Perihal Membaca Puisi (8): Pada Kata yang Biasa, Beri Mantra

Oleh Edward Hirsch

Media puisi adalah bahasa, milik bersama kita. Bahasa bukan milik orang seorang  tapi bahasa juga milik semua orang. Puisi tidak pernah sepenuhnya kehilangan tautan pada bagaimana bahasa itu digunakan, dijunjung, atau direndahkan.

Kita harus lebih sering berbicara tentang ketepatan puisi, yang mengembalikan kesederhanaan bahasa, yang membuat bahasa hadir dan terlihat lagi. Bahasa adalah media yang tidak murni.  Ucapan itu milik umum dan kata-kata dihasilkan dari kerja manusia yang terus-menerus menyebarkannya, menggunakannya, menghasilkan seribu muara bahasa yang berbeda, kerja berkubang tanah, bukan yang muncul terberi secara alamiah.

Puisi mencatat perubahan dalam bahasa, tapi tidak pernah mereproduksi atau mengikhtisarkan apa yang ditemukannya. Puisi liris medefamiliasi kata-kata, puisi merenggut kata-kata dari kebiasaan, dari konteksnya yang familiar, memberi mantra pada kata-kata.

Seperti yang ditulis oleh penyair Inggris abad ke-18, Christopher Smart, yang dengan bebas menerjemahkan dari “Art of Poetry”-nya Horace:

Adalah luar biasa baiknya
Mengisikan mantra pada kata yang biasa
Menyapamu sebagai kata yang sama sekali baru.

Puisi menyegarkan kembali bahasa, memilah dan membuatnya menjadi baru. (“Tetapi jika sebuah karya menjadi baru, / Maka, nyanyikanlah juga ia dengan lagu barunya,” tulis Smart.)

Ada semacam permainan kata-kata pada mantra di larik Smart yang Horatian itu, seperti mantra suku-suku pedalaman, yaitu tindakan untuk menempatkan Kata dalam susunan berirama tertentu yang dipercaya memiliki potensi magis. Daya magis itu hanya bisa dilepaskan saat mantra itu dinyanyikan dengan nyaring.

Saya ingat bahwa kata Latin “carmen”, yang berarti “lagu” atau “puisi”, telah menarik penyair Inggris sejak Sidney karena kedekatannya dengan kata pesona, dan kenyataannya, dalam teks Latin yang lebih tua juga berarti formula ajaib, mantra dimaksudkan untuk membuat sesuatu terjadi, untuk menyebabkan tindakan (Andrew Welsh, Roots of Lyric). Dan sihir pesona itu hanya efektif bila diucapkan atau dinyanyikan, diresitalkan.

Puisi lirik melepaskan dan mencabut kata-kata dari alir dan arus sehari-hari dan aliran wicara sehari-hari tapi juga membawanya kembali – seraya memukau, mengubah, dan memikat – ke ranah orang yang lain. Seperti yang dikatakan Octavio Paz di The Bow dan the Lyre:

Dua kekuatan yang berlawanan menghuni puisi: pertama, perihal elevasi atau pencerabutan, yang merenggut kata dari bahasa: yang lain adalah gravitasi, yang menariknya kembali. Puisi itu adalah karya cipta asli dan unik, tapi puisi juga pembacaan dan resitasi: partisipasi. Penyair menciptakannya; orang-orang, dengan pembacaan, menciptakannya kembali. Penyair dan pembaca adalah dua momentum dari satu kenyataan.


Baca juga:
1. Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
2. Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat
3. Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi
4. Perihal Membaca Puisi (4): Daya Sihir yang Tersimpan
5. Perihal Membaca Puisi (5): Keintiman yang Luas, Keluasa yang Intim
6. Perihal Membaca Puisi (6): Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar
7. Perihal Membaca Puisi (7): Bahasa Amerika yang Biasa, yang Kucing dan Anjingpun Bisa Membacanya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s