Keramik tanpa Nama dan Kelambu Nestapa

Oleh Hasan Aspahani

MANUSIA adalah makhluk yang mencari atau memberi makna pada benda-benda atau peristiwa yang ada di sekitarnya. Karena itu manusia punya mekanisme mengingat dan melupakan. Kata-kata pertama tercipta atas kehendak itu: memberi makna, mengingat, dan menghindar dari lupa. Kata, dengan demikian, adalah juga makna bagi sesuatu yang dipernamakan olehnya dalam bentuknya yang paling sederhana. Penciptaan kata adalah pemberian nama pada benda atau peristiwa sekaligus juga pemberian makna padanya.

Dalam perjalanannya kemudian kata dan makna itu memisah.  Kata tetap melekat pada apa yang ia tandai, sementara makna menjauh, menciptakan ruang kosong yang cukup lega. Kekosongan pada ruang antara kata dan makna itu yang memungkinkan mekanisme ingat dan lupa bekerja. Sesuatu terlupakan jika jarak antara keduanya sedemikian jauhnya. Upaya mengingat adalah mengembalikan jarak itu sedekat mungkin, bahkan mempersatukannya kembali.

Ruang kosong antara kata dan makna itulah yang bisa diisi oleh apa saja oleh siapa saja sehingga sebuah benda atau kata mempunya makna yang berbeda bagi orang yang berbeda.  Orang-orang bisa punya kenangan tertentu terhadap sebuah benda, apa yang membuat benda itu menjadi punya makna yang berbeda baginya.

Pada ruang kosong itulah sesungguhnya penyair dan pembaca puisi bermain tamasya dengan leluasa.  Penyair menata kata dengan mempertimbangkan ruang kosong yang ada padanya. Kata-kata tidak harus dijejalkan, menjadi mampat, dan padat. Kata-kata dalam puisi ditata dalam jukstaposisi yang mengejutkan tapi wajar belaka, dan pembaca bisa menikmati kejutan itu dan merasa nyaman dengan kewajaran itu.  Bentangannya ada di antara asal tumpuk di satu titik, dan terlalu dipatut-patutkan sehingga terasa dekoratif dan artifisial di ujung titik lain.

Dalam tamasya, puisi mengingatkan berbagai hal yang unik bagi masing-masing pembaca.  Bahkan mungkin membangkitkan semacam asasuah – saya pakai Bahasa Banjar yang berarti “rasanya seperti pernah” – atau deja vu. Itu yang bisa menjelaskan dengan mudah kenapa sajak tentang ibu, cinta, patah hati, rindu, dan hubungan dengan tuhan, begitu mudahnya menyentuh perasaan kita sebagai pembaca, karena kita umumnya punya perbendaharaan ingatan dan pengalaman yang sama tentang tema-tema itu. Kejamakan pengalaman atas tema-tema itu adalah peluang dan tantangan bagi puisi. Ia bisa jatuh menjadi klise atau jika dia dihasilkan lewat sebauh proses kerja keras, kejelian, dan ketekukan, maka ia bisa menjadi sangat istimewa. Puisi yang bagus seakan menjadi nama lain bagi penyairnya, tapi juga seperti menjadi milik orang banyak yang menyukai dan mencintai puisi.  Puisi yang bagus menjadi pengingat dan seakan menjadi penghuni ingatan yang teristimewakan.

Jadi, prosesnya adalah begini: adalah sesuatu yang biasa saja, nyaris sia-sia, mudah terlupakan begitu saja, lalu penyair mencatatkannya dalam sebuah puisi dengan cara yang tidak biasa, lalu sesuatu itu menjadi sangat istimewa.  Itu yang dilakukan Goenawan Mohamad pada sajak “Kwatrin tentang Sebuah Poci” (1973).

Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

Penyair tidak menuntut sesuatu – bahkan kita tak tahu sesuatu itu apa – untuk diistimewakan, ia hanya mempertanyakan, dan itu cukup.  Sesuatu itu, seperti keramik, poci yang sebelumnya adalah tanah liat yang tak sebernilai poci itu tentu saja.  Penyair, seperti pembuat keramik, yaitu ia dengan ilusinya, membentuk tanah liat itu menjadi sesuatu, mungkin itu wadah yang fungsional atau pajangan dekoratif belaka. Apapun dia, sang poci terancam retak, bahkan pecah dan hancur, karena ia memang serapuh itu.  Puisi seperti poci keramik, kita menjaganya seakan-akan hendak membuatnya menjadi abadi.

Menulis puisi seperti menciptakan ruang kosong di sekitar kata. Membaca puisi seperti mengisi kekosongan itu dengan ilusi dan mengingat entah wajah siapa di sana, menemukan atau mempertanyakan apa yang berharga di sana.  Ada sebuah sajak yang sepuluh tahun lebih tua dari kwatrin Goenawan di atas.  Ruslia Marzuki Saria menulis dua bait sajak empar larik, sepasang kwatrin, “Yang Tak Lupa” pada 1963.  Jika di tangan Goenawan puisi menjadi semacam klangenan, perintang waktu kosong agar hidup tak sia-sia, dengan sajaknya itu Rusli menempatkan puisi ada di antara kehidupan, hidup bersama kehidupan. Kugenggam sajak kehidupan.  Tapi keyakinan untuk menggenggam sajak kehidupan itu ternyata tak menyelesaikan persoalan praktis, tak bisa menumpas lapar, bahkan upaya untuk mengerti pun ternyata tak mudah, nanar oleh kata.   Kita masuki sajak itu selengkapnya:

Bagai kelambu nestapa diriku dalamnya
Berharap kepadanya dengan semua bengkalai kerja
Kugenggam sajak kehidupan
Tak bisa tumpas lapar tapi nanar oleh kata

Bila diriku siuman dari pemberontakan
Tidak terkatakan sesal sebab kemalangan
Kudukung di punggung lainnya berceceran
Semua takdir kita yang punya

Di dalam kelambu seharusnya seseorang beristirahat, tidur, mengistirahatkan jasad. Tapi kelambu dalam sajak itu adalah kelambu nestapa dan “sang aku” ada di dalamnya. Ia berharap. Tidur di dalam kelambu itu seperti masuk ke alam bawah sadar dan memberontak pada kesadaran. Keluar dari  alam bawah sadar itu, bangkit menyibak kelambu, apakah itu sebuah pembebasan? Lepas dari kemalangan? Mungkin, tapi selalu ada sesal yang tak terkatakan. Dan demikian itulah takdir yang harus terus kita bawa berjalan, ktia dukung di punggung, berceceran di sepanjang jalan kehidupan.

Sajak Rusli dengan sublim mempertontonkan permainan atau perjuangan antara mengingat dan melupakan. Antara menemukan ruang kosong, membiarkannya, menerimanya, dan ikhtiar untuk mengisinya dengan sesuatu.  Sebagai pembaca kita juga berhak atas keasyikan permainan itu.


 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s