Kerelaan untuk Memasuki Keheningan

Oleh Hasan Aspahani

PUISI selalu lahir melewati proses menyendiri. Penyair menyisih sejenak dari kebisingan.  Ini tak musti dalam pengertian fisik.  Di manapun itu, penyair harus bisa menyepi, meneduhkan batinnya.  Ia tidak menghindari keramaian. Ia bisa dan harus hidup di tengah orang banyak, sumber ilham dan tema terbesar sepanjang masa. Tapi ketika benaknya hamil besar dan ia harus melahirkan puisi-puisinya, maka ia menyisih ke sunyi, “di tapal batas antara impian dan kenyataan,” kata Sini KM, wilayah yang memungkinkan dia merenung, atau seperti dikatakan dengan baik oleh Rendra: mengolah kesadaran.

Pembaca puisi adalah orang yang diam-diam mengikuti pengembaraan ke wilayah sunyi sang penyair. Jalan yang ditempuh pembaca tak harus selalu sama dengan jejak si penyair. Sebab, kepenyairan itu sendiri, sekali lagi kita kutip Saini, adalah ziarah tanpa peta, pelayaran tanpa bintang. “Padahal dunia menawarkan begitu banyak jalan” (Kepada Penyair Muda, 1; 1983-1987).

Apakah yang ditemui pembaca adalah hal-hal yang sama dengan apa yang menggerakkan penyair ketika menuliskan puisi-puisinya? Bisa jadi iya, tapi jika tidak pun tidak apa-apa. Sesungguhnya penyair adalah manusia yang sama saja dengan pembaca puisinya, dalam hal posisinya terhadap alam, di hadapan Tuhan. Sikap dan caranya menghayati kehidupanlah yang di mata orang lain bisa terlihat unik dan otentik, dan itu terwujud dalam sajak-sajaknya. Penyair sesungguhnya mengucapkan dengan kemungkinan cara ucap terbaik, tentang apa-apa yang dialami, tapi tak dipedulikan, oleh banyak orang. Kenikmatan membaca puisi adalah ketika menemukan sesuatu yang berharga, yang selama ini terabaikan, dan lepas dari kehidupan yang rutin.

Pada titik itu sosok penyair mempunya harga, meskipun dia tak mengemis untuk mendapatkan itu. Mari kita baca “Sang Penyair”; 1987-1989), sajak lain dari Saini KM:

Sepi telah memanggilku untuk mengembara
di batas kini dan nanti, malam dan pagi;
mendengar bintang bernyanyi, bulan bermimpi.
Sunyi memanggilku berangkat seorang diri:

Melintas cakrawala dan masuk ke negeri asing
untuk menabur kata dari kandungan kalbu:
Benih-benih pengalaman berkecambah dalam gelap
di seberang fajar, wilayah belum berkabar.

Hening membuka ruang serba makna
yang lenyap dari hingar dunia;
bagai titik embun yang mengendap di udara
setetes demi setetes jatuh menyegarkan rohmu.

Penyair adalah dia yang memenuhi panggilan sepi, berangkat sendiri ke wilayah perbatasan antara kini dan nanti. Memang terdengar seperti laku seorang wali atau bahkan nabi. Pergi menyepi ke gua nun di bukit sana, atau menunggu di tepian sungai. Sekali lagi, dengan begitu, penyair tidak sedang menghindar dari hiruk-pikuk kehidupan, ia hanya sekadar menyisih sebentar, membangun lagi kekuatan batinnya, untuk kembali lagi ke kehidupan yang wajar, membawa suara yang mungkin tak akan banyak yang menghiraukannya. Penyair menghadirkan titik embun yang mengendap di udara, yang kemudian tanpa orang lain menyadarinya, embun itu, setetes demi setetes jauh menyegarkan roh siapa saja. Pembaca puisi adalah orang yang membasahi jiwanya dengan tetesan embun itu sebaganyak-banyaknya, mendapatkan kesegaran sesegar-segarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s