Jalan Menuju Puisi (15): Gelombang yang Senantiasa Kembali

Oleh Edward Hirsch

Sebuah puisi bergerak seperti gelombang, melarutkan yang tertulis padanya, dan kita terlibat bersama arusnya saat ia bergerak dari mata ke telinga.

Pembaruan adalah “titik putaran lirisisme,” seperti yang ditulis oleh penyair Rusia Marina Tsvetaeva, membandingkan unsur liris dengan ombak laut. “Gelombang senantiasa kembali, dan senantiasa kembali sebagai gelombang yang berbeda,” tulisnya dalam esainya “Poets with History and Poets without History”:

Air yang sama – gelombang yang berbeda.
Yang penting  itu adalah gelombang.
Yang penting  gelombang akan kembali.
Yang penting  bahwa ia selalu datang berbeda.
Yang paling penting: seberbeda apapun gelombang kembali, ia akan selalu kembali sebagai gelombang laut.
Apakah gelombang itu? Gerak-gubah dan otot-urat. Seperti puisi liris.

Puisi itu adalah sesuatu yang berotot dan tersusun. Ia bergerak seperti gelombang dan melarutkan literalisasi. Kita berpartisipasi dalam arusnya; kita mengalir dalam keikutsertaannya. Kita menyerahkan diri kita pada ritme, prosesi individualisasi, proses penggabungan.

Ketika Tsvetaeva membandingkan elemen liris dengan ombak laut, saya memikirkan sajak Walt Whitma “Out of the Cradle Endlessly Rocking,” saya memikirkan lirik pantai Wallace Stevens “The Idea of Order at Key West,” yang mengarah ke “The End of March” Elizabeth Bishop, “The Idea” Mark Strand, dan Allen Grossman “The Woman on the Bridge over the Chicago River”.

Saya memikirkan gagasan Heraclitus, yang dikembangkan oleh Jung, bahwa “sangat menyenangkan… membiarkan jiwa menjadi basah. “James Hillman menjelaskan dalam The Dream and Underworld bahwa “Air adalah elemen khusus dari lamunan, elemen gambar reflektif dan arus tak henti-hentinya yang tak terhindarkan. Melembab dalam mimpi mengacu pada kegembiraan jiwa dalam kematian, kegembiraan ketika tenggelam jauh dari yang terikat pada apa yang tertulis”.

Puisi itu bergerak dari mata ke telinga, ke telinga bagian dalam, mata bagian dalam. Ia menyirami kita dalam detail indera kita, ia menggerakkan kita melalui artikulasi sentuhan, rasa, dan aroma. Ia menghidupkan indra kita sampai kita mulai merasakan kewaspadaan seekor hewan terbuka di dalam diri kita. Ia memandu refleks kita. Ia membangkitkan intuisi yang mengalir lebih dalam daripada intelektualitas.

(“Di bawah ketakpercayaan saya / segalanya serentak mengalir / sukacita … Intuisi mengambang dan terus saja ada / Seperti stanza pada buku / atau sisik emas di arus melodius.” – James Merrill, Scripts for the Pageant.) Kita menggunakan indera kita dalam puisi, tapi adalah kesalahan untuk mencoba menggunakan indera kita di mana-mana. Puisi itu menjerumuskan kita dari yang terlihat ke yang tak terlihat, ia menjerumuskan kita ke dalam ranah jiwa, ruh. Ia membawa kita ke dalam wilayah kejam. Goethe mencatat:

Dalam puisi, terutama yang dengan ketaksadaran, sebelum akal dan pemahaman gagal, dan akibatnya, menghasilkan efek sejauh ini melebihi semua konsepsi, selalu ada sesuatu yang bengis-liar (Demoniacal).

(Selasa, 8 Maret 1831)

Kita menemukan dalam puisi bahwa kita berpartisipasi dalam sesuatu yang tidak dapat dijelaskan atau ditangkap oleh akal atau pemahaman saja. Kita berpartisipasi dalam imajinasi. Kita menciptakan ruang untuk fantasi, kita memasuki kehidupan impian kita, waktu mimpi. Kita memperdalam pernapasan kita, perhatian kita terhadap keberadaan, kewaspadaan spiritual kita.

Puisi adalah kekuatan yang menghidupkan apa yang mati. Muncul hidup ketika penyair itu secara ajaib menuliskan sebuah gelombang dan dengan demikian menciptakan hal baru, ketika teks tersebut melumpuhkannya, ketika puisi individu menjadi bagian dari laut besar, ketika botol itu membasahi dan pengembara menemukannya, ketika pembaca terlibat dalam kedalaman yang tak habis-habisnya. . . .

Baca juga:

1.  Ke Jantung Kota
2.   Bersiap Berangkat
3.   Pada Mulanya adalah Relasi
4.   Daya Sihir yang Tersimpan
5.   Keintiman yang Luas, Keluasa yang Intim
6.   Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar
7.   Bahasa Amerika yang Biasa, yang Kucing dan Anjingpun Bisa Membacanya
8.   Pada Kata yang Biasa, Beri Mantra
9.   Metafora Itu Mengatakan Penyair adalah Burung Bulbul
10.  Bhinneka Alam Semesta!
11.  Harmoni Dua Dara, Suara dan Sabda
12.  Tipografi Bersayap
13.  Buaian yang Tak Henti Berayun
14. Bantu Aku, Dewi Inspirasi Surgawi 
15. Gelombang yang Senantiasa Kembali

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s