Aroma Wangi di Hening Malam

SAJAK yang murni seperti aroma wangi di udara malam yang hening. Mari kita simak sajak ini:

Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus

Pada pembacaan pertama, sajak Amir Hamzah ini terlihat sederhana dan mudah. Kita membacanya sebagai pengulangan dalam empat larik tentang apa itu sunyi. Sunyi itu (adalah) duka, kudus, lupa, dan lampus. Di akhir sajak, kita tiba-tiba seakan dihantam kesunyian. Kita merasa tadi ada makna yang sudah kita tangkap, tapi ternyata, kita keluar dari sajak dengan tangan kosong.

Maka, kita masuk lagi dari ke awal sajak. Menempuh lagi lorong yang kita kira akan pendek dan sama saja. Di ujung lorong, sebelum keluar, kita sadar kita tak tahu apa itu “lampus”. Langkah kita tertahan oleh ketidakmengertian itu.

Bahkan kata “lampus” itu tak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), setidaknya dalam versi daring yang saja cek ketika menulis ini.

Tapi, tunggu sebentar, ada hal lain yang memikat, ujung-ujung larik seperti dua suara dan dua gema yang saling sahut. Gema yang bersaing dengan kesunyian.  Seperti wangi yang mengendap. Tak ada angin yang membawanya sampai ke penghiduan. Kita tak peduli dengan ketidakpahaman kita tadi. Saya sekarang seperti tak ingin keluar dari sajak itu.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s