Kata yang Tak Cukup Buat Berkata

Oleh Hasan Aspahani

BERAPA jumlah kata dalam sebuah bahasa? Bisa diterka, tapi tak pernah ada angka yang pasti. Bahasa Inggris punya 470.000 kata, menurut kamus Merriam-Webster (1993). Edisi terakhir Oxford English Dictionary, kamus Bahasa Inggris yang lain, memuat setengah juta kata. Bahasa Inggris saat ini menjadi bahasa dengan jumlah kata terbesar. Bandingkan dengan tetangga dekatnya. Bahasa Jerman diperkirakan punya 185.000 kata, dan Prancis lebih sedikit lagi, 100.000 kata. Bagaimana dengan Bahasa Indonesia? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi IV (2008) memuat 90.049 lema. Tahun 2016, edisi V KBBI kita itu memuat 127.036 lema dan makna.

Berapa kata yang dikuasai oleh seorang manusia? Penelitian pada pengguna Bahasa Inggris memperlihatkan hasil yang amat bervariasi, antara 20 ribu hingga 42 ribu kata. Juga tergantung pada perkembangan usia. Sampai usia dua tahun rata-rata seorang anak bisa menguasai tiga ratus kata. Umur lima tahun, melonjak hingga lima ribu kata, dan pada usia 12 tahun mencapai 12 ribu kata. Shakespeare disebutkan memakai kurang lebih 30.000 kosakata yang berbeda dalam semua karyanya. Dan kala itu, jumlah kata Bahasa Inggris, hanya sepertiga dari jumlahnya yang sekarang.

Apa artinya fakta-fakta itu? Bahasa tak pernah merasa cukup dengan jumlah kosa-katanya. Selama bahasa masih hidup, ia akan terus menambah kata-kata baru, karena pemakainya membutuhkan kata itu. Sementara itu kata-kata dalam sebuah bahasa juga bisa mati atau menjadi arkhaik.

Kata makin banyak, kemampuan rata-rata manusia untuk menguasai kata tak bertambah, berhenti pada usia dan angka tertentu. Dengan bekal kata-kata yang selalu dirasakan tak cukup itulah, penyair menulis puisi, dan pembaca membaca puisi. Jika ada kata yang jarang dipakai, di dalam sajak seorang penyair, maka yakinkan bahwa kata itu memang dibutuhkan untuk hadir di sana. Kata yang seperti itu, kadangkala menjadi kata kunci untuk membuka pintu puisi.

Di sini kata-kata Chairil yang ingin mengorek kata ke intinya memiliki konteks yang relevan. Di dalam puisi, kata mungkin tetap terlihat mula-mula dari kulit permukaannya, tapi jika penyair tahu benar isi kata itu bahkan hingga ke makna terdalamnya, dan dengan pengetahuan itu kata tersebut dihadirkan di dalam puisi, maka pembaca akan serta-merta merasakan tenaga kata itu. Pengetahuan itu mencukupkan daya ucap kata, menyokong apa-apa yang hendak diucapkan oleh si penyair. Chairil jauh-jauh hari seakan telah menyediakan jawaban dari sinyalemen Toto Sudarto, dalam sajak “Keterangan” (1955), yang bukan kebetulan ditujukan kepada H.B. Jassin, kepada siapa Chairil juga mengucapkan hasratnya mengorek kata:

Seperti aku, di mana kata tak cukup buat berkata
Tertelungkup dibawah bakaran lampu seharian bernyala
Terkadang jemu terus melihat matahari
Pesiar, tanpa kawan berkejaran

Kata tak cukup buat berkata, kata Toto Sudarto. Pada kesadaran dan ketegangan seperti itulah penyair dan pembacanya berhadap-hadapan dengan puisi. Kata (yang kita miliki) tak cukup untuk memahami (dan memberdayakan) kata. Puisi, medan bahasa itu, seperti medan magnet yang terus-menerus menarik serbuk besi kata-kata, seperti hendak mencukupkan apa yang kurang pada dirinya. Namun penyair Toto memulai sajaknya dengan: ….Dimana berakhirnya mata seorang penyair? Ia menjawab: Kuburan dia! Yaitu nisan kata-katanya selama ini. Apabila akhirnya berujung pada kematian juga apakah puisi hanya sia-sia? Tidak, kuburan dan nisan harus dilihat bukan semata sebagai tanda bahwa si penyair telah mati, tapi harus diterima sebagai monumen bahwa si penyair pernah hidup. Dan pembaca bisa dan berhak menghidupkan kembali monumen itu. Membatalkan maut, titik akhir itu, seperti, bait penutup sajak Toto tersebut:

Tanpa merasa tahu tentang apa
Dia menyeret langkahnya
Sampai dimana dia akan tiba
Tapi dengan jari kakinya ditulisnya sebuah sajak.

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Kata yang Tak Cukup Buat Berkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s