Perihal Membaca Puisi (7): Bahasa Amerika biasa yang Kucing dan Anjing pun Bisa Membacanya

oleh Edward Hirch

PUISI liris berjalan di garis antara berbicara dan bernyanyi. (Dia juga berjalan di antara konvensi puisi dan konvensi tatabahasa). Puisi bukanlah pidato – seni verbal yang  berbeda dari cara orang biasa berbicara – tapi selalu ada dalam hubungan dengan ucapan, dengan kata yang diucapkan.

“Puisi harus menjadi hidup, untuk mempelajari ucapan di tempat itu,” ujar Wallace Stevens dalam puisinya “Of Modern Poetry.” WB Yeats menyebut sebuah puisi “adalah sebuah elaborasi dari irama bicara pada umumnya bersama dan hubungannya dengan perasaan mendalam.” (“Modern Poetry”). W. H. Auden berkata: “Dalam syair berbahasa Inggris, bahkan pada retorika Shakespeare yang paling megah sekalipun, telinga selalu menyadari hubungannya dengan ucapan sehari-hari” (“Writing”).

Saya teringat akan banyak puisi dalam bahasa Amerika – dari Walt Whitman sampai William Carlos Williams (“The Horse Show”), Frank O’Hara (“Having a Coke with You”), dan Gwendolyn Brooks (“We Real Cool”) – yang memberi sensasi seseorang yang berbicara dalam versi yang bertekstur Inggris Amerika, yang menciptakan kesan huruf yang ditulis, seperti yang Marianne dengan senang hati menyebutkannya, “bukan dalam bahasa Spanyol, bukan dalam bahasa Yunani, bukan dalam bahasa Latin, tidak dalam bahasa Inggris, Tetapi versi Amerika biasa yang bahkan kucing dan anjing bisa membacanya!”

Vitalitas linguistik demotik – yang oleh Williams disebut “pidato ibu-ibu Polandia ” – adalah salah satu kesenangan dari proyek orang Amerika dalam dunia puisi.

Ini bagian pembukaan puisi Randall Jarrell “Next Day”:

Beranjak dari Cheer ke Joy, dari Joy ke All,
Aku ambil sebuah keranjang
Dan tambahkan pada padi liarku, dan ayam sayur-ku

Yang habis, yang kurang, yang masuk keranjang,  seperti
kawanan ternak cari makan
bagai aku sendiri yang kuabaikan. Kebijaksanaan, kata William James,

adalah belajar tentang yang harus dilupakan.
Dan aku bijaksana, jika memang itu kebijaksanaan.

Yang terdengar dalam puisi ini adalah suara cerdas dan cerdik seorang ibu rumah tangga pinggiran kota yang tahu bahwa dia telah menjadi tidak terlihat, yang hanya ingin dilihat dan didengar. Apa yang secara khusus menandai puisi itu sebagai konstruksi verbal adalah perlakuan sadar terhadap kata-kata itu sendiri, seperti kata-kata yang berperilaku sesuai dengan larik berirama dan bait yang indah. Ada kata-kata ambigu yang asyik dari merek-merek deterjen (Cheer, Joy, All), permainan dari “ayam” dan “ternak,” cara wanita tersebut merangkum barang-barang di supermarket, bagaimana dia berbalik arah pada kata “kuabaikan” dan dengan sedih mengutip pragmatisme William James gagasan Amerika tentang “kebijaksanaan.” Saya selalu tersentuh oleh cara Jarrell menjiwai suara wanita dalam puisi ini, bagaimana dia menuliskan suara wanita ke dalam puisinya, menangkap realitas seseorang yang luar biasa, di tempat biasa, dan kesunyian sendiri.


Baca juga:
1. Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
2. Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat
3. Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi
4. Perihal Membaca Puisi (4): Daya Sihir yang Tersimpan
5. Perihal Membaca Puisi (5): Keintiman yang Luas, Keluasa yang Intim
6. Perihal Membaca Puisi (6): Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s