Perihal Membaca Puisi (6): Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar

Oleh Edward Hirch

Dari suku kata ke kata ke frase ke kalimat, suara puisi adalah sumber kenikmatan primitifnya.

Saya ingat, saya pernah berjalan melalui sebuah museum di Athena dan menemukan sebuah cangkir bertangkai tinggi dari Yunani kuno yang dengan kata-kata Sappho, “Hanya udara, kata-kata ini, tapi sedap didengar.”

Ungkapan itu tertulis di dalam cangkir, diterjemahkan ke label museum, membuatku kedinginan. Saya berhenti lama untuk minum dalam kenyataan yang aneh bahwa semua keagungan puisi hampir berakhir hanya pada udara dan tidak ada yang lebih, dengan suara kata-kata ini dan tidak ada yang lain, yang tetap lezat dan mempesona untuk didengar.

Larik Sappho (atau larik yang dikaitkan dengannya) juga memiliki kualitas yang berbeda. Ungkapan itu memiliki keanggunan yang cocok untuk ditulis, untuk prasasti di atas cangkir atau di batu. Menulis memperbaiki kepudaran suara, menahannya dari kematian.

Suara kata-kata adalah kenikmatan primitif pertama dalam puisi. Dalam “In Poetry,” Wallace Stevens menegaskan, “Engkau harus mencintai kata-kata, gagasan dan imaji dan irama dengan segala kemampuanmu untuk mencintai sesuatu sepenuhnya” (“Adagia”).

Stevens mencantumkan cinta kata-kata itu sebagai kondisi pertama dari kemampuan untuk mencintai apapun dalam puisi sepenuhnya karena kata-kata itulah yang membuat sesuatu terjadi.

Ada kalanya saya membaca sebuah puisi dan bisa merasakan suku kata menjadi hidup di mulut saya, huruf-huruf tersebut diucapkan dalam suku kata, suku kata menjadi kata kata, kata-kata membentuk frase, ungkapan yang menemukan irama pada larik, dalam larik-larik, dalam bentuk kata-kata yang melintang garis menuju kalimat, menjadi kalimat.

Saya merasakan kata-kata menciptakan ritme, musik, mantra, suasana hati, bentuk, bangun. Saya mendengar kata-kata yang keluar dari halaman ke mulut saya sendiri – saat singga, saat beraksi. Saya menghasilkan – saya menciptakan kembali – kata-kata menjadi mantera, kata-kata terbebaskan dan refleksif. Kata-kata bangkit dari tubuh, keluar dari tubuh. Suatu tindakan bahasa memperhatikan dirinya sendiri. Sebuah tindak pikiran.

Puisi adalah sebuah tindakan melampaui parafrase karena apa yang dikatakan selalu tidak terpisahkan dari cara bagaimana itu dikatakan.

Osip Mandelstam menyarankan bahwa jika sebuah puisi dapat diparafrasekan, maka itu berarti helaiannya belum lagi kusut, puisi itu belum menghabiskan malam.

Kata-kata itu adalah kunjungan (erotis), sarana untuk mencapai tujuan, tapi juga akhir dari dan dari diri mereka sendiri. Penyair itu adalah yang pertama dari semua pekerja bahasa. Pembuat. Pembentuk bahasa.  Terhadap Heinrich Heine, ahli bahasa Edward Sapir menyebutkan dalam bukunya “Language”, sebagai “seseorang yang berada dalam ilusi bahwa alam semesta berbicara dalam bahasa Jerman.”

Terhadap Shakespeare, seseorang mendapat kesan bahwa ia berbicara bahasa Inggris. Ini adalah inti panggilan Orphic dari penyair: untuk membuatnya tampak seolah-olah alam semesta berbicara dan mengungkapkan dirinya melalui bahasa ibunya.


1. Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
2. Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat
3. Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi
4. Perihal Membaca Puisi (4): Daya Sihir yang Tersimpan
5. Perihal Membaca Puisi (5): Keintiman yang Luas, Keluasa yang Intim

Iklan

Satu pemikiran pada “Perihal Membaca Puisi (6): Hanya Udara, Kata-kata Ini, tapi Sedap Didengar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s