Perihal Membaca Puisi (9): Penyair itu Burung Bulbul, Kata Metafora

 

Oleh Edward Hirsch

Transaksi antara penyair dan pembaca, dua pihak dalam satu realitas, bergantung pada bahasa kiasan. Puisi membangkitkan bahasa yang bergerak melampaui apa yang harfiah dan, akibatnya, cara berpikir juga bergerak melampaui apa yang harfiah.

“Ada banyak hal lain yang saya temukan sendiri tentang puisi,” kata Robert Frost dalam “The Constant Symbol”, namun yang paling utama adalah metafora, yaitu mengucapkankan satu hal dengan makna yang lain, mengatakan satu hal dalam hal yang lain, semacam ketersembunyian yang mengasyikkan.

“Puisi terbuat dari metafora. Ini adalah tabrakan, kolusi, kompresi dari dua hal yang tidak sama: A adalah B. Istilah metafora berasal dari bahasa Latin “metaphora”, yang berasal dari bahasa Yunani “metapherein”, yang berarti “mentransfer,” dan memang, sebuah metafora mentransfer konotasi atau elemen dari satu hal (atau gagasan) ke hal yang lain.

Ini adalah sebuah transfer energi, cara interpenetrasi, persoalan identitas dan perbedaan. Masing-masing proposisi tentang puisi ini bergantung pada sebuah metafora: puisi itu adalah kapsul tempat kita membungkus rahasia yang bisa kita tebak (William Carlos Williams). Sebuah puisi adalah guci yang ditempa sempurna (Cleanth Brooks), sebuah ikon verbal (W. K. Wimsatt). Puisi adalah jalan (A. R. Ammons); Sebuah puisi adalah sebuah meteor (Wallace Stevens). Sebuah puisi bisa disebut pseudoperson. Seperti orang puisi itu unik dan menemui pembaca orang per orang (W. H. Auden). Puisi adalah sebuah tangan, kait, doa. Puisi adalah ruh yang bertindak.

Saat Paul Celan menulis, “Sebuah puisi. . . Bisa jadi pesan dalam botol, ” tidak berpikir secara harfiah bahwa dia akan menjatuhkan puisinya ke sungai Seine (meskipun dia menuliskannya dari Paris) dan seseorang mungkin menemukannya mengambang ke darat di tepi Sungai Chicago ( Meskipun saya tinggal di Chicago saat pertama kali membacanya). Lalu apa yang dia maksud?

Bahasa puisi, kata Shelley dalam bukunya Defense of Poetry, “…sangat metaforis; Artinya, ia menandai keadaan hal-ihwal sebelum ada hubungan yang tidak terpahami dan melanggengkan kekhawatiran mereka.”

Shelley menyarankan agar penyair menciptakan hubungan antara hal-hal yang sebelumnya tidak dikenal, dan metafora baru menciptakan pemikiran baru dan dengan demikian merevitalisasi bahasa.

Dalam buku bagusnya Poetic Diction, Owen Barfield mengatakan bahwa ia ingin mengubah satu detail dalam frase Shelley, untuk mengubah “sebelum hubungan yang tidak terpahami” menjadi “hubungan yang terlupakan.” Itu karena puisi membawa kembali pengetahuan arkais, sebuah cara berpikir kuno dan sangat metaforis yang sekarang sebagian besar nyaris hilang. Penyair, dengan menciptakan sesuatu yang baru, juga cenderung “memulihkan sesuatu yang tua itu.”

Puisi bahasa Inggris tertua, misalnya Anglo-Saxon Beowulf dan puisi yang ditulis dalam bahasa Jerman kuno lainnya, memiliki sejumlah peranti puisika figuratif yang memungkinkan penyair untuk menggambarkan sesuatu secara tidak langsung, tanpa menyebut sesuatu itu, dan dengan begitu mengajak pendengar untuk menghadirkannya secara imajinatif.

Yang paling luas dikenal adalah apa yang disebut kenning, yaitu perangkat gaya dan dapat didefinisikan sebagai frase dua kata yang menggambarkan suatu objek melalui metafora. Misalnya, frase dua kata “jalan paus” mewakili “laut”.

