Dengan Lagunya yaitu Seperti Nyanyi

Oleh Hasan Aspahani

ADA ketegangan antara kelisanan dan keberaksaraan. Keduanya sesungguhnya saling bergantung. Aksara menangkap dan menyimpan bunyi. Sebaliknya aksara harus bisa dikembalikan kepada bunyi. Ketegangan itu adalah kelanjutan yang mempertimbangkan mekanisme mengingat dan melupakan.

Pantun pada mulanya lahir dari tradisi lisan. Seorang pemantun yang handal adalah dia yang mahir memetik sampiran dari perbendarahaan ingatannya lalu mengisinya dengan maksud yang hendak ia sampaikan. Dia tidak membuka catatan. Dia tidak merancang pantunnya di atas kertas. Panduannya sederhana saja: ada persamaan bunyi di ujung larik, ada sanjak di sana. Sanjak, lalu menjadi sajak, lalu dipadankan juga dengan rima, persamaan bunyi itu, adalah juga alat bantu untuk mengingat, tapi juga perangkat estetis yang membuat pantun menjadi berbeda dari bahasa biasa.

Sanjak itu juga yang diandalkan oleh penggubah syair. Jika pantun umumnya bersajak ganda, dalam syair sanjaknya tunggal. Semua kata akhir pada empat baris berakhir dengan bunyi yang sama. Syair pada zaman dahulu pada umumnya ditulis, diperbanyak, tapi dalam eksemplar yang sangat terbatas. Syair ditulis untuk dilantunkan, dipertunjukkan. Syair-syair Jawa juga ditulis untuk ditembangkan.

Dalam surat kepada Asisten Residen Von de Wall, 6 Juli 1858, Raja Ali Haji menyarankan agar sahabatnya itu mendengarkan orang membaca syair, bukan sekadar membaca teksnya.

Syahdan jika sahabat hendak bermain2 satu waktu, coba panggil seorang Melayu yang pandai bersyair, suruh baca dengan lagunya yaitu seperti nyanyi, maka lebih terang lagi maknanya. Demikianlah adanya.

Karena menonjolnya sisi kelisanan, maka kata “bersyair” bermakna melantunkan syair, bukan menulis syair.  Bersyair itu berarti, “….suruh baca dengan lagunya yaitu seperti nyanyi,…” Supaya apa? Agar “…lebih terang lagi maknanya.” Benarkah jika serangkai syair dibaca dengan lagunya seperti nyanyi, maka maknanya akan menjadi tertangkap lebih terang?  Bersama suratnya, Raja Ali Haji menyertakan selampir syair “Ikat-Ikatan Dua Belas Puji”.  Serangkai syair berisi ucapan terima kasih kepada Von de Wall.  Rasanya tak ada bagian yang tak saya pahami dalam syair itu. Tak ada makna yang tak bisa saya tangkap.

Saya mencoba membayangkan bagaimana jika syair itu dilantunkan sebagaimana saya pernah melihat orang membaca syair,  dan mungkin seperti itulah yang dimaksud Raja Ali Haji. Saya akan menyukai pembacaan syair itu sebagai sebuah pertunjukan.  Ada suasana sakral yang terbangun bangkit dari syair itu yang tak akan saya temukan jika itu tidak dilantunkan seperti itu.  Ada keindahan rima yang seakan bersahut-sahutan seperti gema.

Rima seakan-akan menjadi penaut antara lisan dan aksara. Pada sajak-sajak kita hari ini, oleh penyair yang baik, rima dimaksimalkan kehadirannya. Tidak hanya rima, banyak unsur-unsur perpuisian yang berkait dengan bunyi, dan tidak hanya di ujung bait adanya, tersedia untuk dimanfaatkan.  Misalnya:

Aliterasi: Pengulangan bunyi konsonan yang sama dalam baris-baris puisi; biasanya pada awal kata/perkataan yang berurutan.

Asonansi: Pengulangan bunyi vokal yang sama pada kata/perkataan yang berurutan dalam baris-baris puisi.

Kedua perangkat puitika itu bisa kita nikmati pada sajak D. Zawawi Imron “Kolam” (1979) ini:

kutunjukkan padamu sebuah kolam
hai, jangan tergesa engkau menyelam!
di situ sedang mekar setangkai kata
yang para pendeta tak tahu maknanya

dari manakah seekor capung yang biru itu?
ia datang tanpa salam dan pergi tanpa pamitan
tapi ekornya
jelas menuding pusat kehidupan

ketika langit jadi gulita
senandung malam makin mendasar
dari kolam itu tumbuhlah keikhlasan
mengajarkan sujud yang paling hunjam

Terhadap sebuah sajak kita mula-mula harus percaya inilah versi terbaik yang akhirnya memuaskan penyairnya, setelah ia menggubah dan mengubah di sana-sini, menukar dan menakar kekuatan kata, memilih dan memilah gramatika. Maka sajak di atas harus kita terima sebagai bentuk akhir yang terbaik yang diyakini penyairnya. Banyak hal yang memikat pada sajak di atas, tapi kali ini kita perhatikan saja bagaimana aliterasi bunyi gumam “m” terasa dominan dari awal hingga bait akhir dan suasana apa yang terasa.  Juga beberapa asonansi vokal “u” dan “a” yang salingtimpa, salingsambung, susul menyusul.

Kesadaran akan bunyi itu penting. Penyair yang jeli, seperti Zawawi dengan sajaknya di atas, akan memainkan itu dengan asyik dan wajar. Memang kewajaran itulah yang harus dijaga. Belum itu yang ia  kejar, tapi sepanjang ia bisa memanfaatkannya untuk menambah kesyahduan atau kemerduan bunyi dalam sajaknya, maka ia tak ragu merangkulnya. Sedap! Sedap dibaca, sedap juga ketik dilantunkan.

Pengaturan bunyi pada sajak-sajak kita hari ini lebih pada kepentingan memperkuat bangunan imaji, auditory imagery, tak lagi untuk  kemudahan dan kebutuhan untuk mengingat atau menghafal.  Meskipun sajak dengan tata bunyi yang sedap memang mudah sekali melekat dalam ingatan. Tapi tentu saja unsur suara tidak bekerja sendiri membangun kekuatan puisi.

Iklan

Satu pemikiran pada “Dengan Lagunya yaitu Seperti Nyanyi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s