Orang-orang Baru dan Hal-hal Lama yang Kutemui Lagi Sebagai Sesuatu yang Baru Setelah Merayakan Hujan di Banjarbaru

1. Soto Banjar

: H.E. Benyamine

HIDUPKANLAH aku
selalu dari bumbu terbaru
dan akar atau buah rempah nomor satu
dari rumpun perdu di kebun
atau pasar malam itu

Aku akan menambahkan sendiri sebuncu
percikan waktu di situ
lalu kuantar sebentar ingatanmu
kepada yang mudah lepas dari raga ragu

Misalnya aku akan membawamu
kepada api pada tungku
melatihmu sabar menunggu
menjaga dan menjunjung suhu
memanggil penjerat, pembubu, pemburu
pencari jejak telapak hantu atau bekas sepatu
anggota pramuka
yang tak pernah menyelesaikan
uji ketangkasan

Aku juga akan mengingatkanmu
pada warna yang tak ada pada pucat kuahku
tak juga pada daging ayam kampung itu

Masihkah kau bisa mengasah Pisau itu?

Atau saat kau lihat rasa sakit yang singkat
ketika lewat luka di leher itu
kau kembalikan darah ke tanah
seperti menyusul apa yang dulu datang bersamamu?

Maut adalah penjemput
yang tak pernah terburu-buru
karena rumah besar itu hanya punya sebuah Alamat
dan dia punya Jadwal yang selalu tepat.

Dan hidup selekas waktu duduk
di kedai bandara
atau di akademi bangku panjang
pujasera Mingguraya
untuk menghabiskan
semangkok yang terhidangkan
– seperti kau hadapi aku –
dengan ketupat atau
nasi mayang gambut.

Kau tahu juga, akhirnya,
maut itulah yang menghidupkan hidup
dengan memberi waktu padanya
– seperti yang kuberi sendiri padaku –
sepercik saja.

 

2. Banjarbaru dan Puisi

: H. Iberamsyah Barbary

BANJARBARU adalah botol kecap cap Udang dan Ikan
di meja pujasera yang menyambut aku dengan puisi

Banjarbaru adalah trotoar malam, toko kacamata yang
menutup pintu bagi rabun mataku di hadapan tubuh puisi

Banjarbaru adalah rumah pensiun yang mengembalikan
penakluk kota, penjual asuransi jiwa, kepada puisi

Banjarbaru adalah minimarket yang memutar lagu pop
untuk aku yang mencari handuk dan memikirkan puisi

Banjarbaru adalah panggung setengah melingkar bagi
penyair jauh membawa beban berat sekali dalam puisi

Banjarbaru adalah roti Jordan rasa tiruan nanas atau
durian, dan aku malas mengunyah, susah menelan puisi

Banjarbaru adalah pramuniaga yang mengucap terima kasih
dalam bahasa Banjar fasih dan aku mendengar puisi.

 

3. Sedia Payung dan Biarkan Hujan

: Radius Ardanias Hadariah

JALAN-JALAN ke Banjarbaru…, pantun itu! Menyampir
dalam ingatanku, jangan lupa membeli…, tapi kau
sudah beri aku – payung, bahkan beserta hujannya yang
sangat terkenal tapi tak bisa kukenal dengan baik itu.

Apakah payung membenci atau mencintai hujan? Aku bertanya
kepada pantun, dan dia menjawab, “sampiran dan pesan
padaku sudah jauh terpisah, dan aku bukan lagi aku!”
Dan kau mencoba mempertemukan dengan payung dan hujan.

Jalan kota, taman, dan sirine ambulans, memberi kata padaku,
“Sedia payung…,” sebelum suara lain, “…dan biarkan hujan,”
kata payung itu. Dan kau mungkin tahu…, aku mencari bila
ada langit, dengan pelangi malam hari, yang serapuh puisi.

 

4. Laut Kami, Hujan Kami

: Roymon Remosol

LAUT kami bahasa bersama kami
kalau kami mau menghidupkan malam
kami hidupkan dengan puisi
kami dorong perahu
tinggalkan pantai ke tengah teluk
mendayung dalam ombak lagu-lagu
pasang umpan
lempar pancing
lalu sebentar menunggu
nanti di ujung kail kami menggelepar kerapu segar

: mengucapkan kata yang segar!

Kami dan puisi kami tak makan ikan yang dua kali mati

Puisi kami mewangi dari bara api
Gurih daging putih yang bikin diam lidah jadi menyanyi

Amboi, kata seru itu!
Seru kata itu!

Meningkahi angin yang kacau
dalam hujan angin barat, di langit yang kental-padat

Menggemakah juga itu ke balai hatimu?

*

HUJAN kami bahasa bersama kami
Kalau kami mau tahu separah apa cuaca
kami tampung hujan pada hari pertama bulan kelima

Kami tak bertanya pada badan klimatologi

Kami mandikan diri pada hujan kami itu
aga pintar mengucapkan lagi doa-doa lama:
doa bersama kelapa
doa bersama cengkih
doa bersama pala

Hujan adalah bahasa Tuhan yang kami mengerti
Hujan adalah cara Tuhan menjawab doa-doa kami

Kami dan doa kami memohon Tuhan berkali-kali.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s