Bila Balik ke Daik?

: untuk D

DENGAN sepasang cinta,
pulau yang baik ini,
menikahkan dan
menyatukan kami, dan
Gunung yang bercahaya
dan bercabang itu
Menjadi saksi.

“Sah. Sudah. Alhamdulillah,”
kata kabut sekawanan awan
yang menyembunyikan
Apa yang dulu pernah patah,
dan meyakinkan kami
Bahwa puncak itu
Sesungguhnya masih ada
senantiasa ada
Mungkin dalam ketaktampakannya
Ia cemas tapi
Ia baik-baik saja.

Lalu kami mulai
mendaki ke sana.

*

Dengan sepasang doa
pulau yang cantik ini,
Mengikat dan
Memikat hati kami

Kami meninggalkannya
Tapi kami tak pernah
Berdaya untuk
Bisa melupakannya

Puncak yang patah itu
Tumbuh menyambung hati kami
Menjadi tunas yang lain
Menjadi cabang yang berbeda
Yang rimbun
Yang berbunga

Kami tak pernah memetiknya
Kami membiarkannya
Mekar sempurna
Dan berguguran
Menjadi gumpalan
Kabut kawanan awan.

Lalu kami tergoda
Berdiam di dalamnya.

*

Dengan rindu yang sabar
Pulau ini berbisik membujuk kami
Untuk datang atau pulang

Melompat ke luar
Dari kabut kawanan awan itu

Kembali kepadanya lagi

Menyerahkan seluruh
Atau sebahagian diri
Meninggalkan seisi
Atau sebuncu hati

Nanti waktu yang tekun itu
Akan bekerja dengan teliti membuktikan
Bahwa cinta kami
Doa kami
Rindu kami
Memang harus kami tanam
dan pasti akan tumbuh subur,
Meninggi,
Menjadi,
Merimbun,
Memuncak,
Mengada,
Menjulang,
di sini,
di Daik ini,
di Pulau Lingga ini.

Jakarta – Batam – Daik, 20 November 2017

:: Pertama kali ditayangkan di LINGGA GEOGRAFIA.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s