Demi Lidah Si Frank dan Kumis De Saussure*

Oleh Hasan Aspahani

tempo
Tempo, 12-18 Februari 2018.

PERANG Salib ternyata juga membawa pengaruh yang luas – tapi mungkin terlupakan – pada bahasa. Apa yang disebut sebagai lingua franca jejaknya bisa dilacak hingga ke masa itu. Secara harafiah, frasa dari bahasa Italia itu berarti ‘lidah Si Frank’. Selama perang itu, orang Arab punya kebiasaan menyebut semua orang Eropa sebagai orang Frank. Selama perang itu terbentuk satu ‘bahasa baru’.

Dasarnya adalah bahasa Italia, yang telah melewati proses penyederhanaan, lalu teroplos dengan kata-kata dari berbagai bahasa lain, seperti Spanyol, Prancis, Yunani, Arab, dan Turki. Tak ada lembaga otoritas bahasa, tak ada ahli linguistik saat itu. Semua terjadi berdasar kesepakatan, keperluan dan kenyamanan dalam berkomunikasi di antara para pemakai bahasa itu.

Bahasa itu mulai berkembang di Levant atau Syam, Mediterania Timur, di mana berbagai orang dari bangsa-bangsa itu bertemu, berinteraksi dengan intens tapi tak ada persamaan mutualistis di antara bahasa ibu masing-masing. Maka lahirlah bahasa baru, bahasa oplosan, yang disebut bahasa Si Frank itu. Lingua franca, dari sudut pandang sejarah kemunculannya ini, adalah semacam kompromi, agar terbentuk satu bahasa bersama.

Sejak semula, bahasa Melayu yang kita pilih, lalu kita sepakati, dan sejak itu kita junjung sebagai bahasa persatuan, kita terima sebagai lingua franca di Nusantara, dengan pengertian yang berbeda dengan makna semula. Lingua franca kita itu kita fahami sebagai bahasa pergaulan atau bahasa pengantar. Secara alamiah, bahasa Melayu mengambil peran itu atau diberi peran itu karena kesederhanaannya. Ia tak perlu disederhanakan. Kesederhanaan itu rupanya memang penting. Suku-suku bangsa di Nusantara seperti orang-orang Frank yang masing-masing memiliki bahasa ibu yang juga berbeda.

Selain kesederhanaan bawaan, bahasa Melayu juga mempunyai kelenturan yang juga menjadi kekuatannya sebagai lingua franca. Tak hanya menyerap bahasa-bahasa Nusantara, sejak semula bahasa Melayu sudah menyerap kosakata dari berbagai bahasa lain, Arab, Belanda, Portugis, Spanyol, juga bahasa daerah yang para pemakainya di seluruh nusantara diperantarai oleh bahasa Melayu.

Kesederhanaan dan kelenturan. Demi lidah Si Frank, itulah yang seharusnya menjadi modal bagi kita untuk bisa terus-menerus mengembangkan Bahasa Indonesia, lingua franca kita itu. Dua hal itu juga seharusnya tetap dipertahankan sehebat apapun kita hendak mengembangkan bahasa kita. Bahasa Indonesia harus terus berkembang, tapi ia tidak boleh menjadi rumit dan kaku, kehilangan kesederhanaan dan kelenturannya. Bahasa yang sederhana dan lentur itu justru diperlukan untuk bisa menyampaikan konsep-konsep yang rumit, misalnya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Bahasa yang sederhana dan lentur itu juga diperlukan untuk bisa menjadi medium ekspresi estetis yang juga rumit, misalnya dalam seni sastra.

Kita gagal mengembangkan bahasa Indonesia kita ini, jika yang terbentuk adalah kesan bahwa bahasa ini rumit, sulit, kaku. Tentu saja tata bahasa harus dibakukan dan aturan-aturan yang ajek harus diupayakan terus-menerus. Mungkin juga bisa dipertanyakan, bukankah aturan itu dibuat agar bahasa itu punya bentuk yang jelas dan mudah dipelajari, dan kekakuan yang diakibatkannya adalah risiko dari pembakuan itu? Dari “Semiotika & Dinamika Sosial Budaya” karya salah seorang linguistik terbaik Indonesia, Benny H. Hoed (1936-2015), kita bisa menemukan penjelasan ringkas teori Ferdinand de Saussure (1857-1913). Bapak Lingustik Modern itu, memperkenalkan Linguistik sebagai ilmu untuk mengkaji bahasa dengan teori-teori yang mandiri. Yang ditawarkan oleh De Saussure adalah kesederhanan dan keluwesan teori. Salah satunya teori langue dan parole yang saya kira relevan dikutip untuk tulisan ringkas ini. Yang pertama adalah bahasa pada tataran konsep dan kaidah, yang kedua bahasa dalam praktik oleh masyarakat penggunanya. Kaidah menguasai praktik. Jika kita tak kuasai kaidahnya dengan baik bagaimana kita mempraktikkannya dengan baik?

Ditambah satu teori de Saussure yang lain, yaitu: yang utama adalah bahasa lisan, bahasa tulisan merupakan turunan dari bahas lisan, dikotomi langue-parole tadi rasanya bisa kita pakai untuk membangun sikap tentang bagaimana kita mengembangkan bahasa Indonesia kita. Demi kumis De Saussure, kata linguistik itu sendiri berasal dari kata lingua, yang berarti lidah. Bahasa Indonesia menyerap kata ‘lisan’ dari bahasa Arab yang juga berarti ‘lidah’. Jarak antara langue dan parole, bisa jadi ukuran kecerdasan seseorang berbahasa, dengan tetap berpegang pada kesederhanaan dan kelenturan. Orang yang cerdas berbahasa, akan menulis senyaman bahasa lisan, dan bicara seteratur bahasa tulisan. Artinya, dia mendekatkan jarak antara langue, konsep yang ia kuasai dan parole, bahasa yang ia praktikkan.

Jakarta, Januari 2018

– Dengan isi dan judul yang kena sedikit suntingan, artikel ini dimuat di kolom Bahasa Majalah Tempo No. 51, 12-18 Februari 2018.

Iklan

Satu pemikiran pada “Demi Lidah Si Frank dan Kumis De Saussure*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s