Perihal Membaca Puisi (4): Daya Sihir yang Tersimpan


Catatan: Puisi menyumpan daya sihir! Sedahsyat itu. Membaca puisi artinya membiarkan diri kita tersihir. Sihir itu bisa mengubah hidup kita. Awas!


 

Oleh Edward Hirsch

Puisi liris berusaha untuk mempesona sang waktu. Ia melintasi batas dan mengecoh deraan kesementaraan. Ia berusaha untuk menantang kematian, mengganggunya, dan menggirangkan kita.

“Lagu-lagu ini tidak dimaksudkan agar Anda paham, tapi kan Anda paham,” tulis John Berryman dalam salah satu lagu terakhirnya Dream Songs: “Lagu-lagu itu hanya dimaksudkan untuk menakut-nakuti & menghibur.”

Penyair tersebut dihasut untuk menciptakan sebuah karya yang bisa mendahului waktu dan mengatasi jarak, yang bisa menjembatani jurang-jurang – juga ngarai – antara orang-orang yang tidak saling kenal satu sama lain.

Puisi bisa bertahan dari perubahan bahasa dan perubahan dalam bahasa, perubahan norma sosial dan adat istiadat, dan kerusakan sejarah.

Apa kata Robert Graves di “The White Goddess”:

Praktik menulis puisi yang benar menyiratkan pikiran sehingga secara ajaib yang selaras dan tersinari sehingga bisa membentuk kata-kata, dengan rantai yang-lebih-dari-kebetulan, menjadi entitas hidup – sebuah puisi yang berjalan sendiri (selama berabad-abad setelah kematian sang penulis, mungkin) mempengaruhi pembaca dengan daya sihir yang tersimpan.

Saya percaya bahwa daya sihir yang tersimpan semacam itu dapat memberi pembaca kapasitas yang setara untuk keajaiban kreatif, respons kreatif terhadap entitas yang hidup. (Graves mengartikan pernyataannya secara harfiah.)

Pembaca melengkapi puisi tersebut, dalam prosesnya membawa ke pengalaman masa lalunya sendiri. Kita telah membaca puisi – maksud saya benar-benar membacanya – ketika kita merasa ditemui dan diubah oleh sebuah puisi, saat kita merasakan getaran seismiknya, suara dari kedalaman kita.

“Tidak ada tempat yang tak melihat engkau,” ujar Rainer Maria Rilke. Ia menulis di ujung kesimpulan yang meluluhlantakkan-bumi, pada puisi “Archaic Torso of Apollo“: “Anda harus mengubah hidup Anda.”


Baca juga:
Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat
Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s