Pada Mulanya adalah Merasakan

 

Oleh Hasan Aspahani

BAYANGKAN engkau adalah manusia pertama di dunia. Sendirian saja. Kau haus. Kau tahu kau harus minum. Kau tahu kau harus menemukan air. Kau tahu ada sungai kecil di dekatmu lalu kau menuju ke sana. Di sungai itu kau minum. Hausmu hilang.

Lihatlah, ketika sendirian seperti itu kau tak perlu bahasa.  Kau tak berteriak atau berbisik, “aku haus!”  Tak ada kawan bicara, tak ada yang mendengarkanmu. Adakah makna hidup dan dunia, dengan kehadiranmu sendiri seperti itu? Subagio Sastrowardojo menjawab dengan sajak yang sinis (“Adam”, 1992), tapi cukup bagi kita untuk membayang situasinya:

Karena terkutuk
manusia pertama yang terdampar di pantai
matanya buta

Dinding mega memagari cakrawala
Dunianya adalah kekosongan tanpa makna.

Kosong, tak ada makna. Mungkin kau juga tak bicara dengan dirimu sendiri. Hanya tubuhmu yang merasakan bahwa kau perlu air untuk minum. Pikiranmu menegaskan kau haus seperti yang dirasakan tubuhmu. Rasa haus itu belum diberi nama. Kata “haus” itu belum ada. Tapi kau tahu kau haus, dan kau tahu harus melakukan apa karena rasa hausmu itu.

Tubuhmu bicara dengan caranya sendiri agar kau mempertahankan eksistensimu, keberadaanmu. Bisakah kau tak peduli pada rasa haus itu? Bisa saja. Kau mungkin mengabaikannya, kau lawan nalurimu untuk menemukan air. Kau akhirnya mati karena dehidrasi.

Bayangkan sekarang kau berdua. Perempuan dan lelaki. Versi lain dari Adam dan Hawa. Mula-mula kau tahu apa yang  masing-masing kalian mau. Semacam naluri untuk bisa lekas memahami.  Batin kalian saling bicara tanpa isyarat dan kata. Semuanya sederhana, jelas dan jernih, terkatakan tanpa kata. Bayangkan bait Chairil Anwar dalam “Rumahku” (1943):

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Semuanya tampak, semuanya terpahami. Puisi (“unggun-timbun sajak”) itu mendahului bahasa, bahkan ketika bahasa itu belum ada.

Bahasa adalah rumah yang didiami bersama. Kita ada di dalam bahasa itu untuk saling memahami. Bahasa adalah rumah yang kita bangun karena kita memerlukannya. Tuhan tidak memberi kita bahasa di dunia. Kalian lupa dulu di surga berbicara – dengan Tuhan – dengan bahasa apa. Bukankah Tuhan tahu segala apa yang bahkan ketika itu masih ada dalam pikiran kalian?

Lalu kau, Hawa, mengandung anak pertama. Adam mulai tak memahamimu. Kau haus, kau tahu di mana sungai tapi kau tak bisa kesana. Kau meminta tolong pada Adam untuk membantumu mengambil dan membawakan air untukmu. Mungkin kau memberi isyarat kepadanya. Dengan gerakan tangan, goyangan tubuh atau ekspresi muka. Adam mengerti dan mengambilkan air untukmu.

Bayangkan sebagai Hawa, semakin banyak saja hal-ihwal yang harus kau kerjasamakan dengan Adam. Bahasa batin tak lagi memadai. Bahasa isyarat dengan gerak tangan dan tubuh tak cukup produktif menghasilkan kode-kode yang bisa sama-sama disepakati dengan mudah.

Lalu kalian sadar kalian punya mulut dengan seperangkat organ lain yang ada padanya – lidah, gigi, langit-langit, bibir, tekak, anak tekak, –   yang bisa menghasilkan bunyi yang tak terbatas kemungkinannya. Mula-mula sederhana saja. Bunyi-bunyi itu tercipta menghasilkan apa yang kemudian disebut sebagai “kata”, seiring kebutuhan untuk saling memahami.

Pada mulanya adalah merasakan atau bangkitnya perasaan, lalu lintasan pikiran, lalu kesadaran suara, lalu kebutuhan makna, lalu kesepakatan kata, lalu nun jauh kemudian dirangkum oleh sistem bahasa.

Puisi, nanti akan kita lihat, mengekalkan jejak-jejak proses asali itu dalam dirinya. Penyair (juga pembaca puisi) adalah seorang penilas yang menyadari benar proses lahirnya bahasa itu, seraya sadar benar bahwa ia hidup di masa kini, masa ketika kehidupan tak sesederhana dunia Adam dan Hawa, masa ketika bahasa sudah berjalan jauh meninggalkan titik awal kelahirannya.

Perjalanan napak tilas itu – tidak mudah, tapi sesungguhnya menyenangkan –  meskipun tak selalu berhasil.  Oleh karena itu saya setuju pada Subagio Sastrowardojo yang rasanya telah merumuskan proses itu dengan baik, ketika ia menulis dalam Catatan tentang Simphoni (dalam “Simphoni”, 1957):

Saudara Jassin,

Sajak-sajak adalah suara dari bawahsadar. Aku tak mau bilang tentang suara-suara yang timbul dari roh, untuk menghindarkan kesan yang mengandung pretensi. Aku lebih baik dalam hal ini mempergunakan istilah technis-psychologis: bawahsadar.

Sajak-sajaknya, bagi Subagio, adalah hasil pergulatan untuk merebut kilatan-kilatan kesadaran itu sebelum tenggelam lagi dalam ketaksadaran yang dungu.

Suara bawahsadar itu hanya muncul (dan ditangkap jika kita pembaca) apabila kita sedang dalam keadaan sadar.  Jika kita tak sadar maka itu namanya mengigau. Menceracau.


Ada pendapat? Silakan bersuara di kotak komentar di bawah tulisan ini.

Iklan

2 pemikiran pada “Pada Mulanya adalah Merasakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s