Tema: Interaksi Manusia, Tuhan, dan Alam

Oleh Hasan Aspahani

PADA mulanya adalah tema, meskipun ketika menuliskan puisinya sesungguhnya, penyair tak peduli pada itu.  Ia menulis saja. Kecuali jika sedang menyiapkan satu sajak untuk sebuah lomba dengan tema tertentu.

Tema puisi merangkul gagasan utama apa yang ingin ia sampaikan. Semua puisi selalu bisa dikembalikan kepada bidang-bidang yang merupakan hasil dari interaksi dati tiga hal besar yaitu manusia, Tuhan, dan alam.   Interaksi antara manusia dan Tuhan, menghasilkan sajak religius, sajak-sajak yang bicara tentang religiositas. Ia bisa bergerak ke banyak subtema: pengingkaran, ketaatan, keraguan, gugatan, atau ketidak berdayaan.

Interaksi antara manusia dan alam – semesta yang ada di luar dirinya – menghasilkan sajak dengan tema naturalis, sajak-sajak yang bicara tentang hubungan, reaksi, tanggapan, permenungan, manusia terhadap alam.  Terhadap alam manusia bisa selaras membangun harmoni, merasa kecil dan tak berdaya , teringatkan pada Sang Pencipta, atau tertantang untuk menaklukkannya.

Yang paling luas adalah tema sajak yang lahir dari interaksi antarmanusia, satu individu dengan dirinya sendiri, individu dengan individu lain, atau individu dengan masyarakatnya.   Dari sini lahir sajak-sajak eksistensialis, sajak-sajak romantik (berkaitan dengan pertautan perasaaan hati antarindividu), dan sajak-sajak sosial.

Semua sajak bisa diletakkan pada salah satu – atau beberapa – bidang tema-tema itu.  Ada tema yang menonjol tapi terkadang dengan sulit untuk menangkap mana tema utama dalam sebuah sajak, dan mungkin juga tak perlu benar melakukan hal itu. Sajak-sajak Rendra memanfaatkan tema romantik untuk mengantarkan tema sosial yang ingin ia ucapkan.  “Pamflet Cinta” (1978) misalnya:

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi
Memandang wajahmu dari segenap jurusan

Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindukan wajahmu,
dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.

Yang mula-mula terasa adalah Renda ingin bicara soal situasi sosial politik pada tahun-tahun itu. Tahun-tahun ketika sebuah rezim yang penuh harapan mulai refresif. Gerakan politis-moral mahasiswa diredam dengan penangkapan, pengadilan, dan pemenjaraan.  Ia berhasil memotret itu.

Pada tahun 1978 itu, Rendra berusia 43 tahun. Usia dengan kematangan berpikir dan kemampuan yang penuh untuk merenungkan kehidupan sehingga ia dengan cerdas menggabungkan ungkapan cinta dengan opininya tentang situasi sosial politik masyarakatnya.

Di satu saat pada pamfletnya ia bilang, “kampus telah diserbu mobil berlapis baja / Kata-kata telah dilawan dengan senjata. / Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan.”, seraya pada bagian lain ia mengatakan,  “harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu. / Aku tertawa, Ma! // Angin menyapu rambutku. / Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi. Atau di bagian lain, “Aku jadi bego, Ma!/ Yaaaaah, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih. / Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku, dan sedih karena kita sering berpisah.

Jadi ini sajak temanya apa? Rendra memberi kita sajak yang menunjukkan kemampuan, kelihaianan, dan pencapaiannya menjalin dua tema besar dengan sangat padu: protes sosial dan manisfesto cinta.   Kita ikut marah dan setuju dengan gerutu dan gugatannya, kita juga ikut  bahagia untuk rasa bahagianya karena mencintai dan memiliki seorang kekasih.   Mungkin karena itu ia memberi judul sajaknya ini: Pamflet Cinta, frasa kontradiktif yang juga menarik untuk dibahas.

Sesungguhnya, sekali lagi, ketika menulis atau membaca puisi, kita tak terlalu peduli pada tema.  Ada memang, penyair, atau pembaca yang asyik pada satu tema favorit: reliositas saja, romantik melulu, atau protes sosial belaka.  Itu juga tak salah. Tapi, ktia bisa lihat penyair-penyair hebat kita, yang karyanya telah teruji waktu, mereka merambah ke banyak tema sajak. Dari sajak ke sajak, temanya beraneka, bahkan ada banyak tema yang dengan padu dihadirkan dalam sebuah sajak.  Rendra maestronya. Wiji Thukul juga punya kehebatan sendiri dalam hal ini.  Sekadar menyebut dua nama, tanpa mengecilkan banyak nama besar lainnya.

 


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s