Perihal Membaca Puisi (14): Bantu Aku, Duhai Peri Inspirasi Surgawi

Oleh Edward Hirsch

Darimana asal puisi? Sumber inspirasi banyak, mulai dari yang masuk akal sampai sentuhan kegilaan.

Robert Graves menulis dalam O English Poetry, “Karena itu, dengan menggunakan kata Puisi, yang saya maksud adalah, bagian seni yang terkendali dan tak terkendali, bersama-sama, karena masing-masing tidak berdaya tanpa yang lain.”
Tidak ada yang sepenuhnya memahami hubungan antara kerasukan dan kekriyaan dalam puisi, antara unsur sadar dan tidak sadar, dan penyair memang selalu terobsesi dengan masalah apa yang dapat dan tidak dapat dikendalikan dalam pembuatan seni.

Hal ini terutama memberi petunjuk kepada pembaca yang dengan sadar membawa niat mereka sendiri ke dalam puisi, mekanisme pemindahan dan identifikasi tak sadar mereka sendiri, yang tersublimkan, terproyeksikan, terkondensasikan…

Terkadang penekanannya didasarkan pada alasan sadar, pada aspek penciptaan sadar. Paul Valéry berbicara tentang “une ligne donné” – “larik yang terberikan” – dan menyarankan bahwa segala sesuatu adalah hasil dari bekerja, soal penciptaan. Baudelaire berbicara tentang “persalinan dimana sebuah karya seni menjadi sebuah karya seni.” Dalam esainya “Philosophy of Compotition” tahun 1846, Edgar Allan Poe menekankan metode “trial and error”:

Kebanyakan penulis – penyair pada khususnya – lebih suka memahaminya karena mereka menyukai sejenis kegilaan yang menyenangkan – sebuah intuisi yang luar biasa – dan pasti akan bergidik membiarkan orang mengintip di balik layar, pada pemikiran yang rumit dan kacau – tujuan sebenarnya hanya dicapat pada saat terakhir – pada sekilas gagasan yang tak terhitung banyaknya yang sampai bukan pada saat tinjauan yang menyeluruh telah matang – pada fantasi yang sepenuhnya matang dibuang dalam keputusasaan karena tidak dapat diatur – pada pilihan dan penolakan yang hati-hati – pada erosi dan interpolasi yang menyakitkan – dalam sebuah kata, di roda dan rodagigi – merebut pengalihan adegan – tangga dan jebakan iblis – kulit ayam, cat merah dan bercak hitam, yang, dalam sembilan puluh sembilan kasus dari seratus, merupakan sifat dari sejarah sastra.

Di sini Poe memberikan pilihan yang sangat besar – dan hak istimewa teaterikal – kepada kesadaran yang hakiki dalam proses kreatif.

Tapi ada hal lain. Mungkin benar bahwa penyair hanya diberi satu larik tapi larik itu tetap merupakan hadiah dari alam bawah sadar, firasat, intuisi, dan persepsi. Penyair adalah orang yang sering berpikir dengan perasaan. Ingat Cartesian yang terkenal (“Saya pikir, karena itu saya ada”) dan variasi Paul Valéry yang membuat variasi dari Descartes, “Terkadang saya berpikir; dan terkadang saya” (Analects). Inspirasi ada dalam nafas, dalam diam, dan puisi tidak pernah bisa sepenuhnya diinginkan – seperti yang diketahui Plato. Hal ini sering dihubungkan dengan renjana, maniak, seperti permainan anak-anak, ke alam bawah sadar sendiri. Penyair selalu tahu bahwa mereka mencoba memanggil sesuatu untuk kita yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya. Inilah sentuhan kegilaan yang sangat dibutuhkan Plato, kebebasan yang membuatnya takut. Inilah Socrates dalam dialog Phaedrus:

Ada bentuk ketiga dari kepemilikan atau kegilaan, yang merupakan sumber Muse, dewi inspirasi itu. Ini menangkap jiwa yang lembut dan perawan dan menstimulasinya untuk membangkitkan ekspresi penuh gairah, terutama dalam puisi lirik, yang mengagungkan perbuatan perkasa yang tak terhitung jumlahnya pada zaman kuno sebagai petunjuk yang diturunkan. Tetapi jika ada orang yang datang ke gerbang puisi tanpa kegilaan Muse, yakinkan bahwa keterampilan itu saja akan menjadikannya penyair yang baik, maka apakah dia dan karyanya yang lahir dengan kesadaran tidak akan terbawa oleh puisi tentang kegilaan, dan lihatlah, tempat mereka adalah di suatu tempat yang tidak bisa ditemukan.

