Kekuatan dan Kerajaan Kata-Kata

Oleh Hasan Aspahani

APAKAH yang jelas dalam kehidupan kita manusia ini? Adakah yang pasti di dunia ini? Tuhan hanya mengurus hal-hal besar dan bahasa tak termasuk sebagai hal besar itu. Tuhan membuat mahasistem untuk memastikan dunia bergerak pada manzilah masing-masing. Lalu, manusia Ia bebaskan untuk menjalani hidup di dunia yang serba mungkin.

Bahasa adalah ikhtiar manusia untuk merangkul keserbamungkinan itu. Ikhtiar yang terus-menerus. Bahasa-bahasa tumbuh, meluas, saling memberi dan mengambil pengaruh. Bahasa-bahasa hidup dan mati.

Kenapa Tuhan tidak menciptakan satu bahasa saja untuk semua manusia? Karena Tuhan tak perlu bahasa, sebagaimana bahasa manusia dan sebagaimana manusia membutuhkan bahasa. Tuhan percaya manusia bisa menciptakan bahasa sendiri.

Memang, kitab suci ditulis dalam bahasa manusia. Wahyu disampaikan oleh malaikat, sang perantara. Malaikat bicara kepada Nabi dalam bahasa manusia, bahasa umat kepada siapa Nabi itu diutus. Tapi, dengan bahasa apakah Tuhan bicara kepada malaikat? Kita tidak tahu, tapi pasti itu bukan bahasa manusia.

Jika yang dikejar oleh bahasa adalah terbangunnya pemahaman, maka bahasa tak pernah sempurna menjalankan tugas itu. Bahasa tak pernah sempurna, karena itu ia terus-menerus diperbaiki dan memperbaiki dirinya.

Mari kita lihat bagaimana bahasa bekerja. Kalau ada yang menyebut “pohon”, maka kita yang mendengar segera membayangkan “pohon” yang ter-satu-model-kan, sebuah konsep “pohon”, dalam pikiran kita masing-masing. Padahal ada ribuan jenis pohon yang tak sama, dan rasanya tak mungkin diwakili oleh hanya satu model. Pohon kelapa sangat berbeda dengan pohon beringin.

Mula-mula bahasa berambisi meringkus beragam jenis pohon itu ke dalam satu model yang sama. Upaya itu tak sepenuhnya berhasil, tapi cukup, dan bahasa berfungsi. Pohon  dalam kepala orang Inggris pasti berbeda dengan pohon yang ada dalam kepala orang Indonesia. Ketika kata “pohon” itu dipakai, diucapkan, maka konsep “pohon” itu dikembalikan pada kenyataan bahwa ada banyak jenis pohon yang sesungguhnya tak terwakili dengan satu jenis model itu.

Puisi berikhtiar meneguhkan kata, satu model yang disepakati bersama itu, seraya mengingatkan keberagaman kenyataan yang diwakili oleh sebuah kata itu. Bahasa, rumah bersama itu, tumbuh menjadi sangat besar. Bahasa menjadi kerajaan kata-kata, sebagaimana disebutkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam “La Noche de Las Palabras” (1997).

Sampailah kami pada kerajaan kata-kata
Jika kami membilang ayah
Ia juga ayah kata-kata
Jika kami menyebut hari
Juga harinya kata-kata
Jika kami mengucap diri
Pastilah juga diri kata-kata

Kata “ayah”, “hari”, “diri” yang disebutkan oleh penyair (sebagai zikir, sebagai ikhtiar untuk menyebut dan mengingat: Kami para penyair / meneruskan zikir kami / — palabras palabras palabras palabras / — kata kata kata kata –  “La Noche…”) adalah “ayah”, “diri”, “hari” yang kata itu. Bukan mereka yang lain. Begitulah penyair dengan puisinya meneguhkan satu model kata itu. Tapi di kepala pembaca, kata itu tercampak lagi kepada kemungkinan ia diterima dengan keberagamannya.

Maka, ketika menulis dan membaca puisi, penyair dan pembaca puisi berada dalam perjalanan untuk sampai ke kerajaan kata-kata itu, mungkin dari arah yang berbeda. Atau bahkan ia telah sampai dan menjadi penghuni kerajaan kata-kata itu.

Puisi adalah jalan untuk meneguhkan kekuatan kata-kata itu. Pujangga Raja Ali Haji, dalam mukaddimah  “Bustan al Katibin” (1851) secara tak langsung menegaskan hal itu:

Segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam
Adapun pekerjaan kalam itu tiada boleh dibuat dengan pedang
Dan beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus
Dengan segores kalam jadi tersarung

Kalam adalah pena. Pekerjaan kalam adalah menulis. Yang ditulis tentu saja adalah kata. Kata, bahasa, tulisan, bisa menggantikan pekerjaan untuk menyelesaikan persoalan yang dengan cara lain – cara yang berbahaya – hendak diselesaikan dengan pedang, dengan perang. Raja Ali Haji membicarakan kata dalam arti luas, tapi ia percaya pada kekuatan kata, tenaga kata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s