Perihal Membaca Puisi (13): Buaian yang Tak Henti Berayun

Oleh Edward Hirsch

Ritme adalah bentuk yang dipotong oleh waktu, kombinasi suku kata bertekanan dan tidak bertekanan yang menciptakan perasaan penuh dan mengalir, kejutan dan keniscayaan.

Puisi menyapa pendengar yang tak terlihat, penonton yang tak terlihat. Hal itu terjadi demikian karena dengan retorika ‘pesan di dalam botol’ sepertinya hanya berbicara kepada penyair itu sendiri, atau kepada sebentang kesunyian, seorang teman, seorang kekasih, sebuah abstraksi, objek di alam…  Seperti berbicara kepada Tuhan atau tidak kepada siapa pun.

Retorika ikut bermain di sini, kehadiran radikal, irama kata-kata yang menciptakan sensasi mendalam pada pembaca. Irama akan mengangkat puisi itu dari halaman, akan menyihir suara bahasa, menghipnotis kata-kata itu menjadi ungkapan yang mudah diingat.

Ritme menciptakan pola kerinduan dan harapan, keberulangan dan perbedaan. Hal ini terkait dengan denyut nadinya, detak jantung, cara kita bernafas. Membawa kita ke dalam diri kita; Itu membawa kita keluar dari diri kita sendiri. Ini membedakan kita; mempersatukan kita dengan kosmos.

Ritme adalah bentuk yang dipotong menjadi waktu, seperti kata Ezra Pound di “ABC of Reading”. Ini adalah kombinasi dalam bahasa Inggris suku kata yang menekankan dan tidak bertekstur yang menciptakan perasaan kepenuhan dan arus, kejutan dan keniscayaan.

Ritme adalah tentang keberulangan dan perubahan. Ini adalah cara puisi untuk mengisi kedalaman, menyentuh ketakterdugaan. Ini adalah samudera. Saya setuju dengan Robert Graves yang mengatakan bahwa ada ritme emosi yang mengkondisikan ritme musikal, penyangga dan pembuai mental yang datang kepada kita melalui kesan inderawi kita. Ini adalah emosi – ritme emosi – yang menentukan tekstur suara.

Saya suka merasakan hanyutnya laut, irama liturgi dari stanza pertama Whitman “Out of the Cradle tanpa henti Rocking.” Ini adalah satu kalimat dan dua puluh dua baris. Sajak ini selalu berhasil menyeret perasaan saya.

Dari buaian yang tanpa henti berayun,
Dari tenggorokan burung yang mengejek, melodi berulang kembali,
Dari tengah malam bulan kesembilan,
Pada pasir steril selepas pesisir, ketika bocah meninggalkan ranjangnya mengembara sendirian, tak bertopi, bertelanjang kaki,
Turun dari pancuran lingkar bulan itu,
Dari permainan mistik bayangan melilit dan memutar, yang seakan hidup,
Dari potongan buah blackberry dan buah berduri ,
Dari kenangan burung yang meneriakiku,
Dari kenangan sedih saudaramu, dari kebangkitan dan pertaruhan yang kudengar,
Dari bawah bulan setengah kuning yang terlambat terbit, sembab bagai air mata,
Dari catatan awal kerinduan dan cinta dalam kabut itu,
Dari seribu tanggapan hatiku tidak pernah menyerah,
Dari banyak sekali kata-kata,
Dari kata yang lebih kuat dan lebih nikmat dari apapun,
Dari seperti mereka datang kembali ke tempat itu,
Sebagai kawanan, berkicau, meninggi, atau melintas di atas kepala,
Memikul kemari, lalu semua menghindariku, terburu-buru,
Seorang lelaki, namun dengan air mata seorang bocah lagi,
Melontarkan diriku ke hampar pasir, menentang ombak,
Aku, pelantun rasa sakit dan kegembiraan, penaut yang kini dan kemudian,
Mengambil semua petunjuk, menggunakannya, tapi dengan cepat melompat melampaui mereka,
Sebuah kenangan berlagu.

