Yang Tak Kau Baca pada Teks Pidato Gubernur Baru Itu

ENGKAU memulai
dengan nada yang pedih
rintih hujan
rintik tangisan
bertindihan
berhempasan
saling mengelak
saling mengetatkan
saling mendekap
saling membebaskan
bergantian
antara
yang membukan
dan menyelainkan
yang membahkan
dan memakinkan

Aku kan bukan aku
jika engkau tak mengaku padaku
dan engkau bukan engkau
jika aku tak mengengkau padamu

Aku melawan
langit menuangkan hujan
dan hempasan membobol pematang pemukiman
merendam televisi dan kulkas bekas
dan menyeret seorang
lelaki tua yang kehilangan
lapak kedai minuman kerasnya

Ada pejalan
bernaung di teras minimarket
tak sempat melihat
tadi seorang berlari
ke Balai Kota
dengan lagu kemenangan pada iPhone-nya
juga keringat yang mewah
dari tubuhnya
dan airmata yang murah
di wajahku,
wajah pejalan itu.

Aku, pejalan itu,
menunggu di halte
busway koridor Monas – Ragunan
mencoba mengerti
kata yang tak kami pahami
di spanduk besar dan pidato
yang beberapa hari ini
ramai dibicarakan.

Kami coba juga menating ponsel retak
mengambil swafoto dan
dilanda tembungah
seperti menemukan
seorang teman lama
yang dulu berkata:
badut tak perlu kata untuk berkata
bertingkah saja sesuka sangka
tak lucu pun
engkau sudah lucu
dan kami tetap akan tertawa
mengenang kasih dan kasihan pada nasib kami
yang selalu jenaka.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s