Perihal Membaca Puisi (3): Pada Mulanya adalah Relasi


Catatan: Ini bagian ke-3, dari 16 bagian pada Bab I How to Read a Poem, Edward Hirsch. Aslinya hanya terdiri dari tiga paragraf panjang. Saya menerjemahkannya ke dalam paragraf-paragraf pendek, agar lebih mudah dinikmati dan dimengerti. Saya juga menambahkan sajak W.B. Yeats yang ada dalam kutipan.


Oleh Edward Hirsch

Puisi lirik adalah sebuah komunike khusus antara seorang aku dan seorang kamu. Puisi berbicara jujur dari satu kesendirian ke kesendirian lain; Puisi dimulai dan berakhir dalam keheningan.

Pesan di dalam botol itu bernama puisi liris dan dengan demikian maka itu merupakan bentuk khusus dari sebuah komunike. Ia bicara dari sebuah kesendirian ke kesendirian lain; Ia dimulai dan berakhir dalam keheningan.

Nyatanya, kita tidak sedang bercakap-cakap di tepian jalan. Sebaliknya, sesuatu telah dituliskan; dan sesuatu itu sedang dibaca. Bahasa menjadi tak dikenali lagi, dalam cara berbicara yang mendesak dan aneh ini, secara sadar diri.

Puisi itu telah (diam-diam) dalam perjalanan –  seringkali selama berabad-abad – dan sekarang puisi mengirim isyarat bagi saya justru karena saya bersedia untuk memanggil dan mendengarkannya.

Membaca puisi adalah tindakan timbal balik, dan salah satu tugas besar lirik adalah membawa kita ke hubungan yang benar satu sama lain. Hubungan antara penulis dan pembaca dalam pengertian asalnya masing-masing telah dihapus dan kemudian dimediasi melalui teks, sekumpulan kata-kata. Ini adalah sejenis pertukaran tertentu antara dua orang yang tidak hadir secara fisik satu sama lain.

Puisi lirik adalah bentuk komunikasi yang sangat terkonsentrasi dan penuh gairah antara orang asing – sebuah bentuk wacana sastra yang mendesak, intens, dan meresahkan.

Membaca puisi adalah cara menjalin hubungan – melalui media bahasa – lebih dalam dengan diri sendiri bahkan saat Anda terhubung lebih dalam dengan yang lain. Puisi sampai ke kehidupan rohani kita justru karena secara bersamaan ia menghadiahi kita karunia keintiman dan interioritas, privasi dan partisipasi.

Puisi adalah sebuah penyuaraan, sebuah panggilan keluar, dan puisi lirik ada di suatu tempat  di wilayah – yang tercatat – antara sebuah pidato dan lagu.

Kata-kata itu menunggu untuk disuarakan. Penyair besar selalu mengenali dimensi lisan medium bagi puisi itu. Dalam sejarah manusia, sebagian besar telah menjadi seni lisan. Tetap mempertahankan sisa-sisa kelisanan itu. Tulisan bukan pidato. Puisi adalah prasasti grafis, puisi adalah lambang visual, puisi adalah rangkaian tanda pada halaman.
Meskipun demikian,Aku mengeluarkannya dari mulut penuh udara,” kata W. B. Yeats membual dalam sebuah puisi periode awalnya. Sepertinya, memang begitu. Seperti yang dilakukan setiap penyair.

PICINGKAN kelopak matamu, geraikan rambutmu,
Dan mimpikanlah kejayaan dan kebanggaan mereka;
Mereka bicara menantangmu di mana-mana,
Tapi timbangkan lagu ini dengan kejayaan dan kebanggaan mereka;
Aku mengeluarkannya dari mulut penuh udara,
Anak dari anak mereka akan mengatakan bahwa mereka telah berdusta.

Jadi, begitu juga, yang diciptakan oleh pembaca, atau diciptakan ulang, puisi itu keluar dari mulut penuh udara, mencuat dari hembusan napas.

Ketika saya membaca sebuah puisi, saya akan mendudukkannya kembali, saya membawa kata-kata itu dari halaman buku ke mulut saya sendiri, tubuh saya sendiri.

Saya menjadi penutur dan membiarkan musik verbalnya bergerak melalui diri saya seolah-olah puisi itu adalah sebuah komposisi dan saya adalah instrumentalisnya, pemainnya.

Saya membiarkan detak jantungnya berdebar melalui saya sebagai pengalaman yang diwujudkan, sebagai pengalaman yang tertanam dalam sensualitas suara.
Puisi tersebut menyiratkan mutual partisipasi dalam bahasa, dan bagi saya, bahwa partisipasi yang mistik itu adalah inti dari pertukaran liris tersebut.

Banyak penyair telah menganut gagasan Perjanjian Baru bahwa “Pada mulanya adalah Firman,” tapi saya lebih memilih gagasan Martin Buber dalam I and Thou bahwa “pada mulanya adalah relasi.”

Relasi mendahului firman karena diciptakan oleh manusia. Puisi liris bisa mencari yang sakral tapi melakukannya melalui medium interaksi manusia. Yang sekuler itu bisa dibuat suci melalui tubuh puisi. Saya memahami hubungan antara penyair, puisi, dan pembaca bukan sebagai entitas statis tapi sebagai sebuah perkembangan dinamis. Sebuah ritual sakramental baru tergelar. Sebuah hubungan antara seorang aku dan seorang kamu. Sebuah proses relasional.


Baca juga:
Perihal Membaca Puisi (1): Ke Jantung Kota
Perihal Membaca Puisi (2): Bersiap Berangkat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s