Kata “ken”, yang berarti “tahu”, masih digunakan dalam dialek Skotlandia, dan memang bahasa kiasan seperti itu adalah cara untuk mengetahui.

Yang terutama menarik perhatian saya di sini adalah bagaimana pembaca secara aktif berpartisipasi dalam pembuatan makna melalui metafora, dengan memikirkan melalui hubungan hal-hal yang tidak seperti apa adanya. Bagaimana kita memahami hubungan yang sebelumnya tidak dipahami atau dilupakan ini: dalam ketegangan ironis, dalam korespondensi yang tepat, dalam perpaduan?

Makna tersebut muncul sebagai bagian dari kolaborasi antara penulis dan pembaca. Dari proses interaktif ini muncul tekad sampai sejauh mana metafora bekerja, di mana ia rusak, sampai sejauh mana sebuah puisi bisa menjadi pesan dalam botol, atau mesin yang terbuat dari kata-kata (Williams), atau gangguan inderawi (Rimbaud); Sampai sejauh mana “sebuah buku adalah sepotong kubus pembakaran, kepulan asap nurani – dan tidak ada yang lain” (Boris Pasternak); Sampai sejauh mana, seperti yang ditulis Shelley,

Seorang penyair adalah burung bulbul, hinggap dalam gelap, bernynyi menghibur
Kesunyiannya sendiri dengan siul manis; ada yang menyimak dan terasuki
oleh melodi pemusik yang sembunyi, yang merasa bahwa mereka
tergerak dan terhenyak, tapi tak tahu darimana atau mengapa.

Lagu burung bulbul menjadi metafora untuk menulis puisi di sini, dan mendengarkan burung itu (musik alami) menjadi metafora untuk membacanya. Salah satu tempat metafora Shelley adalah bahwa penyair tersebut “bernyanyi” dalam “kesendirian” tanpa mempertimbangkan bahwa ada yang mendengar dan bahwa penonton – “penyimaknya” – menyukai karya seorang “pemusik yang sembunyi.”

Mereka sebenarnya tidak dapat melihat si pemusik itu karena mereka secara fisik terhapuskan dari satu sama lain. Tapi mereka terbawa masuk ke dalam hubungan visioner yang misterius.

Filsuf Ted Cohen mengemukakan bahwa salah satu poin utama metafora adalah “pencapaian keintiman.” Cohen berpendapat dalam “Metaphor and the Cultivation of Intimacy” bahwa pembuat dan penanggap metafora dibawa ke dalam hubungan yang lebih dalam dengan satu sama lain.

Itu karena pembicara mengeluarkan undangan tersembunyi melalui metafora yang pendengarnya berusaha khusus untuk menerima dan menafsirkannya. “Transaksi semacam itu merupakan pengakuan atas sebuah komunitas,” kata Cohen.

Gagasan ini dengan sempurna menggambarkan bagaimana penyair tersebut memunculkan keterlibatan intelektual dan emotif pembaca dan bagaimana pembaca secara aktif berpartisipasi dalam membuat makna dalam puisi. Melalui pertukaran dinamis dan kreatif, puisi akhirnya melibatkan kita dalam sesuatu yang lebih dalam ketimbang persoalan intelektualitas dan emosi. Dan melalui proses yang terus berlanjut ini pembaca menjadi lebih dalam masuk ke dalam misteri sakral dari sebuah puisi.


Baca juga:
1. Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
2. Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat
3. Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi
4. Perihal Membaca Puisi (4): Daya Sihir yang Tersimpan
5. Perihal Membaca Puisi (5): Keintiman yang Luas, Keluasa yang Intim
6. Perihal Membaca Puisi (6): Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar
7. Perihal Membaca Puisi (7): Bahasa Amerika yang Biasa, yang Kucing dan Anjingpun Bisa Membacanya
8. Perihal Membaca Puisi (8): Pada Kata yang Biasa, Beri Mantra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s