Perihal Membaca Puisi (11): Harmoni Dua Dara, Suara dan Sabda

Oleh Edward Hirsch

Puisi lirik pada mulanya digubah sebagai karya untuk dipanggungkan, dinyanyikan atau dibacakan dengan lantang. Seiring waktu, puisi lirik berubah menjadi karya yang hadir sebagi teks di halaman buku, dan pembaca memvisualkannya dalam imajinasi.

Puisi lirik memikat indera telinga.  Dulu, hingga pada suatu waktu, lirik sebagai puisi   bergantung pada musik untuk mencapai efektivitas penuhnya. b Kata lirik berasal dari bahasa Yunani lyra, atau “alat musik.”

Orang-orang Yunani berbicara tentang lirik sebagai lagu, “puisi dinyanyikan.” Unsur musik sangat intrinsik terhadap puisi sehingga lirik tidak pernah sepenuhnya melupakan asal-usulnya dalam ekspresi musik — dalam koor, nyanyian, resitasi dengan iringan musik.

Penyair dulu adalah seorang penampil, seorang trubadur. Di zaman Renaisans, lirik tetap dikaitkan dengan lyra dan lute. Ingatlah bagaimana Milton mempetemukan persilangan puisi dan musik dalam sajaknya “At a Solemn Musick”:

Sejoli Siren yang terberkati, janji sukacita Surgawi,
Lahir dari langit, harmoni dua dara, Suara dan Sabda,
Menyatukan suara ilahimu, menyeruak tenaga-padu

Dari sembilan Siren langit yang ditugaskan ke sembilan bidang alam semesta, Milton   memilih dua di antaranya – Polyhymnia, sumber inspirasi lagu suci, dan Erato, pemberi ilham puisi lirik – dan meminta mereka untuk bergabung bersama.

Sebelum abad kedelapan belas, para penulis atau kritikus tampaknya membuat sedikit perbedaan, tidak terlalu jelas, antara lirik melodis, seperti kalimat Campion (“Siapa pun yang memimpikan sebuah puisi di mana bahasa mulai menyerupai musik, pikirkan tentang dia,” tulis Charles Simic) atau lagu-lagunya drama Shakespeare, dan lirik nonmusikal yang tertulis, seperti soneta Shakespeare atau puisi cinta Donne.

Namun selama era Renaisans, para penulis Inggris mulai menulis lirik untuk pembaca, ketimbang menyusunnya untuk pertunjukan musik. Mereka mulai menyusun puisi mereka ke media visual.  Ruang untuk menulis sebagai tulisan, karena puisi itu menjadi sesuatu yang bisa dibaca, dibuka,  sebuah puisi tertulis, memiliki dimensi spasial, tidak seperti bahasa lisan. Puisi menjadi objek fisik di halaman buku.  Ketika dibaca, puisi memancing indera pendengaran, untuk masuk menjemput pengalaman unik.

Sebagaimana gagasan individu muncul selama Renaisans, begitu pula puisi lirik mengambil unsur segar untuk mengungkapkan kedirian yang baru ditemukan. Lirik menjadi instrumen yang lebih dalam. Kemudian, dimensi keelokan itu akan mulai terasa seperti puisi lirik itu sendiri. Sejak itu beberapa puisi mulai mencapai kondisi sebagai karya dengan unsur musikal.


Baca juga:
1. Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
2. Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat
3. Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi
4. Perihal Membaca Puisi (4): Daya Sihir yang Tersimpan
5. Perihal Membaca Puisi (5): Keintiman yang Luas, Keluasa yang Intim
6. Perihal Membaca Puisi (6): Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar
7. Perihal Membaca Puisi (7): Bahasa Amerika yang Biasa, yang Kucing dan Anjingpun Bisa Membacanya
8. Perihal Membaca Puisi (8): Pada Kata yang Biasa, Beri Mantra
9. Perihal Membaca Puisi (9): Metafora Itu Mengatakan Penyair adalah Burung Bulbul
10. Perihal Membaca Puisi (10): Bhinneka Alam Semesta!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s