Hujan Setelah Hudan Membagikan Payung

HUDAN membagikan hujan. Aku memilih hujan berwarna
biru, selain hitam dan merah yang tersedia di taman
kota itu. Hujan itu menjadi payung. Berputar di
tangan kami ketika walikota membuka festival musim
hujan. Angin yang sedang flu meniup payungku. Aku
mempertahankan hujan. Aku menaiki tangga hujan.
Payungku tak takut ketinggian. Hujan lalu duduk di
kursi-kursi kafe di Pujasera Mingguraya. Menonton
puisi yang lain, yang akan membaca para penyair dalam
bayangan kota-kota mereka.

Aku tidak jatuh. Aku jadi drone. Dengan kamera
membuat foto udara. Arcana sedang menggambar ikan
purba. Dari kenangan laut dalam, berenang dalam
Instagram. Sambil menonton upin-ipin dan bermimpi
menjadi penggembala kerbau di rawa-rawa Kalimantan.
Matdon memandu diskusi naskah kuno lalu menutup
dengan pantun yang bersampiran yang mengandung
kata ikan hiu dan ikan sepat. Thank you, verymuch.
Kurnia sedang menarik cerita pendek dari tangan
Arcana. Tarik-tarikan di antara hujan di kursi
penonton. Kurnia dibantu oleh hujan lain yang
tercipta dari ratusan puisi yang ia bawa dari
Eropa. Kurnia kalah. Arcana mendapatkan kembali
cerita pendek itu.

Aku mencari-cari Narudin. Dia ada di pojok. Gelap.
Menyendiri dan sesekali melayani selfi. Manis
sekali anak ini. Dia membawa hujan ke dalam diskusi.
Ia bicara seperti motivator mahal. Setelah moderator
membaca seluruh prestasi dalam CV-nya. Sesekali hujan
berteriak, “Hidup Narudin!” Narudin semakin bersemangat!
Sesekali dia mengajak hujan bertepuk tangan untuk
kutipan-kutipan yang ia sebutkan. Arsyad Indradi kesal.
“Aku sudah tua. Bukan anak TK,” katanya. Narudin
menghilang. Dia sakit. Mungkin ia tertular flu dari
angin yang meniup payungku. Minta honornya diantar
ke kamar sambil memikirkan status Facebook yang
paling indah yang akan dia tuliskan, setelah
mengumumkan telah menemukan kesalahan pada sajak
Sapardi dan Abdulhadi. Tepuk tangan!

Aku tidak jatuh. Aku jadi drone. Masuk ke dalam
telingaku sendiri. Mendengarkan puisi yang hujan.
Telingaku menjadi payung yang melindungiku dari
hujan yang lain. Misalnya: musikalisasi puisi
Bang Ben yang digubah menjadi badai oleh gadis-gadis
dari Sanggar Buluh Marindu, Banjarbaru. Itu berbahaya.
Itu berhantu. Malam itu beberapa penyair kesurupan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s