Malam Malaria

BAPAKKU, aku harus pergi, dengan darah di tanganku,
dan coreng di wajahmu. Maaf, karena marah, kubantai
anak lembu yang memakan dan merusak tanaman labumu

Parang pertama yang kau berikan padaku, penebas gulma
di kebun kita itu, kutinggalkan di kepala lembu itu,
aku tak bisa dusta, Bapak, akulah pembunuh hewan itu

Udara buruk sekali, peluh di dahi bulan, malam kena demam,
dan aku harus pergi, Pak. Tak pernah ada saat yang tepat, kan?

Aku lelaki sudah bermimpi lelaki, dan mulai bisa berdosa.

Di kota, yang selalu kau dongengkan di tidur masa
kanakku, mungkin masih ada rombongan sandiwara itu,
berputar dalam lingkaran kian lebar, makin ke tepi

Aku mungkin bisa bermain sebagai Skaramus atau Zorro
karena di balik topeng itu aku bisa kenal siapa aku

Aku pernah cerita tentang guru Kesenian memuja bakatku,
waktu kau tanda tangani rapotku, Bapak, “Kau bisa jadi
pelakon yang hebat, Nak!” Aku dapat nilai sembilan,
untuk pelajaran itu, setelah memainkan monolog yang
kutulis sendiri naskahnya. Kau ingat ‘kan, Bapak?

Monolog tentang hantu yang menakut-nakuti anak-anak
kampung, sembunyi di banir atau di rongga pohon kayu!

*

Bapakku, aku sudah pandai membaca dan tahu mengangka,
tak lagi kurang menghitung buah semangka, di kebunmu,

Aku akan menulis surat, Bapak. Mungkin tentang tepuk
tangan, terang lampu, dan dialog yang harus kuhapalkan,
di panggung pura-pura ini. Ah, tak usah kau balas, Pak.
Surat-suratku itu, kelak kau simpan saja, bersama akta
kelahiranku, bersama raporku, foto-foto bayiku, atau
kau bakar saja semua, jika kau anggap telah sia-sia
kau membuahi ibu, dan sia-sia ibu melahirkan aku

*

Mungkin akan miskin dan sendiri, tapi aku merdeka, Pak.

Mungkin nanti aku akan bisa jadi sutradara, menulis
lakon, dan berlakon di panggung besarku sendiri, Pak.

Mungkin kau akan melihat fotoku di balik topeng, di
halaman 1 suratkabar disertai tulisan penuh pujian, Pak.

Mungkin aku bisa punya rombongan sandiwaraku sendiri.

Mungkin aku bisa punya teater mewahku sendiri, dengan
jadwal padat pementasan sepanjang tahun, Pak. Datanglah,
sebagai penonton yang bertepuk tangan paling lama, duduk
di kursi paling hadapan, dan ajaklah ibu bersamamu, Pak.

Atau aku akan jadi hantu, menakut-nakuti sendiri hidupku.

*

Aku harus pergi, Bapakku. Kalau adik-adik bertanya,
katakan aku pasti pulang dengan seratus lembu. Aku
akan ganti anak lembu tetangga kita yang kubunuh itu.

Dan untuk kita, Bapakku, untukmu, ibu dan adik-adikku,
ada lembu-lembu bersayap, dan kita terbang bersama,
tamasya, ke pantai berhutan pinus itu, ke museum
dongengan, ke bukit di mana cengkeh berbunga lebat,
ke Jeddah, ke Madinah, ke Makkatul Mukarramah.

Ya, aku harus pergi, Pak, Bukan karena takut itu, tapi
hanya dengan jalan ini aku bisa membunuh kepengecutanku.

2010
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s