Perihal Membaca Puisi (16): Semacam Kebetulan Kau Pembaca dan Aku Penulis

Oleh Edward Hirsch

Membaca puisi meminta pembaca yang aktif yang harus secara imajinatif berkolaborasi dengan puisi untuk memberi suara kepadanya.

Puisi liris adalah bentuk materialisme verbal, seni bahasa, tapi lebih dari sekadar “kata-kata terbaik dalam urutan terbaik.” Bahasa adalah bahasa yang memenuhi dirinya sendiri, bahasa dipadatkan dan dibawa ke kekuatan tertinggi. Dalam tindaknya, bahasa melawan waktu, melawan kematian. Ada kalanya saya terpesona oleh bagaimana puisi-puisi menjelma menjadi ruh – banyak ruh – dan menghantam tiang penopang keberadaan manusia.  Di lain waktu, saya terkejut dengan betapa sedikit puisi harus berjalan terus, betapa tak cukup makna yang ia punya. Untuk apa menerakan beberapa tanda hitam di halaman kosong lalu kemudian membayangkan sebuah dunia hadir di sana? Kita baca larik-larik dari penyair Florentine, Guido Cavalcanti:

Noi siàn le triste penne isbigottite
le cesoiuzze e’l coltellin dolente.

Kami adalah duri malang yang kebingungan
Gunting kecil dan pisau pena yang meratap berduka.

Cavalcanti memproyeksikan perasaan pedasnya yang mengerikan terhadap alat-alat penulis (duri dan pisau untuk mengasahnya), instrumen kecil penulisnya. Dalam Six Memos for the Next Millennium, Italo Calvino menulis komentar mencerahkan yang melebar pada larik Cavalcanti, meniptakan sebuah pernyataan tentang pengalaman sastra itu sendiri:

semua “realitas” dan “fantasi” hanya bisa terbentuk dengan cara menulis, di mana ruang luar dan ruang dalam, dunia dan saya, pengalaman dan fantasi, muncul dari materi verbal yang sama. Visi polimorfik mata dan semangat terkandung dalam larik-larik huruf kecil dan huruf besar, titik koma, tanda kurung, halaman-halaman tanda-tanda, saling terkait seperti butiran pasir, yang mewakili menghadirkan banyak sisi dunia sebagai permukaan yang selalu sama dan selalu berbeda, seperti bukit pasir yang berubah oleh angin gurun.

Saya teringat oleh deskripsi Calvino tentang aksara yang membatasi seni: bahwa semua daya tarik dan keanggunan sastra harus dihadirkan dalam larik karakter yang tertulis di halaman.

“Kemudian ada pembacaan kreatif sekaligus penulisan kreatif,” kata Emerson dalam “The American Scholar” dalam sebuah pernyataan yang bisa menjadi kredo bagi pembaca puisi.

Puisi mengingatkan kita pada apa yang terdalam dalam diri kita – ia membangkitkan – juga menghadiahkan – hasrat spiritual. Ia meraih apa yang ia akui. Tapi itu hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi imajinatif pembaca dan bahkan keterlibatan. Penulis melalui kata-kata menciptakan sebuah dunia yang terasa yang hanya bisa dibayangkan dan diinternalisasi oleh pembaca. Menulis adalah perwujudan. Membaca adalah persentuhan. Dalam kata pengantar Obra poetica, Jorge Luis Borges menulis:

Rasa apel (dari Berkeley) terletak pada persentuhan buah dengan langit-langit mulut, bukan pada buah itu sendiri; Dengan cara yang sama (saya katakan) puisi terletak pada pertemuan puisi dan pembaca, tidak pada larik yang tercetak di halaman buku. Apa yang penting adalah tindakan estetika, getar-sukma, emosi yang hampir mewujud, yang datang dari setiap bacaan.

Borges meneruskan hingga menyarankan bahwa puisi mampu menggerakkan keajaibannya dengan memenuhi kebutuhan mendalam kita untuk “memulihkan masa lalu atau masa depan yang lebih baik.”

Puisi bergantung pada mutualitas penulis dan pembaca. Lambang bunyi pada halaman buku saja tidak mencukupi. Borges adalah seorang pendongeng dan dalam kata pengantar untuk buku puisi pertamanya, dia melangkah lebih jauh untuk menyarankan agar puisi melampaui mutualitas, melampaui identifikasi, menjadi identitas itu sendiri:

Jika di halaman-halaman berikut ada beberapa syair yang berhasil, semoga pembaca memaafkan saya karena keberanian untuk menuliskannya lebih dahulu. Kita semua satu; pernik pikiran kita umumnya sama, dan keadaan mempengaruhi kita sehingga merupakan suatu kebetulan bahwa kau adalah pembaca dan aku penulisnya – penulis yang tidak yakin, tapi bersemangat – dari syair-syair saya.

Ini lucu dan brilian dan mungkin tidak jujur, tapi ada juga kebenaran di dalamnya yang berkaitan dengan sensasi membaca yang umum: perasaan menakutkan bahwa kita sedang menyusun apa yang kita hadapi. Dalam The Redress of Poetry Seamus Heaney menyebut “momen yang mengasyikkan dan menggembirakan ini yang berada di jantung setiap bacaan yang mudah diingat, kegembiraan yang tak tersentuh untuk menemukan bahwa segala sesuatu memegang dan menjawab keinginan yang terbangun.” Puisi menciptakan dunia otonomnya sendiri, dan apa yang dunia bertanya dari kita itu juga jawaban dalam diri kita.

Dalam The Poetics of Space, Gaston Bachelard mengatakan bahwa “Puisi menempatkan bahasa dalam situasi gawat.” Ia muncul dalam jarak dekat. Bachelard juga mengutip pernyataan Pierre-Jean Jouve bahwa “Puisi adalah jiwa yang mewujud.” Gagasan tentang perwujudan bentuk ini menunjukkan apa yang disebut Bachelard sebagai “kekuatan tertinggi” dan “martabat manusia.”

Saya menghargai martabat itu dengan mengenali bentuk yang dipilihnya, cara dia menyusun dirinya. Setiap karya seni membutuhkan penanggap untuk melengkapkannya. Karya hanya terealisasikan sebagian tanpa respon imajinatif itu. Jean-Paul Sartre menempatkan masalah ini dengan tegas dalam What Is Literature?:

Tindakan kreatif hanyalah momen yang tidak lengkap dan abstrak dalam produksi sebuah karya. Jika si penulis ada dengan keberadaannya sendiri, dia bisa menulis sebanyak yang dia suka; Karya sebagai objek tidak akan pernah melihat cahaya siang hari dan penyair juga harus meletakkan pena atau keputusasaannya. Tetapi proses penulisan menyiratkan bahwa membaca sebagai korelasi dialektis dan dua tindakan yang saling terkait memerlukan dua agen yang berbeda. Ini adalah usaha bersama penulis dan pembaca yang membawa pada pemandangan benda konkret dan imajiner yang merupakan hasil karya pikiran. Tidak ada seni kecuali untuk dan oleh orang lain.

Pembaca ada di cakrawala puisi itu. Pesan di dalam botol itu sepertinya bisa berbicara kepada penyairnya sendiri, atau kepada Tuhan, atau siapa pun, tapi pembaca adalah orang yang menemukan dan sengaja mendengarnya, yang membuka botolnya dan membiarkan bahasa itu muncul. Pembaca menjadi pendengar, membiarkan suara puisi dan menemukan kembali dirinya sendiri saat dibaca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s