Sajak dengan Satu Bait Tegak dan Satunya Miring

1.

AKU bisa meniti pelangi, tapi buat apa? Sebab ia tak menyeberangkan aku ke mana-mana. Di cakrawala ini, aku terjebak dari ujung ke ujung. Tak pernah sampai ke selasar telagamu.

Tak ada telaga, hanya kubangan bubur lumpur yang terus-menerus menyembur. Tak ada pelangi, hanya warna-warna parau tangisan kami. Pecah dan patah menikami langitmu.

2.

LAUT yang kau ombakkan ke dadaku, menumbangkan keberdiaman karang. Perasaan-perasaan lepas sebagai perahu kecil nelayan, tak lagi terikat, di tiang tambat, tapi tak tahu di mana tempat yang tepat menebar jala. Di perutku, ikan-ikan mati.

Di lautku, pencuri datang dan pergi. Membawa ikan-ikan yang cuma kupuja dalam bait dangkal puisi. Nelayan tidak hidup dengan bait yang hambar. Di tangannya, ia genggam luka-luka. Luka-luka ia garami dengan tiga garam: sejeram airlautku, segeram keringatku,  sesuam airmataku.  
 

3.

TAHUKAH  bulan tentang bait-bait tentangnya yang dituliskan penyair dari zaman ke zaman? Mendengarkan bulan lagu-lagu yang dinadakan penggubah keharuan? Dilantunkan biduan bersuara selentur buaian? Selembut kilau kunang-kunang? 

BULAN mungkin telah lebih tabah mendengarkan jeritan, dari nganga luka di tubuh si malang, tertebas parang, waktu yang tajam dan panjang, pangkal ke hulu, perjalanan telah jauh meninggal asal. Julur lidahnya alir darah, masin dan kental, menjilati duka sendiri.  

Batam, 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s