Berjalan dari Gerbang ke Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Cikini

TENDA besar ditegakkan dan terpal lebar ditikarkan, di lapangan parkir.  Emha dan orang-orang datang dengan wajah-Nya, yang tersingkir, datang dengan suara-Nya, yang tak didengar. Hujan turun. Mengumpulkan orang-orang malang dan orang-orang beruntung dengan dingin yang adil dan merata.

Trotoar platenarium semakin lebar. Mahasiswa IKJ pulang dengan gulungan kertas gambar. Segerombol remaja berfoto bergantian di tiang-tiang  dengan juntaian kabel. Lampu tak menyala. Gedung-gedung apartemen meninggi. Senja turun.  Mengiringi orang-orang dengan redup yang rutin dan terjadwal.

Jassin pulang. Memeluk tas kulit. Koyak di beberapa bagian. Tak lagi berfungsi reslitingnya. Membawa beberapa puisi yang belum sempat ia gunting. Ia menyapa Bng Maing. Duka turun. Jassin menghapus air di matanya, dengan sapu tangannya. Hujan menyamarkan tangis di mata Bang Maing.

Di sudut Graha Bhakti Budaya, Bang Jose, mencari cara pada Samsungnya, bagaimana mendapat sambungan wifi. Ia ingin membaca email dari Putu Wijaya. Kiriman naskah yang akan dimainkan Teater Tanah Air, pada festival di Jerman. Tawa turun. Menyebar dari suara ke suara anak-anak yang sedang berlatih berlakon.

Di depan XXI, Afrizal memandangi ponselnya. Ia mungkin mengetik puisi yang musykil pada alamat penjemputan aplikasi ojek online. Atau mengecek jadwal film, yang bisa dengan mudah dia lihat poster di dalam sinema. Malam turun. Bayang-bayang Afrizal dipermainkan, lalu lalang kendaraan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s