Petugas Menyensus, Penyair Menyajak

Keterangan untuk Petugas Sensus
Sajak Sapardi Djoko Damono

I
saya adalah seorang warganegara yang baik
meski bertubuh kotor, dengan pakaian cabik-cabik
kalau tuan saksikan kerut-merut di wajah saya
itu bukan karena sudah tua renta

tiap pagi saya berangkat jalan kaki ke paberik
kerja sehari, mendengar suara mesin-mesin yang risik
kadang ingin juga saya menjadi pegawai tinggi
sayang, saya hanya mendapat ijazah rakyat negeri

II

senja hari selalu pulang ke rumah yang sempit
dengan satu kamar saja, buat makan dan tidur
sudah tiga bulan belum saya lunasi sewanya
yang punya menagih saja, tapi saya belum punya

enak juga mungkin tinggal di rumah batu yang luas
membayangkan hidup sambil istirahat di kursi malam
tapi saya hanya bermimpi, sebab memang miskin
malam hari tak lain hanya terdengar suara angin.

III

pagi hari saya cium kening kelima orang anakku
yang tertua sudah sekolah, si bungsu masih menyusu
mereka memang boneka-boneka anugerah tuhan
kadang bagai mainan, kadang meminta yang bukan-bukan

dan bini saya adalah perempuan terbaik di dunia
seorang bidadari yang menjelma manusia
malam hari tidur bersama, memimpikan rembulan
esoknya lahir lagi tangis seorang bayi

IV

o, ya, ayam dan kambing kami tak punya
bahkan dagingnya pun sudah lama benar tak jumpa
sesekali kalau ada penjual satai lewat
kami tutup hidung kami kuat-kuat

hanya nyamuk dan kutu busuk tiap malam hari
mengganggku ketentraman istirah kami
di luar rumah terkadang anjing menggonggong panjang
dan jerit balik, katanya tanda durhaka kan datang

V

kami adalah keluarga melarat, kami masih bertuhan
hari demi hari tk luput dari tenaga harapan
biarlah kami tekankan benar ke dada segala yang papa ini
tanpa campur tangan orang lain, tanpa rendah diri

kami akan senantiasa bersujud tiap malam tiba
bercakap kepada tuhan yang adil
tak pernah ada yang kuasa menahan tangis kami yang tulus
menyusur pipi kami yang cekung, kering sekali

VI

saya adalah seorang warga negara yang jujur
dengan lima orang anak, dan bini yang setia
kalau tuan saksikan senyum ramah mereka
bukanlah sebab kenyang makan, sekedar ulur lepas saja

rasanya sudah semua bisa tuan ketahui
dan ingat, jangan sekali-kali tanyakan nasib kami
kalau tuan sudah merasa capai berdiri
maaf saja, kami memang tak punya kursi

16 – Okt – 1961

 

PENASARAN benar saya pada sajak ini.  Lalu saya ketik dari buku Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono (Gramedia, 2017).  Desain dikerjakan oleh Indah Tjahjawulan. Ini buku memuat manuskrip, teks tulisan tangan asli Sapardi Djoko Damono  dari tahun 1958 hingga 1970-an yang ternyata selama ini beliau simpan dengan rapi.

Ada bagian-bagian di teks manuskrip yang perlu ditebak, karena tulisan tangan semua orang itu khas, dan biasanya pada beberapa bagian ada yang hanya penulisnya sendiri yang paling tahu. Tulisan tangan memang tidak untuk dibaca oleh orang lain bukan. Manuskrip Sapardi ini umumnya bisa dibaca dengan mudah.

Saya mengingat tahun 2009. Kala itu saya menjadi salah seorang dari dua pembicara yang membahas sajak di buku “Kolam”, kumpulan puisi Sapardi yang ke-9. Beliau tampaknya senang dengan apa yang saya paparkan. Saya membandingkan sajak dari buku pertama hingga buku yang dibahas. Malam itu seusai acara, beliau mengundang saya untuk menginap di rumah beliau. Wah, saya tentu saja menerima undangan itu.

Malam itu kami berbincang, manuskrip ini beliau perlihatkan.  Saya ingin benar mencurinya. Ini harta karun.  Apalagi katanya, penyair besar mencuri, penyair kecil meminjam.  Saya tergoda, tapi itu mencuri yang lain. Mencuri manuskrip tetap saja kriminal.  Waktu itu, Sapardi sudah punya keinginan untuk menerbitkan manuskrip tersebut, apa yang kelak terwujud delapan tahun kemudian.

Ketika buku manuskrip ini diterbitkan, saya diundang, dan oleh penerbit diberi hadiah satu ekesemplar. Kenapa? Karena nama saya disebutkan dalam pengantar. Itu terjadi karena manuskrip ini dipamerkan di festival sastra di Makassar, dan saya menjadi kuratornya membantu Rumata dan IKJ yang punya hajat.

Kembali ke sajak yang bikin penasaran di atas. Tahun 1961, berarti penyair kita ini sudah berusia 21 tahun dan sudah tinggal di Yogyakarta. Beliau kita tahu kuliah sastra Inggris di UGM. Tahun 1961 memang ada sensus penduduk. Berdasarkan hasil sensus itu penduduk Indonesia mencapai mencapai 97.018.829 jiwa.  Angka itu tak ada hubungannya dengan sajak ini, tentu saja.

Yang ingin saya sampaikan adalah: ini sajak, menunjukkan kepekaan, kejelian, dan kreativitas Sapardi sebagai penyair. Peristiwa yang tidak puitis seperti sensus penduduk itu dijadikan pintu masuk, atau bingkai untuk menyampaikan potret masyarakat, keadaan sosial, dengan cara yang amat liris.

Petugas menyensus, penyair menyajak. Dari sajak ini dan dari semua sajak yang disajikan dalam buku ini kita bisa belajar banyak. Sebuah buku yang sangat layak dikoleksi.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s