Suasana: Pesimis, Optimis, dan Realistis

Oleh Hasan Aspahani

MARI kita lihat satu puisi sebagai sesuatu yang hidup.  Yaitu ada wujud fisik dan dimensi  batin. Keduanya saling melengkapi. Fisik adalah wadah yang memberi tempat pada kehadiran ruh. Ruh membuat tubuh puisi punya dimensi dan kedalaman.

Secara gampang kita bisa tangkap wujud fisik puisi dari kata-katanya yang menjadi tipografi (bagaimana kata itu ditata), diksi (bagaimana kata itu dipilih), persajakan (bagaimana bunyi kata dalam puisi diatur), bahasa kias atau decorative language (bagaimana kata dipakai menghasilkan gaya bahasa tertentu), pencitraan atau imagery  (bagaimana kata menghadirkan pengalaman inderawi: suara, gambar, bau, gerak) .

Semuanya harusnya diuraikan lebih panjang dan pakai contoh agar lebih mudah dikenali.  Tapi itu nanti di tulisan berikutnya.

Adapun struktur batin puisi  adalah tema (gagasan utama yang diangkat oleh penyair), emosi (perasaan dominan atau kombinasi perasaan yang dibangun oleh penyair dalam sajaknya yang secara umum terbagi atas: bahagia, sedih, takut, marah, terkejut dan jijik),  suasana (sikap penyair menyampaikan gagasan utama puisinya: pesimis, optimis, atau realistis), dan amanat (pesan yang disampaikan oleh penyair kepada pembaca untuk menyelaraskan lagi pandangan dalam hal  benar-salah (logika), baik-buruk (etika), bagus-jelek (estetika).

Mari kita perjelas soal suasana puisi. Satu dulu, dengan contoh.

Sajak berikut ini sengaja keduanya diambil dari Wiji Thukul (1963 –  hilang 1996). Kedua sajak bisa kita bandingkan untuk merasakan dua suasana yang amat berbeda.

Sajak “Puisi Si Buta” bernada pesimis, sementara sajak “Puisi Dua Matahari” sangat optimis.  Kedua sajak ditulis oleh seorang penyair yang sama. Dalam buku Aku Ingin Jadi Peluru (IndonesiaTera, 2000), lalu terbit kembali dengan judul baru Nyanyian Akar Rumput (Gramedia, 2014), kedua sajak itu ada pada segmen yang sama: Darman dan Lain-lain. Artinya, masa penulisan kedua sajak itu tak terpaut lama.

Kedua sajak itu memakata kata sentral yang nyaris sama: matahari, hari, dan pagi.  Satu sajak bernada (nyaris) putus asa, tak berdaya, sementara pada sajak lain terbaca semangat yang meninggi, keberanian, dan penemuan diri.

Bacalah!

Puisi Si Buta

semenjak pagi bangun
mataku terbuka sibuk menyiapkan mimpi
semenjak matahari bangkit sampai hari ini
hidupku tidur dan menguap dan bangkit terkejut
di dalam cermin kulihat tanganku
masih meraih selimut dan
sukmaku tak berkaki
berjalan tak pernah tiba
(di wilayah bebas waktu sukmaku terbanting!)

dalam hening kugapai pedang (tapi tak ada!)
untuk memorak lensa mataku yang dua biji ini
yang selalu terbuka dan menipu

beri-berilah aku ketajaman untuk membutakan mataku
yang dua ini betapapun bagaimana ingin terjaga
sebelum pagi berganti pagi lagi.

Lalu baca ini…

Puisi Dua Matahari

suatu hari aku bertamu ke rumah paman matahari
tidak disuguhi apa-apa malah dia bercerita:
banyak orang telah menjadi manusia
karena pernah kubakar budinya
dan kugosok-gosok hatinya dengan
hikmahku
“aku juga ingin, paman”
paman matahari senyum-senyum dan lantas tinggalkan
aku
dengan cemas aku memburunya
“pergi kemana, paman?”
“katanya ingin jadi manusia..”
lenyaplah kemudian paman matahari

sejak itu aku belajar sendiri hampir putus asa
tapi tidak

suatu fajar pagi paman matahari muncul kembali
“paman aku menemukan lagi satu matahari!”
“benar, nak. itu adalah dirimu sendiri”
sejak itu aku hidup dengan dua matahari:
matahari yang muncup di setiap pagi
dan matahari yang ada di dalam diriku sendiri

Tangkap suasananya. Terasakah bedanya? Belum? Baca lagi…

Sementara itu ada juga puisi yang tak menampakkan sikap apa-apa, alias netral atau realistis saja. Kenapa? Karena memang tidak diperlukan. Kenetralan itu justru menjadi kekuatan puisi tersebut. Contoh yang paling bagus adalah “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari” (1971), puisi Sapardi Djoko Damono:

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari
mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang
memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara
kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di
antara kami yang harus berjalan di depan

Benar-benar tak ada sikap apa-apa, bukan? Dan memang pada sajak ini hal itu tidak diperlukan. Puisi ini memikat karena terasa sangat sederhana saja dan sangat akrab.  Tak ada kata yang aneh, tak ada kalima yang dipoles penuh gincu dan pupur. Imaji gambar dan gerak amat terasa.  Dan karena itu, sajak ini menjadi sangat kuat, menggedor kenyamanan kita terus-menerus, mempertanyakan etika, estetika dan logika kita sebagai pembaca.  Inilah salah satu sajak terbaik dan yang paling disukai oleh penyairnya. Inilah puisi Sapardi yang melanglang buana, yang paling banyak dimuat di antologi internasional.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s