil sudah membaca dan tak asing dengan karya-karya Hendrik Marsman, Edward du Perron, Slauerhoff, W.H. Auden, John Cornford, R.M. Rilke, hingga MacLeish. Apa yang menghalangi anak-anak muda sekarang, yang seumur dengan Chairil dulu ketika dia mulai sangat serius menulis, untuk mengakses karya siapa saja di belahan dunia manapun? Harusnya situasi saat ini bisa melahirkan banyak Chairil yang lain.

Chairil berada di lingkungan yang mendukung minatnya. Ia berada di sebuah komunitas yang memungkinkan ia mengasah bakat dan menguji pencapaian penulisannya.  Jassin, Takdir, Sanusi Pane, Idrus, Baharuddin, Asrul Sani, Affandi, Basuki Resobowo, Soedjojono, hingga Ida Nasution, dan Laurens Koster Bohang adalah kawan-kawan kepada siapa Chairil memukul denturkan dan menguji pematang ide-idenya.  Butir ketiga saya adalah komunitas. Dulu mungkin istilah ini tak tersebutkan, tapi saya melihat yang melingkupi Chairil adalah sebuah komunitas literasi yang sangat dinamis.

Selebihnya Chairil tak peduli.

Ia tak peduli siapa yang akan membaca karyanya.  Tapi kita tahu sajak-sajaknya dibaca luas, oleh murid-murid hingga prajurit medan tempur.  Ia tak peduli – atau mungkin malahan bangga – ketika guru Taman Siswa melarang sajak-sajaknya dibaca karena dianggap merusak bahasa yang dipakai umum saat itu.  Karya Chairil, sebagai hasil dari kegiatan menulis – satu bagian dari budaya literasi itu – tak banyak difahami pada masanya.  Bahkan lima tahun setelah kematiannya, Asrul Sani menulis, sajak-sajak Chairil ibarat hutan dan perlu keberanian untuk masuk mengungkap apa rahasia makna di dalam lebat hutan itu.

Sikap tak peduli itu misalnya ia ekspresikan dalam bait akhir sajak Fragmen yang dikutip di awal tulisan ini: yang bukan penyair tidak ambil bagian. Chairil menantang kita. Literasi adalah proses pembentukan situasi yang terus-menerus. Bisa membaca saja belum cukup. Ia menawarkan sajak, produk untuk dibaca, yang menuntut kemampuan membaca yang lebih, menguasai referensi-referensinya, melacak rujukan-rujukannya. Sesungguhnya, Chairil menawarkan satu pengalaman tamasya bahasa dan petulangan literasi yang mengasikkan.  Wawasan dan kecakapan literasi Chairil memungkinkan dia dipercaya mengelola berbagai penerbitan, meskipun ia kemudian tak pernah betah menjadi pekerja tetap, tak nyaman dalam kungkungan mengalami kantor.

  1. Literasi pada Masa Kita

Sastrawan saat ini harusnya lebih bahagia daripada Chairil.  Situasi berubah penuh.  Tingkat literasi Indonesia menurut daftar yang dibuat oleh UNESCO (2015) adalah 93.9 persen (laki-laki 96.3 persen, perempuan 91.5 persen). Persentase itu lebih tinggi 7.3 persen daripada rata-rata literasi global (86.3 persen).   Beberapa negara mencapai tingkat literasi 99 persen (Singapura, Moldova, Azerbaijan, Rusia). Sementara Mali (38.7 persen), Afghanistan (38,2 persen), Afrika Tengah (36 persen), Papua Nugini (30,4 persen), dan yang paling rendah Nigeria (19,1 persen).   Hanya Korea Utara yang dicatat mencapai tingkat literasi 100 persen, tapi UNESCO memberi catatan angka ini perlu diragukan dan didiskusikan (Wikipedia, 2016).  Institusi di bawah PBB ini mengartikan literasi pada pengertian yang paling dasar yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.  Data didapat dari survei berturut-turut dalam kurun sepuluh tahun terakhir.

Bayangkan betapa luas dan besarnya orang yang bisa menikmati  karya sastrawan saat ini.