Dalam pandangan ini puisi itu berbahaya. Ia terkait erat dengan kegilaan dan tidak sepenuhnya pada dispensasi dari keinginan sadar atau intelektualitas. “Puisi tidak seperti penalaran, sebuah kekuatan untuk diberikan sesuai dengan tekad kehendak,” tulis Shelley dalam pembelaan romantisnya pada puisi:

Seseorang tidak dapat mengatakan, “Saya akan menulis puisi.” Bahkan penyair terbesar pun tidak bisa berkata bergitu karena pikiran dalam penciptaan adalah sebagai batubara yang memudar dengan beberapa pengaruh yang tak terlihat, seperti angin tak tentu arah, membangkitkan kesadaran sesaat.

Siapa pun yang memanggil “Bantu saya, Wahai, Dewi Inspirasi dari Surga,” maka dia menunjukkan ketergantungan pada kekuatan di luar akal. Secara umum, kekuatan sengit yang kadang-kadang muncul melalui karya penyair agung, dari Samuel Johnson sampai Louise Bogan dan J.V. Cunningham, berasal dari arus deras yang terus-menerus ditumbuhkan oleh aktivitas pembuatan sadar.

Penyair visioner menyambut angin kegilaan – saya teringat Rimbaud dan Shelley, dari Hart Crane dan Federico García Lorca – namun sebagian dari kekuatan mereka berasal dari kenyataan bahwa penerangan tiba-tiba adalah yang oleh ahli matematika Henri Poincaré disebut “pernyataan tanda pada kerinduan, karya bawah sadar, “dan bahwa angin dibentuk dengan eksigensi bentuk. Saya selalu menyukai diktum penyair barok Jesuit Tommaso Ceva bahwa puisi adalah “mimpi yang diimpikan dalam nalar pikiran.”

Penyair akan menyebut Dewi Inspirasi itu “Laura” atau “Beatrice”, penyair juga akan menamainya “Mnemosyne” (personifikasi dari kenangan) atau “Clio” (peri Sejarah). Penyair itu akan meminjam gagasan Freud tentang gagasan alam bawah sadar yang “gaib”, tidak sadar, atau -nya Jung, atau Jacques Maritain tentang intuisi kreatif. Penyair yang lebih tua menyarankan penyair yang lebih muda: misteri yang diam. Jadi W.S. Merwin, misalnya, mengingat gurunya John Berryman yang memberinya nasehat di tahun-tahun setelah Perang Dunia Kedua:

ia sarankan aku berdoa pada Muse
berlutut dan berdoa
di sudut sana itu dan dia
katakan lakukan seperti yang kukatakan

Berryman juga mengatakan itu

Kehadiran yang agung
yang memungkinkan segalanya dan mengubahnya
dalam puisi adalah gairah
gairah itu jenius dan ia memuji gerak dan penemuan

Semangat mengubah wujud. Sebuah kekuatan di luar batas sadar diri.

Tidak ada puisi sejati tanpa kriya yang sadar, perhatian yang diserap, konsentrasi mutlak. Tidak ada puisi sejati tanpa penemuan tak sadar. Pembaca juga memasuki hubungan antara aspek seni yang terkontrol dan tak terkendali. Shelley mengatakan bahwa “Puisi menebus pembusukan, kunjungan takdir dalam diri manusia.” Puisi itu adalah jin yang keluar dari botol untuk membebaskan imajinasi pembaca, takdir dalam dirinya. Penulis dan pembaca membuat makna bersama. Penyair yang meminta bantuan dari Muse – sang Peri Inspirasi dari Surga juga melakukannya atas nama pembaca imajinatifnya.

 

Baca juga:
1. Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
2. Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat
3. Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi
4. Perihal Membaca Puisi (4): Daya Sihir yang Tersimpan
5. Perihal Membaca Puisi (5): Keintiman yang Luas, Keluasa yang Intim
6. Perihal Membaca Puisi (6): Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar
7. Perihal Membaca Puisi (7): Bahasa Amerika yang Biasa, yang Kucing dan Anjingpun Bisa Membacanya
8. Perihal Membaca Puisi (8): Pada Kata yang Biasa, Beri Mantra
9. Perihal Membaca Puisi (9): Metafora Itu Mengatakan Penyair adalah Burung Bulbul
10. Perihal Membaca Puisi (10): Bhinneka Alam Semesta!
11. Perihal Membaca Puisi (11): Harmoni Dua Dara, Suara dan Sabda
12. Perihal Membaca Puisi (12): Tipografi Bersayap
13. Perihal Membaca Puisi (13): Buaian yang Tak Henti Berayun

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s