Tanya Pertama Keluar di Hati

Oleh Hasan Aspahani

DI hadapan puisi yang baik, sebagai pembaca, hati kita mau tak mau akan tergoncang. Atau setidaknya tersentuh.  Sebelumnya, yang pertama-tama puisi itu membangkitkan pertanyaan dalam diri kita.  Kita bertanya, mungkin karena kita tak serta-merta paham, tapi kita terpikat dan ingin memahaminya.

Di hadapan sajak yang baik, kita seperti berada di muka kaca cermin. Mungkin cermin itu obskur, dan bergoyang-goyang, tapi kita benar-benar melihat pantulan diri kita sendiri di cermin itu. Kelak mungkin kita bisa memamahi sebagian kecil dari diri kita, setelah sekilas melihat wajah kita dalam pantulan cermin bernama puisi itu.

Sanusi Pane (1905-1968), pada 1931, menulis sajak tentang sajak. Bentuknya soneta, suatu bentuk yang memang olehnya dan kawan-kawannya saat itu diperkenalkan dan digalakkan penulisannya. Sanusi tak lagi merendah-rendah memohon maaf karana hamba tak pandai bersyair tapi memberanikan diri juga menulis syair. Sikap lama itu telah disingkirkan.

Sanusi dengan lugas menjelaskan atau mengajarkan bagaimana menulis sajak yang berharga. Seraya menyadarkan soal bentuk dan isi, yang baginya justru bukan di situ letak nilainya, tapi pada momen pertemuan sajak dan pembacanya. Sanusi menulis: Di mana harga karangan sajak, / Bukanlah dalam maksud isinya, / Dalam bentuk, kata nan rancak / Dicari timbang dengan pilihnya. // Tanya pertama ke luar di hati, / Setelah sajak dibaca tamat, / Sehingga mana tersebut sakti, / Mengingat diri di dalam hikmat.

Dan inilah enam larik terakhir dari soneta tersebut:

Rasa bujangga waktu menyusun,
Kata yang datang berduyun-duyun
Dari dalam, bukan nan dicari

Harus kembali dalam pembaca,
Sebagai bayang di muka kaca,
Harus bergoncang hati nurani.

Sajak Sanusi ini bicara soal krusial dalam sajak sepanjang masa, yaitu hubungan penyair dan pembaca, penyair dan sajak, sajak dan pembaca. Jika penyair menulis sajak karena digerakkan oleh rasa haru, maka keharuan itu haris ia susun dengan sejujur-jujurnya – dengan kata yang berasal dari dalam, bukan yang dicari-cari – maka keterharuan itu kemudian harus kembali ditangkap oleh pembaca.

Puisi harus bisa menjadi cermin di mana pembaca bisa menangkap bayangan dirinya sendiri, dan membuat hatinya terguncang karena itu. Sajak harus jadi agen yang setelah dibaca oleh pembaca, aka ada hikmat yang terikat dalam jiwa si pembaca itu. Hikmat itu adalah amanat yang membuat pembaca tergerak untuk menyelaraskan pandangan dalam hal benar-salah (logika), baik-buruk (etika), bagus-jelek (estetika).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s