Yang Menghancurkan dan Membangun Dinding Waktu

Oleh Hasan Aspahani

Apa yang tak dapat kauhancurkan
dengan tangan,
Hancurkan dengan sajak.
Tapi demikian kau
membangun lagi
dindingnya waktu.

(Sitor Situmorang, 1976)

KARENA tak semua bisa dan harus dihancurkan dengan tangan, maka penyair-penyair kita pun menulis sajak.  Sajak-sajak terbaik Indonesia sudah melakukan pekerjaan itu dengan baik. Yang tak bisa diubah dengan tangan memang akhirnya diubah dengan sajak.

Sumpah Pemuda, ujar Sutardji Calzoum Bachri, adalah sajak besar yang mengubah dan membuka jalan ke masa depan Indonesia, bahkan ketika negeri, bangsa, bahasa bernama Indonesia itu belum ada. Puisi Sumpah Pemuda itu membuatnya menjadi ada.

Puisi yang baik tentu saja terutama mengubah dirinya sendiri.  Bergerak ke depan, meluas, mendalam, meninggi.

Amir Hamzah dihormati, dikagumi, disebut sebagai penggerak bahasa baru, dan dijadikan pijakan oleh Chairil Awar untuk melanjutkan pembaharuan puisi Indonesia. Dalam “Hoppla!” (1945),  Chairil menulis:

…Amir dalam “Nyanyi Sunyi” dengan murninya menerakan sajak-sajak yang selain oleh “kemerdekaan penyair” memberi gaya baru pada bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yng pedat dalam seruannya, tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir bisa dikatakan destruktif terhadap bahasa lama tapi sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru!

Dari tangan Amir Hamzah, Chairil mengambil tongkat semangat pembaharuan puisi Indonesia dan berlari kencang ke masa depannya.

Terhadap Chairil Anwar, H.B. Jassin menulis (“Revolusi dalam Bentuk dan Isi”, 1952):

Dalam tahun 1943 kesusteraan Indonesia dikejutkan oleh penyair muda, Chairil Anwar. Dia seperti bom yang meletus di tengah-tengah ketenangan. Sajak-sajaknya baik bentuk maupun isinya revolusioner, membawa perubahan yang radikal sekaligus.

Jassin mengedepankan contoh sajak “Aku” (1943), dan menjelaskan situasi seperti apa yang memungkinkan lahir sajak dan penyair seperti Chairil yang sajaknya “…. seperti dinamo berisi listrik. Ini ialah pemberontakan yang terjadi di dalam jiwa. Ukuran-ukuran lama dilemparkan semua. Kesombongan yang dilarang orang tua-tua mencapai puncaknya. Maut ditantang dan dikesampingkan. Dan ada orang tua mengatakan ia kafir besar yang perlu digantung”.

Terhadap Sapardi Djoko Damono, A. Teeuw menulis dalam “Sastra Indonesia Modern II” (1989):

Sesungguhnya, ia telah menciptakan suatu jenis (genre) sastra baru di dalam kesusasteraan Indonesia, yang belum mempunyai nama yang tepat. Prosa liris rasanya bukan istilah yang cocok untuk itu, karena sebagian besar naskah-naskah tersebut tidak liris sama sekali.

Teeuw merujuk pada sajak-sajak Sapardi dalam buku Mata Pisau (1974) dan Akuarium (1974) yang kelak keduanya digabungkan dalam satu buku.  Sajak-sajak yang disebut Teeuw sebagai “genre sastra baru” itu menunjuk ke sajak-sajak yang ditulis dalam bentuk paragraf ala prosa, bukan larik-larik dalam bait seperti sajak yang dikenal pada umumnya.  Ini bukan semata perkara eksperimen pada bentuk, tapi juga isi.

“Barangkali kita bisa mengambil nama seperti imagogram atau anekdogram, karena walaupun bisa dibaca sebgai cerita-cerita sederhana, terkadang sebagai lelucon-lelucon pendek, kita harus selalu waspada terhadap lompatan-lompatan dan asosiasi-asosiasi sang juru tamsil demi pemahaman yang semestinya,” ujar Teeuw dalam tulisannya. Lalu ulasannya ia tutup dengan:

Dia seorang penyair yang orisinil dan kreatif, dengan percobaan-percobaan pembaruannya yang mengejutkan, namun dengan segala kerendahan hatinya, boleh jadi menjadi petunjuk tentang perkembangan-perkembangannya mendatang.

Terhadap Subagio Sastrowardojo, Sapardi menulis dalam “Suatu Sisi Puisi Subagio Sastrowardojo” (1995):

…perkembangan Subagio sebagai penyair adalah usaha terus-menerus untuk mengungkapkan siapa dirinya dan percintaannya – atau apa hubungannya dengan dunia sekitarnya – dengan cara yang diusahakannya semakin mudah dipahami dan dihayati. Dalam hal ini, tak pelak lagi ia adalah salah seorang penyair yang telah memberikan sumbangan berharga terhadap kekayaan rohani kita.

Sapardi meneguhkan sikapnya sejak awal tulisanya bahwa Subagio adalah seorang penyair dan kritikus penting bagi Indonesia, yang hampir semua tulisannya cenderung berpegang pada teori moral.

Terhadap Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardojo (1923 – 2009) menulis:

…kita harus mengakui kedudukannya yang penting di dalam sejarah sastra Indonesia karena ia merintis pencarian ilham pada sumber-sumber kejiwaan Indonesia dengan tidak meningggalkan tingkat kelembutan ekspresi persajakan yang pernah tercapai di dalam sastra modern kita.

Toto, kata Subagio dalam “Sosok Pribadi dalam Sajak” (1997), telah membuka jalan perkembangan baru yang kemudian ditempuh oleh penyair-penyair yang kemudian, seperti Ajib Rosidi, Rendra, dan Ramadhan K.H.

Bahan-bahan yang menunjukkan gerak pembaharuan puisi kita ini bisa ditambah lebih panjang, bisa dilacak lebih jauh ke hulu, dan bisa diikuti lebih cermat lagi  ke muara yang ternyata tak pernah ada: ia selalu bertambah panjang.  Para penyair kita, dengan pencapaian sajak-sajaknya, ternyata – seperti sajak Sitor yang dikutip di awal tulisan ini – membangun lagi / dindingnya waktu, membangun dinding baru, tantangan baru, persoalan baru, yang berdiri menghadang akibat pencapaian-pencapaian itu sendiri.

Maka, kerja pembaharuan sesungguhnya tak pernah selesai. Tantangan tak akan berkurang.  Waktu yang mendinding itu jika tak kita tembus hanya akan membuat puisi kita mampet, menggenang, tak mengalir lagi. Dinding waktu itu menawarkan banyak kemungkinan baru!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s