Lisensi Puitika dan Kebebasan Berbahasa

Lisensi Puitika dan
Kebebasan Berbahasa

Oleh Hasan Aspahani

            APAKAH licentia poetica (Latin), poetic license (Inggris), atau lisensi puitika itu? Lisensi puitika secara mudah diartikan sebagai hak untuk melanggar aturan bahasa. Menurut Ensiklopedia Britanica, lisensi puitika adalah  hak yang diasumsikan oleh penyair ada padanya untuk mengubah atau membalikkan sintaksis standar atau penyimpangan dari diksi atau pengucapan umum untuk mencapai kecukupan aturan tonal dan metrum yang ingin dicapai dalam karyanya.

Kita bisa mengendus bahwa aroma definisi Britanica tadi sangat formal. Yang dikejar adalah metrum dan tonal, apa yang menjadi syarat mutlak dalam sajak formal, sajak-sajak dalam bentuk tetap. Dalam pantun dan syair, dua bentuk formal puisi kita, kita sering menemukan pembalikan sintaksis dan pengolahan diksi untuk mengejar syarat bunyi, metrum, yang menjadi ukuran keberhasilan atau keindahan.

Lantas, ketika yang ditulis adalah sajak bebas, yang tidak lagi mempertaruhan keberhasilan dan keindahnnya pada aturan bunyi dan terutama metrum apakah masih ada gunanya lisensi puitika itu? Masih perlukah hak itu dipakai? Perlu dan bisa, dengan pengertian yang diperluas. Tetapi harus diingat, pemakian lisensi puitika tidak lantas membuat sebuah puisi berhasil dan bagus, juga tidak serta-merta menunjukkan penyairnya hebat. Itu justru bisa jadi batu uji bagi kualitas karya dan kepenyairannya.

Di luar penggunaan bahasa untuk puisi, penutur bahasa, terutama untuk bahasa lisan, juga punya hak untuk melanggar, dan diberi toleransi untuk salah. Beberapa waktu lalu, saya punya kesempatan mengasuh keponakan saya yang masih berusia empat tahun. Kami membelikan dia boneka. Dia tergolong bocah yang lantih (Banjar), alias ceriwis, banyak omong. Katanya, “Dila sudah lama mau boneka ini, tapi umi nggak mauin.” Kami mengerti apa yang dia maksudkan. Dia ingin boneka itu sudah lama, tapi ibunya tidak memberinya, atau tidak membelikannya.

Saya tidak mengoreksi bahasa keponakan saya itu. Saya tidak menuntut dia untuk berbahasa dengan sempurna. Saya, kepada siapa keponakan saya itu berkomunikasi, memberinya toleransi kepadanya untuk salah. Di sinilah mungkin, penerapan teori langue dan parole De Saussure itu berguna. Keponakan saya, menguasa langue bahasa Indonesia belum seluas penguasaan saya. Maka yang muncul dari bahasa lisannya adalah parole yang unik, keunikan yang timbul karena keterbatasan penguasaannya atas langue, tapi ia tetap bisa dimengerti dan komunikasinya sama sekali tidak gagal.

Batasan kebolehan melanggar dan salah itu tentu saja bisa menjadi ketat atau longgar tergantung pada di lingkungan di mana si penutur berujar, dengan siapa dia berkomunikasi, dan dalam konteks apa ia berujar. Yang pasti, batas itu tak pernah benar-benar tak ada di titik mana komunikasi menjadi gelap dan gagal, atau benar-benar ketat, di mana komunikasi menjadi kaku.

Sepiawai apapun seorang penutur, selalu akan ada jarak antara langue  – bahasa yang dibayangkan sesuai kaidah baku itu, dengan parole – bahasa dalam penggunaan para penuturnya. Jarak itu bisa menjadi ukuran kecerdasan berbahasa seseorang. Semakin dekat jaraknya, semakin cerdas seseorang dalam berbahasa.

Saya selalu beranggapan, puisi adalah wilayah parole seorang penyair. Tentu saja penyair harus dianggap sebagai seseorang penutur yang mumpuni – atau senantiasa mewajibkan dirinya – dalam hal penguasaannya atas langue. Dengan lisensi puitika, tidak hanya dalam hal pengkhianatan atas diksi dan aturan sintaksis, dan seluruh perangkat puitika yang tersedia,  penyair sesungguhnya – dan seharusnya dengan sadar – menarik ulur jarak antara langue dan parole.

Contoh terbaik dalam hal ini adalah penyair Sutardji Calzoum Bachri dengan kredo puisinya itu. Kredo Sutardji menunjukkan betapa dia sebagai penyair menguasai linguistik dengan kuat. “Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) essrta penjajahan gramatika,” ujar Sutardji. Kecuali fonologi, hal pokok dalam subsistem bahasa disebut oleh Sutardi di sana: leksikon, pragmatik, dan gramatika.  Tapi yang penting adalah untuk apa itu dilakukan, yaitu: Bila kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan.

Maka lakukanlah apapun dengan sadar untuk memungkinkan kreativitas.  Kreativitas bukan cuma urusan bahasa. Kreativitas adalah urusan kehidupan.  Jika bahasa bisa mendorong terciptanya iklim kreatif di semua unsur kehidupan, maka kita memang mutlak memerlukan bahasa yang demikian, bukan bahasa yang menyanjung formalitas yang kaku.

Jakarta, Januari 2018

 


*Tulisan ini dimuat di kolom bahasa Majalah Tempo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s