Beberapa Catatan Kaki untuk Sebuah Puisi-Esai yang Tidak Ada

1. AKU belum mengenal dia. Aku pernah mendengar
dia menyebut namanya, mungkin, di kantor kecamatan.
“Liris,” katanya. Nama yang tak lazim, kukira. Dan aku
tak mendengar dengan jelas ketika ia menyebut nama
belakangnya.

2. DI kartu keluarga itu hanya ada namaku. Aku menatap
kosong pada kolom-kolom melompong yang terbentang,
serasa amat luas, di lembar resmi itu. Kolom yang seharusnya
berisi nama-nama lain, dan di lajur berikutnya seharusnya juga
terisi penjelasan tentang hubungan nama-nama itu dengan
namaku: istri, saudara kandung, anak kandung……

3. AKU tak percaya pada kebetulan, tapi kukira nasib
memang kadang memberi juga semacam keajaiban.
“Ya, pertemuan ini kebetulan yang ajaib,” kataku padanya.
Kami bertemu di sebuah toko hewan peliharaan. Aku hendak
membeli biji-bijian untuk hamster, dia membeli sepasang
kura-kura kecil, ikan kecil yang lekas menetaskan telur.

4. KAMI bertemu di restoran bogabahari, tak jauh dari
sebuah pelabuhan. Kami memulai dengan permainan. Aku
memesan makanan, tanpa setahu dia, dan dia memesan
dalam catatan rahasia. Kepada pelayanan kami minta
hanya membaca, lalu menyiapkannya. Sambil menunggu
kami bercerita tentang riwayat namaku dan namanya.
Kami ternyata memesan menu sama: kerapu asam pedas!

5. “LARIK,” katanya, menebak cerita di balik namaku.
“Kukira, ayahmu penyair yang suka puisi kongkret”.
Aku tertawa, dan kukatakan, “ibumu penyair imajis.”

6. KAMI bercerita rahasia kesegaran rasa asam pada
kerapu yang nyaris tandas. Aku sudah menghabiskan
bagian kepala, ia menyantap merayap dari ekornya.
“Parut saja segarnya tomat. Larutkan dalam air hangat.”
kataku. Lantas ia memberi saran soal takaran tapioka agar
kentalnya kuah pas dalam cecap syaraf lidah yang peka.

7. KAMI bercerita bergantian tentang kerepotan mengurus KTP di kantor kecamatan, dan kolom-kolom mubazir di kartu keluarga. Aku bayangkan, kelak ada nama-nama seindah puisi di sana, dan ia menyebutkan dua nama, “Ballad untuk anak lelaki, dan Sonnet bila ia wanita.”

8. NAH, begitulah. Telah kurampungkan, catatan kaki.
Dan kau mengerti, kenapa kusebutkan pada judul sajak ini,
bahwa aku menulis untuk sebuah puisi yang tidak ada?

 

:: Dari blog lama saya Sejuta1Puisi, 15 Oktober 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s