Kekuatan mantra pada sajak ini hebat sekali karena pengulangan menghanyutkan pikiran terbawa ke dalam lamunan. Menurut saya, Whitman menciptakan ritme unik dari ingatan tunggal yang muncul dari kedalaman pikiran, dari ombak laut dan ayunan buaian, dari semua sensasi ingatan bayi yang belum bisa membedakan apa-apa, dari berbagai kenangan masa kecil, dari semua kemungkinan pengalaman, peristiwa formatif seorang anak laki-laki meninggalkan kenyamanan tempat tidurnya dan berjalan di pantai saja, bergerak “keluar”, “lebih dari”, “turun”, “naik”, “dari”, bertukar keamanan di dalam rumah dengan bahaya di luar rumah, menghadapi kerinduannya sendiri yang samar dan kekosongan yang kabur, mencampur air mata dan semburan garamnya sendiri, mendengarkan burung-burung, memahami bahasa-panggilan seekor burung. Dia berjalan di tepi pantai di ujung dunia, ujung yang tak dikenal. Dia telah memasuki ruang angkasa yang disebut Emerson sebagai “I and the Abyss”, ruang seorang Amerika yang sumblim.

Di wilayah ini: dari semua kata-kata potensial, kata-kata ini saja; dari semua kenangan tersimpan, kenangan ini saja. Ini adalah irama yang muncul sendiri yang menciptakan sensasi Proustian sebagai tempat sekaligus, Seorang lelaki, namun dengan air mata seorang bocah lagi, / Melontarkan diriku ke hampar pasir, menentang ombak”.

Melalui ritme retoris Whitman menciptakan larik-larik yang mendesak memori dasar yang dipicu dan lebih jauh dikeluarkan. Dia memisahkan diri dan bergerak mulus antara orang ketiga dan orang pertama. Dan seperti burung yang meneriakinya (“Dari kenangan burung yang meneriakiku”) maka dia membacakannya untuk kita (“Aku, pelantun rasa sakit dan kegembiraan”). Ini adalah puisi tentang renjana yang puitis.

Dalam sajak disebutkan bahwa Whitman membangun perintah untuk diri sendiri, “sebuah kenangan berlagu.” Dia mengenang kenangan dalam nyanyian. Ada unsur lagu pengantar tidur dalam puisi ini, gerak ombak yang membuai, suara menghibur laut. Tapi ini adalah lagu pengantar tidur yang melukai (seperti yang dikatakan García Lorca tentang lagu pengantar tidur Spanyol), sebuah lagu nyenyak dari kesedihan yang meresapi alam semesta itu sendiri, sebuah lagu pengantar tidur yang bergerak dari nyanyian hingga bernyanyi.

Paul Vallery mengambil bagian dari prosa ke syair, dari ucapan ke lagu, dari berjalan ke menari, “momen yang sekaligus tindakan dan mimpi”.  Whitman menciptakan momen seperti itu di sini. Dia akan memancarkan pesona di luar rasa sakit dan kegembiraan, dia  menjadi dukun puitis yang mengarang kenang-kenangan itu bagi kita, yang secara ajaib memanggil pengalaman di dalam diri kita.


Baca juga:
1. Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
2. Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat
3. Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi
4. Perihal Membaca Puisi (4): Daya Sihir yang Tersimpan
5. Perihal Membaca Puisi (5): Keintiman yang Luas, Keluasa yang Intim
6. Perihal Membaca Puisi (6): Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar
7. Perihal Membaca Puisi (7): Bahasa Amerika yang Biasa, yang Kucing dan Anjingpun Bisa Membacanya
8. Perihal Membaca Puisi (8): Pada Kata yang Biasa, Beri Mantra
9. Perihal Membaca Puisi (9): Metafora Itu Mengatakan Penyair adalah Burung Bulbul
10. Perihal Membaca Puisi (10): Bhinneka Alam Semesta!
11. Perihal Membaca Puisi (11): Harmoni Dua Dara, Suara dan Sabda
12. Perihal Membaca Puisi (12): Tipografi Bersayap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s