Memang, menurut daftar World’s Most Literate Nations (WMLN) yaitu hasil pengumpulan data 200 negara (tapi hanya 61 yang akhirnya bisa diolah datanya), Indonesia berada di peringat ke-60. Harus sedihkah kita? Tak perlu, tapi kita harus menjadi terpacu karenanya. Central Connecticut State University (CCSU)  mengumpulkan semua data dari sumber sekunder dan melansir data dan analisa tersebut tahun Maret 2016 lalu mengukur dengan parameter yang lebih banyak. Ada lima kategori – suratkabar, perpustakaan, masukan sistem pendidikan (masukan), keluaran sistem pendidikan, dan akses komputer –  yang terperinci lagi menjadi beberapa subkategori yang beberapa sulit juga dimengerti. Misalnya, apa artinya menghubungkan tingkat literasi dengan berapa jumlah eksemplar suratkabar yang diekspor ke luar negeri? Indonesia jelas nol angkanya di sini. Soal komputer juga bisa diperdebatkan. Angka yang dipakai adalah jumlah rumah tangga yang memiliki PC, dan atau tablet, telepon pintar, bahkan ponsel. Dan Indonesia ada di peringkat 60 untuk kategori ini. Benarkah? Rasanya juga bisa ditelisik lagi. Rata-rata kepemilikan telepon sekarang bisa lebih dari satu per orang.

Sastrawan sekarang tidak bisa untuk tidak peduli pada pembacanya, seperti Chairil dulu. Sastarawan dan publik sastranya punya akses yang sama kepada sumber-sumber yang diolah oleh si sastrawan.  Ini memerlukan strategi berkarya yang berbeda. Yang diberi harga adalah bagaimana si sastrawan mengolah bahan-bahan yang ia pilih untuk karyanya.

Tenggelamnya kapal Van Der Wijck sebagai peristiwa dulu tak terberitakan sebagaimana media sekarang memberitakan penyanderaan awak kapal kargo  Indonesia oleh gerombolan Abu Sayyaf di Filipina.  Karena itu orang dulu (dan pembaca sekarang) membaca novel Hamka yang mengolah peristiwa itu dengan ketertarikan dan keingintahuan yang mungkin akan berbeda dengan karya sastrawan sekarang jika dia menulis dengan bahan-bahan dari peristiwa penculikan di Filipina itu.

  • Tugas yang Tetap Sama

Chairil Anwar pada masanya dan sastrawan manapun pada masa sesudahnya punya satu tugas yang tetap sama. Penyair adalah pembuka jalan ke masa depan bahasa. Hasil kerja penyair pun sebaliknya adalah penghubung bahasa dan pemakainya saat ini ke masa lalunya.

Sajak-sajak Chairil Anwar sepeninggalnya menjadi bahan bahasan, rujukan, pijakan bagi penyair sesudahnya, dikutip dalam pidato presiden, dipakai untuk mempertegas makna dan memperindah ucapan, juga menginspirasi film populer, apa yang berada di luar ranah bahasa.

Coba bayangkan betapa keringnya Bahasa Indonesia jika Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Goenawan Mohamad, dan para penyair lain tidak menuliskan puisi-puisi terbaiknya!

Penyair kini, sastrawan kini, berutang pada para pendahulunya dan ia harus membayar utang itu dengan menghasilkan karya-karya terbaik yang memperkaya bahan bacaan, rujukan, kutipan, sumber permenungan, bagi pembaca kini dan nanti.  Dan hanya karya-karya yang kuat yang bertahan lama. Seperti apa yang ditekadkan Chairil dalam bait sajaknya: Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Daftar rujukan:

  1. Aspahani, Hasan. Chairil. Gagas Media, Jakarta. 2016.
  2. Wikipedia. List of Countries by Literacy Rate. https://en.wikipedia.org/wiki/ (Diakses tanggal 22 September 2016)
Iklan

4 pemikiran pada “Situasi Chairil: Menulis Puisi untuk Negeri yang Penduduknya 90 Persen Buta Huruf

  1. Terima kasih Bung Hasan, rasanya selama 5 menit awal tulisan ini kepalaku ada di tahun 45, tepatnya di depan wajah Chairil.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s